<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>warung selat: &#187; reportase</title>
	<link>http://warungselatsolo.dagdigdug.com</link>
	<description>muara hidup dan cinta kami</description>
	<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 15:35:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Copet yang Mengundang Tawa</title>
		<link>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/17/copet-yang-mengundang-tawa/</link>
		<comments>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/17/copet-yang-mengundang-tawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 17:38:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungselatsolo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[profesi]]></category>

		<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/17/copet-yang-mengundang-tawa/</guid>
		<description><![CDATA[
ANDA pencopet? Kalau iya, jangan sekali-kali datang ke Toko Mirota Batik, di Jalan Malioboro, Jogjakarta. Karena, jelas terpampang di bagian atas  pintu masuk toko  laris     itu, sebuah plang bertuliskan COPET DILARANG MASUK.
Anda tertawa karena geli? Kalau iya, sama dengan saya. Ketika datang pertama kali mengantar istri ke toko di seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a HREF="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?attachment_id=320" REL="attachment wp-att-320" TITLE="copet485.jpg"><img SRC="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/files/2008/11/copet485.jpg" ALT="copet485.jpg" /></a></p>
<p><strong>ANDA</strong> pencopet? Kalau iya, jangan sekali-kali datang ke Toko Mirota Batik, di Jalan Malioboro, Jogjakarta. Karena, jelas terpampang di bagian atas  pintu masuk toko  laris     itu, sebuah plang bertuliskan <strong>COPET DILARANG MASUK</strong>.</p>
<p>Anda tertawa karena geli? Kalau iya, sama dengan saya. Ketika datang pertama kali mengantar istri ke toko di seberang Pasar Beringharjo ini, sekitar sembilan bulan lalu, saya tertawa membaca tulisan tersebut. Setelah itu, setiap kali datang lagi, saya masih saja tertawa. Demikian pula ketika saya ke sana untuk membelikan barang titipan istri, Jumat (14/11/2008) siang.</p>
<p>(Saya ke Mirota Batik  diantar  Agung PW,      jurnalis <em><a HREF="http://www.suaramerdeka.com">Suara Merdeka</a></em> Semarang yang bertugas di Jogjakarta. Tujuan utama saya ke Jogja kali ini  adalah membuat reportase tentang <a HREF="http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/15/17291816/ponpes.senin-kemis.terima.santri.gay.dan.lesbian">pesantren khusus waria</a>, dan  saya memanfaatkan waktu        di <a HREF="http://www.surya.co.id/web/Berita-Utama/Mengintip-Ponpes-Khusus-Waria.html">sela liputan</a> untuk bertemu kawan-kawan lama seperti Agung. Juga, bersua  jurnalis <em><a HREF="http://www.detik.com">Detik.com,</a></em> Bagus Kurniawan, yang beberapa tahun lalu pernah satu kantor dengan saya di Gedung Persda-Kompas, Palmerah, Jakarta.       Menyenangkan bisa bertemu kawan-kawan lama).</p>
<p>Anda tertawa karena, bagi Anda, foto dan naskah tentang <strong>COPET DILARANG MASUK</strong> ini basi, lantaran sudah pernah Anda lihat dalam sebuah blog lain, atau bahkan  pernah Anda pasang pada blog Anda sendiri?  Kalau iya, tidak apa-apa. Karena, basi bagi Anda belum tentu basi untuk orang-orang lain.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?p=321&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_321" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/17/copet-yang-mengundang-tawa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ke Semarang dan Jogja. Bekerja dan Jalan-jalan</title>
		<link>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/03/ke-semarang-dan-jogja-bekerja-dan-jalan-jalan/</link>
		<comments>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/03/ke-semarang-dan-jogja-bekerja-dan-jalan-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 14:41:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungselatsolo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>

		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>

		<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<category><![CDATA[selingan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/03/ke-semarang-dan-jogja-bekerja-dan-jalan-jalan/</guid>
		<description><![CDATA[
CUKUP lama saya tak kerja-lapangan, meliput. Sampai kemudian, pada akhir Oktober 2008, saya ditawari &#8212;bukan ditugasi&#8212; atasan saya di kantor untuk pergi ke Semarang, meliput dan menulis  kisah lanjutan pernikahan Syeh Puji dengan Ulfa.
