Sementara di Jakarta. Bekerja, Berhimpun…
ENAM tahun silam saya meninggalkan kawasan Palmerah, Jakarta Selatan; dan kini, sejak hari Minggu (7/2/2010) sore, saya kembali ke tempat itu. Untuk berkantor, dan tinggal sementara —sebagai ” anak” kos.
Perobahan hidup memang sering tak terduga. Empat hari sebelumnya, atasan saya di kantor di Kota Surabaya, Jawa Timur, memanggil saya dan memberi tahu bahwa saya ditugaskan sementara ke Jakarta. Bukan untuk mengisi Biro Harian Surya di Jakarta melainkan untuk menjadi redaktur-sementara Koran Berita Kota, yang baru diambilalih Manajemen Koran Warta Kota.
(Koran saya, Surya, memang bersaudara dengan Warta Kota. Keduanya sama-sama merupakan “anak” Kompas-Gramedia. Warta Kota-lah yang memoles Surya, beberapa waktu silam, sehingga kini bisa menjadi koran bertiras lebih dari 100.000 eksemplar sehari.)
Empat hari setelah pemberitahuan dari bos saya itu, saya sudah berada di Jakarta. Berkantor di Palmerah, tepatnya di Gedung Kompas Gramedia Unit I Lantai 2, Jl Palmerah Barat No 33-37. Tinggal sementara —sebagai “anak kos”— di Jalan Gelora IX G, Kalurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang.
(Tempat kos saya bersih meski berada dalam gang kecil yang jalan masuknya ruwet. Di lantai dua. Tentu jika siang panas. Tak apa. Saya hanya berada di sana malam hari untuk tidur setelah pulang kerja; sesudah itu, sekira pukul 11.00 WIB, saya ke kantor sampai malam.)
Empat hari sudah saya di Jakarta. Beberapa kebiasaan pun terpaksa berobah. Misalnya, bangun lebih lambat daripada saat bekerja di Surabaya. Keramas pun tak lagi setiap sore melainkan saban pagi menjelang siang sebelum ngantor.
Jadwal pulang ke Solo menengok keluarga tentu juga akan berubah.Jika biasanya saya pulang ke Solo dari Surabaya setiap pekan (libur Kamis), saya belum tahu kapan akan pulang ke Solo. Pasalnya, jarak tempuh lebih jauh (hampir dua kali lipat, dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam) —padahal saya libur hanya sehari dalam sepekan— tentu tidak memungkinkan untuk pulang setiap pekan.
Tentu banyak juga hal-hal yang tidak (boleh) berobah. Contohnya, rutin berkomunikasi dengan istri dan tiga anak saya menggunakan ponsel. Seperti saat bekerja di Surabaya, di Jakarta pun saya terus menghidupkan ponsel agar gampang dihubungi istri dan anak-anak.
Rutin rohani pun tidak berobah. Antara lain, rutin berdoa, dan berhimpun (beribadat) bersama Saksi-Saksi Yehuwa. Sehari setelah datang, Minggu (7/2) pagi sampai sore, bertepatan ada Kebaktian Wilayah Saksi-Saksi Yehuwa di Gedung Tenis Indoor Senayan, dan saya bersyukur bisa merasakan suka cita dalam kebaktian itu bersama para pengikut Yesus Kristus yang datang dari berbagai sidang di Jakarta. Apalagi, di sana saya bertemu dengan beberapa saudara yang sudah saya kenal sebelumnya di Solo maupun Surabaya.
Saya juga bersyukur dapat mengikuti perhimpunan tengah pekan, Selasa (9/2) mulai pukul 19.00 WIB di Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa yang berada di lantai sembilan ITC Kuningan, Jakarta. Berangkat dengan angkot carteran bersama para saudara-saudari seiman dari Sidang Bendungan Hilir (Benhil), yang tinggal di seputar Palmerah.
Rutin rohani berupa dinas pengabaran —menyampaikan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah— yang belum saya lakukan. Saya berencana mulai melaksanakannya Sabtu (13/2) besok, setelah mengikuti pertemuan untuk dinas lapangan di rumah seorang saudara di Kampung Juraganan, Palmerah.




