muara hidup dan cinta kami

Pengumuman! Saya Tak Lagi Ngeblog di Sini!

HAMPIR empat tahun saya menulis di blog ini, posting naskah dan foto satu demi satu. Kini, apa boleh bikin, saya hentikan posting di sini. Kadang-kadang timbul rasa tidak nyaman ngeblog, karena sesekali masih muncul kontroversi, khususnya pada tema-tema tulisan tertentu.  Saya tidak ingin ada saudara atau saudari yang tersandung oleh blog saya. Maka, apa boleh bikin lagi, sekarang terpaksa saya pindahkan semangat ngeblog saya ke blog ini dan blog itu.

Banyak Hal Tak Berubah di Palmerah…

warung-uuk

BANYAK hal tak berubah, di kawasan Palmerah, Jakarta Selatan, khususnya di lingkungan Kantor Kompas-Gramedia. Terakhir saya berkantor di sini, September (atau Oktober?) tahun 2004, sebelum dimutasi ke Kota Surabaya, Jawa Timur. Hampir enam tahun kemudian, ketika sekarang saya harus berkantor -sementara lagi di kawasan ini, saya lihat tak banyak yang berubah.

Apa sajakah itu? Misalnya, deretan para penjual makanan kelas warung —warung Padang, warung Tegal, dan warung-warung lain— masih itu-itu juga. Termasuk pemilik warung masakan Jawa yang biasa dipanggil Pak Uuk, yang berjualan di depan Kantor Persda (Pers Daerah) Kompas, Palmerah Barat. Warung makan pria asal Sragen, Jawa tengah, ini termasuk laris; menjelang pukul 14.00 WIB dagangannya sudah ludes. Warung Sate Pak Min Solo, di sebelah kiri warung milik Pak Uuk, juga tak kalah laris meski harga makanannya lebih mahal. Read the rest of this entry »

Berita Kota. Tempat Saya Bekerja Sementara…

cover-berkota-vertikal-oke

BERITA Kota. Berkot. Koran-lama-tetapi-baru. Koran lama dengan manajemen baru. Koran terbitan Jakarta. Koran di mana saya, sejak hari Minggu 7/2/2010) lalu,  bekerja-sementara sebagai salah satu editornya….

Sementara di Jakarta. Bekerja, Berhimpun…

ENAM tahun silam saya meninggalkan kawasan Palmerah, Jakarta Selatan; dan kini, sejak hari Minggu (7/2/2010) sore, saya kembali ke tempat itu. Untuk berkantor, dan tinggal sementara —sebagai ” anak” kos.

Perobahan hidup memang sering tak terduga. Empat hari sebelumnya, atasan saya di kantor di Kota Surabaya, Jawa Timur, memanggil saya dan memberi tahu bahwa saya ditugaskan sementara ke Jakarta. Bukan untuk mengisi Biro Harian Surya di Jakarta melainkan untuk menjadi redaktur-sementara Koran Berita Kota, yang baru diambilalih Manajemen Koran Warta Kota.

(Koran saya, Surya, memang bersaudara dengan Warta Kota. Keduanya sama-sama merupakan “anak” Kompas-Gramedia. Warta Kota-lah yang memoles Surya, beberapa waktu silam, sehingga kini bisa menjadi koran bertiras lebih dari 100.000 eksemplar sehari.)

Empat hari setelah pemberitahuan dari bos saya itu, saya sudah berada di Jakarta. Berkantor di Palmerah, tepatnya di Gedung Kompas Gramedia Unit I Lantai 2, Jl Palmerah Barat No 33-37. Tinggal sementara —sebagai “anak kos”— di Jalan Gelora IX G, Kalurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang.

(Tempat kos saya bersih meski berada dalam gang kecil yang jalan masuknya ruwet. Di lantai dua. Tentu jika siang panas. Tak apa. Saya hanya berada di sana malam hari untuk tidur setelah pulang kerja; sesudah itu, sekira pukul 11.00 WIB, saya ke kantor sampai malam.)

Empat hari sudah saya di Jakarta. Beberapa kebiasaan pun terpaksa berobah. Misalnya, bangun lebih lambat daripada saat bekerja di Surabaya. Keramas pun tak lagi setiap sore melainkan saban pagi menjelang siang sebelum ngantor.