Saya oke. Maka saya pun berangkat dari Surabaya, transit di Solo (ke rumah!), baru kemudian ke Semarang. Jarak Solo ke Kota Semarang sekitar 100 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a HREF="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?attachment_id=301" REL="attachment wp-att-301" TITLE="syekh-omah-490.jpg"><img SRC="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/files/2008/11/syekh-omah-490.jpg" ALT="syekh-omah-490.jpg" /></a></p>
<p><strong>CUKUP</strong> lama saya tak kerja-lapangan, meliput. Sampai kemudian, pada akhir Oktober 2008, saya ditawari &#8212;bukan ditugasi&#8212; atasan saya di <a TITLE="koranku !" HREF="http://surya.co.id">kantor</a> untuk pergi ke Semarang, meliput dan menulis  kisah lanjutan <a HREF="http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/24/04361491/kiai.nikahi.abg.secara.medis.membahayakan">pernikahan Syeh Puji dengan Ulfa</a>.</p>
<p>Saya oke. Maka saya pun berangkat dari Surabaya, transit di Solo (ke <a HREF="http://www.suaramerdeka.com/harian/0407/02/slo12.htm">rumah</a>!), baru kemudian ke Semarang. Jarak Solo ke Kota Semarang sekitar 100 km. Adapun rumah Syeh Puji bukan di Kota Semarang melainkan di Kabupaten Semarang, tepatnya di Desa Bedono, Kecamatan Ambarawa. Jarak rumah itu dari  Solo sekitar 100 km juga.</p>
<p>Jumat (31/11/2008) sekira pukul 08.00 WIB saya tinggalkan Solo, naik bus Patas. Turun di Terminal Bawen, saya dijemput seorang jurnalis muda Semarang yang bekerja untuk <a HREF="http://www.tempointeraktif.com/index.php"><em>Tempointeraktif</em></a>, Rofiuddin. <a href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/03/ke-semarang-dan-jogja-bekerja-dan-jalan-jalan/#more-302" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?p=302&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_302" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/11/03/ke-semarang-dan-jogja-bekerja-dan-jalan-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Romlah Terpaksa Hidup di Tenda&#8230;</title>
		<link>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/24/romlah-dan-keluarga-terpaksa-hidup-di-tenda/</link>
		<comments>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/24/romlah-dan-keluarga-terpaksa-hidup-di-tenda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 17:27:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungselatsolo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/24/romlah-dan-keluarga-terpaksa-hidup-di-tenda/</guid>
		<description><![CDATA[* Banjir Jatim Tak Segera Surut (3, Habis)Â 
MENGENASKAN. Begitulah nasib sebagian korban banjir bandang yang melanda Kota Pasuruan, 30 Januari 2008 lalu, terutama yang rumahnya ambruk. Sampai sekarang mereka terpaksa hidup di tenda darurat karena tidak mampu membangun kembali rumah mereka.Â 
Seperti dialami keluarga Solikin-Romlah, warga Jl Darmoyudo, Dusun Porodeso, Kelurahan-KecamatanPurworejo, Kota Pasuruan. Mereka terpaksa hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>* Banjir Jatim Tak Segera Surut (3, Habis)Â </strong></p>
<p><strong>MENGENASKAN</strong>. Begitulah nasib sebagian korban banjir bandang yang melanda Kota Pasuruan, 30 Januari 2008 lalu, terutama yang rumahnya ambruk. Sampai sekarang mereka terpaksa hidup di tenda darurat karena tidak mampu membangun kembali rumah mereka.Â </p>
<p>Seperti dialami keluarga Solikin-Romlah, warga Jl Darmoyudo, Dusun Porodeso, Kelurahan-KecamatanPurworejo, Kota Pasuruan. Mereka terpaksa hidup di tenda berukuran sekitar tiga kali empat meter.</p>
