Main Content RSS FeedRecent Articles

Seragam pun Ganti Setiap Hari… »

seragam5485.jpg

KALI ini, mari kita bicara tentang pakaian seragam. Bukan seragam anggota Pramuka, apalagi TNI atau Polri. Juga bukan seragam pemain sepak bola.

Jadi, seragam apa? Tentu saja tentang pakaian seragam para pekerja di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. Mungkin tidak istimewa bagi orang lain, tetapi istimewa untuk keluarga kami, terutama istri saya.

Lilis a.k.a Wulandari, istri saya, memberi seragam bermacam-macam untuk para pekerjanya. Maka, mereka –enam perempuan dan tiga laki-laki—setiap hari berganti pakaian seragam.

seragam4485.jpg

Satu hari, misalnya, mereka mengenakan seragam ala engkoh-engkoh dan tacik-tacik China. Hari lain, memakai seragam lurik khas Solo, Jawa Tengah. Hari lain lagi, berseragam batik. Demikian seterusnya setiap hari, sampai kembali lagi pada hari memakai seragam ala China.

seragam3485.jpg

seragam1485.jpg

Ini memang salah satu cara saya merawat warung makan yang dia kelola lebih dari 20 tahun tersebut. Cara lain, seperti pernah saya ceritakan, adalah melengkapi berbagai sudut dan ruang Warung Selat Mbak Lies dengan ornamen-ornamen yang dia anggap menarik dan rame.

Dalam hal-hal seperti itu, demi kepuasan hati menata warung dan segenap komponen pendukungnya -–termasuk para pekerjanya— tersebut, istri saya bisa sangat cerewet. Dia juga tak segan keluar banyak uang, plus banyak tenaga serta waktu. Termasuk, jika harus pergi ke luar kota, seperti ke Jogjakarta dan Jakarta.

seragam6485.jpg

Untuk mencari seragam lurik, misalnya, dia sempat minta antar saya ke Jogjakarta, sekitar 60 km dari Solo. Namun, karena kala itu ternyata tidak cocok, istri saya batal membeli banyak lurik dari Jogja, dan akhirnya membeli di Pasar Klewer, Solo.

Adapun seragam pakaian ala China, dibeli di Jakarta saat istri saya berlibur sepekan ke rumah orangtuanya, akhir September sampai awal Oktober 2008 lalu. Semangat istri saya membeli dan memilih seragam-seragam tersebut tidak kalah dengan semangatnya sewaktu mencari beberapa ornamen dan pernak-pernik penghias Warung Selat Mbak Lies.

seragam2485.jpg

Lewat Tengah Malam. Selepas Deadline »

kursi-deadline485.jpg

LEWAT tengah malam, selepas deadline, kantor saya baru mulai terasa sepi. Biasanya hanya tinggal dua karyawan pabrik kata-kata di Surabaya, Jawa Timur, ini yang piket sampai pukul 02.00 WIB dini hari; ditambah tiga-empat karyawan lain yang enggan segera pulang karena berbagai alasan.

Lewat tengah malam, beberapa sudut kantor bagian redaksi di lantai dua tampak berantakan. Suasana salah satu sudut, dengan kursi-kursi berserakan, pada Senin (10/11/2008) dini hari, bisa dilihat dalam foto di atas tulisan ini. Namun, selang satu-dua jam kemudian, semua sudut kantor akan rapi dan bersih lagi setelah dirapikan sekaligus dibersihkan oleh petugas bagian kebersihan alias cleaning service.

Selepas deadline, kantor saya memang sepi, dan tak ada lagi yang menyaksikan tayangan televisi di ruang rapat redaksi. Penyebabnya sederhana : pesawat televisi itu —sebagaimana pesawat-pesawat televisi di manapun di Indonesia— tak lagi dapat menerima siaran Astro setelah layanan televisi berlangganan tersebut menghentikan siaran sejak 20 Oktober 2008 lalu.

Lewat tengah malam, selepas deadline, baru kantor saya mulai terasa sepi. Nanti setelah pukul 08.00 WIB, kantor ini akan berdenyut lagi. Kantor yang —dengan segala kekurangan dan kelebihannya— saya anggap nyaman untuk bekerja….

Ada Cinta di Warung Selat… »

 cinta4851.jpg

BENAR. Ada banyak cinta di Warung Selat Mbak Lies di Solo, Jawa Tengah. Antara lain, cinta wanita pemilik warung itu kepada sang suami, dan sebaliknya. Meski hanya bertemu setiap pekan, biasanya hari Kamis —karena sang suami bekerja di Surabaya, Jawa Timur— cinta mereka berdua tak memudar, bahkan semakin hangat dan kuat. Menyiasati pernikahan-jarak-jauh ini, mereka menggunakan berbagai cara untuk menjaga cinta tetap kuat sekaligus hangat, misalnya rutin dan intensif berkomunikasi memakai ponsel.

Mereka Nyoblos Pilgub, Saya Tidak … »

 pilgub485.jpg

HARI Kamis (4/11/2008) pagi, kantor saya di Kota Surabaya sepi meski tidak sedang hari libur. Biasanya, pukul 08.00 WIB kantor sudah ramai orang. Baru sekira pukul 11.00 WIB kantor mulai berdenyut, para karyawan berdatangan.

Apa pasal? Penyebabnya adalah Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2008 putaran dua, yang diikuti dua pasangan calon. Semua karyawan diizinkan oleh pihak manajemen datang jam 11.00 WIB lantaran sebelum ngantor mereka memberikan suara masing-masing, memilih pasangan calon gubernur-wakil gubernur yang mereka sukai.

Saya tidak. Ketika banyak orang antre nyoblos, saya berkantor seperti biasa. Salah satu penyebabnya adalah, meski saya bekerja di Surabaya tetapi saya ber-KTP Kota Solo, Jateng. [Surabaya memang hanya tempat saya bekerja; sedangkan tempat tinggal adalah Solo. (Kota mana lagi yang paling nyaman untuk dihuni bersama keluarga selain Solo?!)].

Tetapi KTP, juga tempat tinggal, hanyalah alasan administratif saya saja untuk tidak nyoblos. Alasan utama saya tak nyoblos adalah prinsip orang Kristen harus netral dari politik dunia, yang mengacu kepada Alkitab sebagaimana diajarkan Saksi-Saksi Yehuwa. Read the rest

Ke Semarang dan Jogja. Bekerja dan Jalan-jalan »

syekh-omah-490.jpg

CUKUP lama saya tak kerja-lapangan, meliput. Sampai kemudian, pada akhir Oktober 2008, saya ditawari —bukan ditugasi— atasan saya di kantor untuk pergi ke Semarang, meliput dan menulis  kisah lanjutan pernikahan Syeh Puji dengan Ulfa.

Saya oke. Maka saya pun berangkat dari Surabaya, transit di Solo (ke rumah!), baru kemudian ke Semarang. Jarak Solo ke Kota Semarang sekitar 100 km. Adapun rumah Syeh Puji bukan di Kota Semarang melainkan di Kabupaten Semarang, tepatnya di Desa Bedono, Kecamatan Ambarawa. Jarak rumah itu dari Solo sekitar 100 km juga.

Jumat (31/11/2008) sekira pukul 08.00 WIB saya tinggalkan Solo, naik bus Patas. Turun di Terminal Bawen, saya dijemput seorang jurnalis muda Semarang yang bekerja untuk Tempointeraktif, Rofiuddin. Read the rest