<p>Dalam tenda yang digunakan untuk kamar tidur sekaligus dapur tersebutÂ keluarga Solikin &#8211;yang memiliki tiga anak&#8211; ini bertahan untuk hidup.Â Meski rumah tenda itu berfungsi untuk tempat berteduhdari panas teriknya matahari dan guyuran hujan, namun ternyata para penghuninya jika siang hari merasa lebih enak di luar, dan baru malam hari mereka tidur di dalam tenda. Itupun jika hujan lebat tidak turun.Â </p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-28" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/24/romlah-dan-keluarga-terpaksa-hidup-di-tenda/28/" title="picer-banjir-tenda-vertikal-beres.JPG"><img src="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/files/2008/03/picer-banjir-tenda-vertikal-beres.JPG" alt="picer-banjir-tenda-vertikal-beres.JPG" /></a> </strong></p>
<p>â€œKalau hujannya biasa, saya dan anak-anak tidak takut, meskipun tidak bisa tidur. Paling-paling hanya <em>ketampesan</em> air. Namun, jika hujannya lebat dan petir terus berbunyi, terpaksa kami sekeluarga mengungsi, takut kejatuhan tenda,â€ keluh Romlah kepada koresponden <em>Surya</em> di Pasuruan, <strong>Abdus Sukur</strong>, Jumat (21/3/2008) lalu. Â </p>
<p>Di sekitar pasangan Solikin-Romlah terdapat empat keluarga lain yang hingga saat ini juga terpaksa hidup di rumah tenda. Mereka kebingungan untuk menyampaikan keluhan. Sebab, pihak yang dianggap paling berkompeten terkait penanganan korban banjir, yakni pemerintah, hingga saat ini belum mengucurkan bantuan dana untuk pembangunan kembali rumah mereka.Â </p>
<p>â€œKalau siang seperti ini, saya tidak tahan untuk terus di dalam tenda. SayaÂ  bingung bagaimana caranya membangun rumah kembali,â€ keluh Mbah Karminah, wanita renta berusia 70 tahunÂ  ini, Jumat (21/3) siang lalu. Â </p>
<p>Menurutnya, sudah banyak orang berdatangan untuk mencatat &#8211;dan berjanji memberi bantuan&#8211;Â  tapi nyatanya tidak ada sama sekali yang membantu. â€œUntuk utang pun saya juga susah, karena tidak ada yang diutangiâ€¦.,â€ imbuh nenek yang hidup bersama putranya, Sugimin, tersebut.Â </p>
<p>Dia mengaku hanya dapat pasrah dengan nasibnya. Mbah Karminah kini hidup dengan kondisi sangat memprihatikan sebagaimana dapat dilihat dari barang-barang yang dimiliki, yaituÂ  hanya sebuah tempat tidur, beberapa lembar pakaian dan panci untuk memasak yangÂ  sudah penyok. Â Â </p>
<p>Â ***</p>
<p>Kata Mbah Karminah, bantuan datang hanya sekitar 10 hari setelah banjir, kemudian sesudah itu mereka bertahan untuk hidup seadanya. â€œTenda ini pemberian dari orang yang kasihan dan sekedar untuk berteduh,â€ paparnya.</p>
<p>Bantuan sembako hanya beberapa hari saja setelah banjir, dan tidak ada bantuan uang sama sekali. â€œSaat ini saya kembali bekerja di Pasar Besar berjualan sayuran,â€ tambah Karminah, sembari menangisÂ  meratapi nasib.Â </p>
<p><a rel="attachment wp-att-30" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/24/romlah-dan-keluarga-terpaksa-hidup-di-tenda/30/" title="picer-banjir-tenda-horizontal-27-23.JPG"><img src="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/files/2008/03/picer-banjir-tenda-horizontal-27-23.JPG" alt="picer-banjir-tenda-horizontal-27-23.JPG" /></a></p>
<p>Pantauan <em><a href="http://www,surya.co.id">Surya</a></em>, akibat banjir yang melanda Pasuruan 30 Januari lalu, hampir semua korban banjir yangÂ  rumahnya ambruk, dan tinggal puing fondasi, itu belum mendapat bantuanÂ  dari pemerintah. Mereka berharap pemerintahsegera merealisasikan bantuan dana untuk pembangunan kembali rumah mereka seperti pernah dijanjikan. Â Â </p>
<p>â€œKami heran. Kebanjiran itu <em>kan</em> musibah, dan korbannya harus segera ditangani, tapi kami sebagai korban ternyata tak cepat dibantu dan ditangani. Kasihan anak-anak, kalau siang hari kepanasan dan di malam hari kedinginan hingga menggigil, karena tidak memiliki tempat berteduh yang layak,â€ tambah Solikin.Â </p>
<p>Secara terpisah, Kabag Humas Ichwan Khairat selaku juru bicara Pemkot Pasuruan pernah mengakui bahwa bantuan untuk perbaikan rumah korban banjir belum diluncurkan. â€œSemuanya masih dalam proses, dan belum turun. Selain itu, nantinya juga bakal ada persyaratan teknis yang wajib dipenuhi para penerima,â€ kata Ichwan. ***Â </p>
<p><strong>Naskah asli bisa diklik <a href="http://www.surya.co.id/web/index.php/Jawa_Timur/Banjir_di_Jatim_Tak_Segera_Surut_Keluarga_Romlah_Terpaksa_Hidup_Di_Tenda.html">di sini</a>.</strong></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?p=27&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_27" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/24/romlah-dan-keluarga-terpaksa-hidup-di-tenda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mbok Julainah Mengais Rejeki di  Desa Tergenang</title>
		<link>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/23/mbok-julainah-mengais-rejeki-di-antara-desa-tergenang/</link>
		<comments>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/23/mbok-julainah-mengais-rejeki-di-antara-desa-tergenang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 16:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungselatsolo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/23/mbok-julainah-mengais-rejeki-di-antara-desa-tergenang/</guid>
		<description><![CDATA[* Banjir Jatim Tak KunjungÂ Surut (2)
PERAHU dari pohon palem sepanjang tiga meter itu penuh barang kebutuhan sehari-hari. PerahuÂ  berhenti hampir di setiap rumah yang tergenang air, di Desa Jabung, K ecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Dua penumpangnya duduk di ujung depan dan belakang. Â 
Dua penumpang tersebut, Mbok Julainah, 65,Â  dan suaminya, Karsan, 68. membagi-bagi bungkusan. &#8220;Endog [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>* Banjir Jatim Tak KunjungÂ Surut (2)</strong></p>
<p><strong>PERAHU</strong> dari pohon palem sepanjang tiga meter itu penuh barang kebutuhan sehari-hari. PerahuÂ  berhenti hampir di setiap rumah yang tergenang air, di Desa Jabung, K ecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Dua penumpangnya duduk di ujung depan dan belakang. Â </p>
<p>Dua penumpang tersebut, Mbok Julainah, 65,Â  dan suaminya, Karsan, 68. membagi-bagi bungkusan. &#8220;<em>Endog</em> mak, <em>telu</em>. Gethuk <em>telung</em> bungkus, (telur tiga, mak.Gethuk tiga bungkus, <strong><em>Red</em></strong>),â€ terdengar suara dari ujung rumah yang tergenang air, seperti dilaporkan wartawan <em><a href="http://www.surya.co.id">Surya</a></em> di Lamongan, <strong>Herry Wahyu R</strong>, Selasa (18/3/2008) lalu.Â </p>
<p>Mbok Julainah menghampiri. Tampak lengan kanan berjemari keriput menjulur dari depan pintu rumah sambil melepas lembaran uang seribuan. Tangan kirinya menyahut sebuah tas <em>kresek</em>. Â </p>
<p>Perahu Mbok Julainah melanjutkan perjalanan. Menyusuri lorong desa,Â  yang tak sejengkalpun terlihat daratan. Tiga-empat rumah kemudian, Karsan menghentikan dayung kayunya. Perahu dirapatkan pelan-pelan. Kali ini, Karsan menimbang minyak goreng dan minyak tanah, lantas memberikan kepada pemilik rumah yang duduk di atas dipan kayu yang mengapung di depan rumahnya. Â </p>
<p>Pemandangan dan suasana itu mirip pasar di atas perahu di Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tetapi, kenyataannya,Â  transaksi tersebut terjadi di Desa Jabung, Laren, yang kembali tergenang air banjir setelah hampir 10 tahun tak pernah kebanjiran.Â </p>
<p>Suasana seperti itu sudah satu pekan lebih terlihat. Maklum, Jabung merupakan satu dari 10 desa diÂ  Laren yangÂ  tergenang air sejak banjir melanda Lamongan sekian hari lalu.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-26" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/23/mbok-julainah-mengais-rejeki-di-antara-desa-tergenang/26/" title="foto-picer-cukai-23-kali-20.JPG"><img src="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/files/2008/03/foto-picer-cukai-23-kali-20.JPG" alt="foto-picer-cukai-23-kali-20.JPG" /></a></p>
<p>Mbok Julainah bersama suami mempertahankan hidup dari berjualan. memanfaatkan kebutuhan para tetangga satu desa.Â Â &#8221;Biasanya saya jualan di depan rumah. Tetapi kalau <em>nggak </em>di<em>rewangi</em> <em>gini </em>(tidak berjualan keliling dengan perahu, <strong><em>Red</em></strong>) kami serumah pasti tidak makan,&#8221; tutur Julainah dari atas perahu. Â </p>
<p>Hasil berkeliling desa, mulai pagi hingga matahari terbenam, Julainah dan Karsan bisa mendapat keuntunganRp 20 ribu. Bahkan bila situasi ramai, pasangan ini mampu meraih Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu sehari.</p>
<p>Untuk <em>kulakan</em>, Julainah harus ke Pasar Babat,Â  sejauh 15 kilometer,Â  dua kali perjalanan air dan satu kali perjalanan darat dengan ojek.Â  Â &#8221;KalauÂ  bantuan dari pemerintah datang,Â  hasilnya cuma dua puluh ribu rupiah. Tidak ada yang belanja, karena orang-orang sudah dapat indomie dan beras,&#8221; tutur Mbok Julainah. Â </p>
<p>Julainah tidak sendiri. Dia bersama sekitar 5.000 kepala keluarga (KK) kehilangan pekerjaan gara-gara banjir. Warga yang tidak berjualan kebutuhan sehari-hari, kehilangan pendapatan. Sebab, sawah, ladang, atau tambak mereka terendamÂ  air hingga setinggi tiga meter, dan mereka terpaksa hidup di pengungsian punggung tanggul Sungai Bengawan Solo.Â  Â </p>
<p>Kapan air akan surut,Â  mereka tidak tahu. Padahal, ribuan hektareÂ  tanaman mereka sudah hampir masuk masa panen. &#8220;Padi warga kami sebagian besar sudah mau panen. Kalau sudah seperti ini pasti tidak bisa panen, dan ikan ditambak juga pasti hilang,&#8221; keluh Hadi Siswanto, Kepala Dusun Sepan, Jabung.Â </p>
<p>Â ***Â </p>
<p>Agar dapatÂ  bertahan hidup, para warga Jabung,Centini, Duri Kulon &#8211;termasuk desa-desa terisolasi&#8211; Desa Bulu Tigo, Keduyung, Siser, Dateng, dan Gelap, memanfaatkan alam.Â  Mereka mencari ikan dengan menebar jala, dan atau mencari keong emas.Â </p>
<p>Keong emas, yang biasanya menjadi hama padi,Â  itu mereka dijual ke Pasar Babat, setelah perahu mereka melewati genangan air seluas tiga kilometer mencapai daratan kemudian menyeberang kembali melintas Sungai Bengawan Solo di Desa Duyung. Sore kembali ke desa nan gelap, tempat pengungsian.</p>
<p>Hasil mencari keong emas rata-rata 20 kilogram per hari. Setiap kilo biasa dibeli tengkulak Rp 2000. Kalau warga tidak sedang apes, ada pengepul keong emas di Desa Centini, sebuah desa paling timur di antara desa-desa yang tergenang.Â  Â </p>
<p>Catatan <em>Surya</em>, Kecamatan Laren &#8211;sebelum ada <em>sudetan</em> Kali Bengawan Solo&#8211; merupakan daerah langgananÂ  banjir.Kemudian, pemerintah membuatÂ <em>sudetan</em>, awal tahun 2000, melintasi Desa Pelangwot, Laren, sampai Desa Sedayu Lawas, Brondong. Â SejakÂ  adanya <em>sudetan</em> itu, Laren di sebelah barat dan timur tepian Sungai Bengawan Solo mulai memunculkan perkembangan perekonomian yang pesat, baik pada sektor pertanian maupun industri. Â </p>
<p>Namun, kini banjir kembali melanda setelah tanggul di Desa Tegal Rejo, Widang, Kabupaten Tuban, jebol. Air, yang seharusnya tidak meluap, pun menggenangi 12 desa di Laren dan Maduran. Sampai Selasa (18/3/2008) lalu, tanggul jebol belum bisa diperbaiki, dan air naik-turun. Â </p>
<p>&#8220;Jika tanggul jebol sudah tertutup, kami mesti memikirkan bagaimana mengeringkan 10 desa ini. Harapan satu-satunya adalah aliran di Plangwot, dengan catatan air Bengawan Solo tidak terus meninggi. Waktunya berapa hari, kami belum bisa memastikan,&#8221; aku Rusgianto,Â  Camat Laren. ***</p>
<p><strong>Naskah asli ada <a href="http://www.surya.co.id/web/index.php/Jawa_Timur/Banjir_Jatim_Tak_Segera_Kering_Mbok_Julainah_Mengais_Rejeki_di_Antara_Desa-desa_Tergenang_.html">di sini</a>.</strong></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?p=23&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_23" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/23/mbok-julainah-mengais-rejeki-di-antara-desa-tergenang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mbah Towo Selalu Siap Ngungsi ke Jalan Raya</title>
		<link>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/18/mbah-sutowo-selalu-siap-mengungsi-ke-jalan-raya/</link>
		<comments>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/18/mbah-sutowo-selalu-siap-mengungsi-ke-jalan-raya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 18:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>warungselatsolo</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/18/mbah-sutowo-selalu-siap-mengungsi-ke-jalan-raya/</guid>
		<description><![CDATA[* Banjir di Jatim Tak SegeraÂ Surut (1)Â 
KELUARGA Sutowo, yang akrab dipanggil Mbah Towo, 61, tak pernah bebas dari genangan air mana kala Kabupaten Ngawi diterjang banjir. Pasalnya, lokasi rumah yang dihuni Mbah Tomo bersama istri dan dua anaknya memang berjarak hanya sekitar semeter dari bibir Sungai Bengawan Solo, yang jika hujan deras sering meluap.
Warga Kampung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>* Banjir di Jatim Tak SegeraÂ Surut (1)</strong>Â </p>
<p><strong>KELUARGA</strong> Sutowo, yang akrab dipanggil Mbah Towo, 61, tak pernah bebas dari genangan air mana kala Kabupaten Ngawi diterjang banjir. Pasalnya, lokasi rumah yang dihuni Mbah Tomo bersama istri dan dua anaknya memang berjarak hanya sekitar semeter dari bibir Sungai Bengawan Solo, yang jika hujan deras sering meluap.</p>
<p>Warga Kampung Mulyorejo, Kalurahan Karangtengah, Kecamatan-Kabupaten Ngawi, ini sudah kenyang dihajar banjir, bahkan sampai setinggi tiga meter. Secara gografis, letak Kampung Mulrorejo selain berjarak demikian dekat dengan Bengawan Solo juga tak jauh dari titik pertemuan antara Bengawan Solo dengan Sungai Bengawan Madiun.</p>
<p>&#8220;Setiap kali hujan deras tak berhenti selama dua jam, kami pasti kebanjiran dan selalu mengungsi ke jalan raya atau ke rumah warga lain yang rumahnya di dataran yang tergolong tinggi,â€ keluh Â Mbah Towo ketika ditemui korespondenÂ <em><a href="http://www.surya.co.id">Surya</a></em>, <strong>Sudarmawan</strong>, di rumahnya, Senin (17/3/2008).</p>
<p><a rel="attachment wp-att-17" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/18/mbah-sutowo-selalu-siap-mengungsi-ke-jalan-raya/17/" title="korban-banjir-picer-ngawi-27-kali-25.JPG"><img src="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/files/2008/03/korban-banjir-picer-ngawi-27-kali-25.JPG" alt="korban-banjir-picer-ngawi-27-kali-25.JPG" /></a><strong> </strong></p>
<p>Tentu saja bukan hanya Mbah Towo dan keluarga yang merana setiap kali musim hujan. Ribuan warga di Kampung Mulyorejo dan kampung-kampung lain, seperti Kampung Baru, Kecamatan-Kabupaten Ngawi, pun bernasib serupa.</p>
<p>Sejak Desember 2007 sampai Maret 2008 ini para warga di dua kampung tersebut sudah mengalami kebanjiran sebanyak tujuh kali. Â Dari jumlah itu, yang tergolong banjir besar ada dua kali, antara Â <a href="http://www.surya.co.id/web/index.php/Headline/TERPERANGKAP.html">26-28 Desember 2007</a>, dan 10 Maret 2008.</p>
<p>Akhir Desember, sebagaimana diketahui, banjir besar melanda bukan hanya Ngawi dan kota-kota lain di Jatim melainkan juga di Jateng seperti Solo dan Sragen. Khusus di Ngawi, kala itu 11 kecamatan terendam, sedangkan <a href="http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&amp;do_pdf=1&amp;id=37953">10 Maret 2008 </a>banjir menggenangi Â enam kecamatan.</p>
<p>Salah seorang warga Kampung Baru, Hartini, mengungkapkan, akibat banjir warga dirugikan secara materiil maupun immateriil. Pasalnya, bukan hanya rumah maupun perabot rumah tangga rusak dan porak-poranda, mayoritas warga tak bisa bekerja dan melaksanakan aktifivas sehari-sehari.</p>
<p>Belum lagi beberapa jenis penyakit yang menyerang, seperti <a href="http://suryalive.com/content/view/787/51/">gatal-gatal dan herpes</a>. Mereka juga direpotkan oleh kelangkaan air bersih untuk dipakai mandi, memasak, dan mencuci.</p>
<p>&#8220;Kami bukan hanya trauma tetapi sudah merasa pobhia mendengar kata banjir. Setiap turun hujan deras, warga sudah langsung berbondong-bondong ke luar rumah untuk mengungsi ke tempat lebih aman,&#8221; papar Hartini.Â </p>
<p>****Â </p>
<p>Di pihak lain, meski ribuan warga merasakan penderitaan dan ketakutan sebagaimana diungkapkan Hartini maupun Mbah Sutowo, belum terlihat upaya keras Pemkab Ngawi menanggulangi banjir tahunan itu secara permanen. Misalnya, dengan mengeruk Sungai Bengawan Madiun maupun Bengawan Solo &#8211;yang mengalami pendangkalan&#8211; atau mengeluarkan kebijakan merelokasi para warga korban banjir.</p>
<p>Apa yang dilakukan pemkab masih terkesan â€˜tambal sulamâ€™, yaitu bertindak jika banjir datang. Â &#8221;Selama ini kami selalu hanya diberi bantuan sembako jika banjir. Padahal yang dibutuhkan bukan hanya sembako, tapi yang terpenting bagaimana banjir ditangani permanen agar tidak merugikan warga,&#8221; ungkap Suroso, <em>Kamituwo</em> Desa Dinden, Kwadungan, Kabupaten Ngawi, yang juga menjadi langganan korban banjir.</p>
<p>Mengenai keluhan seperti itu, Kepala Satkorlak Pemkab Ngawi M Sodiq pernah menjelaskan bahwa bantuan berupa pembagian sembako, perahu karet, dan tenaga medis menjadi urusan pemkab untuk segera mengurangi penderitaan warga korban banjir. Â Sedangkan upaya penanganan permanen, katanya, diserahkan langsung ke pemerintah pusat.</p>
<p>Mengapa demikian? Menurut Sodiq, karena perlu kerja sama beberapa pemkab dan pemkot untuk menanggulangi banjir di Ngawi. Di antaranya, Pemkab Madiun dan Pemkot Madiun, yang dilintasi Sungai Bengawan Madiun, serta Pemkab Wonogiri, Jateng, terkait pembukaan Waduk Gajah Mungkur yang diduga juga memicu banjir di Ngawi. Termasuk pula Pemkab Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban yang juga dilintasi Sungai Bengawan Solo.Â ***Â Â </p>
<p>Â <strong>Silakan baca naskah asli <a href="http://www.surya.co.id/web/index.php/Jawa_Timur/Banjir_di_Jatim_Tak_Segera_Kering_Mbah_Sutowo_Selalu_Siap_Mengungsi_ke_Jalan_Raya.html">di sini</a>.</strong></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://warungselatsolo.dagdigdug.com/?p=15&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_15" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/03/18/mbah-sutowo-selalu-siap-mengungsi-ke-jalan-raya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