Jadwal pulang ke Solo menengok keluarga tentu juga akan berubah.Jika biasanya saya pulang ke Solo dari Surabaya setiap pekan (libur Kamis), saya belum tahu kapan akan pulang ke Solo. Pasalnya, jarak tempuh lebih jauh (hampir dua kali lipat, dengan waktu tempuh sekitar sembilan jam) —padahal saya libur hanya sehari dalam sepekan— tentu tidak memungkinkan untuk pulang setiap pekan.

Tentu banyak juga hal-hal yang tidak (boleh) berobah. Contohnya, rutin berkomunikasi dengan istri dan tiga anak saya menggunakan ponsel. Seperti saat bekerja di Surabaya, di Jakarta pun saya terus menghidupkan ponsel agar gampang dihubungi istri dan anak-anak.

Rutin rohani pun tidak berobah. Antara lain, rutin berdoa, dan berhimpun (beribadat) bersama Saksi-Saksi Yehuwa. Sehari setelah datang, Minggu (7/2) pagi sampai sore, bertepatan ada Kebaktian Wilayah Saksi-Saksi Yehuwa di Gedung Tenis Indoor Senayan, dan saya bersyukur bisa merasakan suka cita dalam kebaktian itu bersama para pengikut Yesus Kristus yang datang dari berbagai sidang di Jakarta. Apalagi, di sana saya bertemu dengan beberapa saudara yang sudah saya kenal sebelumnya di Solo maupun Surabaya.

Saya juga bersyukur dapat mengikuti perhimpunan tengah pekan, Selasa (9/2) mulai pukul 19.00 WIB di Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa yang berada di lantai sembilan ITC Kuningan, Jakarta. Berangkat dengan angkot carteran bersama para saudara-saudari seiman dari Sidang Bendungan Hilir (Benhil), yang tinggal di seputar Palmerah.

Rutin rohani berupa dinas pengabaran —menyampaikan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah— yang belum saya lakukan. Saya berencana mulai melaksanakannya Sabtu (13/2) besok, setelah mengikuti pertemuan untuk dinas lapangan di rumah seorang saudara di Kampung Juraganan, Palmerah.

Tak Menyangka Ikut Kebaktian Wilayah di Jakarta

TANPA direncanakan sebelumnya, saya mengikuti Kebaktian Wilayah Saksi-Saksi Yehuwa di Gedung Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu (7/2/2010) pukul 09.40 WIB-pukul 15.20 WIB. Kebaktian ini berlangsung dua hari, Sabtu (6/2) dan Minggu (7/2), tetapi Sabtu saya masih dalam Kereta Api Argolawu, menempuh perjalanan Solo-Jakarta.

Mengapa saya ke Jakarta? Pimpinan kantor saya di Surabaya menugasi saya untuk sementara waktu —antara satu sampai dua bulan— bekerja di Jakarta. Menjadi editor-sementara di sebuah surat kabar terbitan Jakarta.

Kini saya berkantor lagi di kawasan Palmerah, Jakarta Selatan —tempat saya bekerja selama enam tahun pada 1998-2004 silam. Kos di kawasan yang sama, agar bisa menuju kantor dengan hanya berjalan kaki.

Penugasan ini termasuk dadakan. Diberitahu pimpinan pada Selasa (2/2) lalu, dan diminta segera berangkat ke Jakarta. Setelah mengabari istri dan tiga anak saya, yang tinggal di Solo, Jawa Tengah, saya memutuskan berangkat ke Jakarta Sabtu (6/2) pagi.

Hari Kamis (4/2) malam saya meninggalkan Surabaya, menuju Solo. Libur sehari di Solo, Jumat (5/2), sesudah itu esok harinya, Sabtu (6/2), naik Argolawu ke Jakarta. Menempuh perjalanan selama sekitar delapan jam.

Karena itulah saya tak bisa mengikuti kebaktian hari pertama. Tetapi, tidak apa-apa. Pasalnya, saya sudah pernah mengikuti kebaktian serupa bertema “Jagalah Kerohanian Saudara”  tersebut di Kota Surabaya, yaitu pada 24-25 Oktober 2009 lalu. Saksi-Saksi Yehuwa di Surabaya memang lebih dulu melaksanakan Kebaktian Wilayah sehingga saya bisa ikut duluan.

Karena harus ke Jakarta maka tanpa direncanakan sebelumnya, saya mengikuti Kebaktian Wilayah Saksi-Saksi Yehuwa di Gedung Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu (7/2/2010) pukul 09.40 WIB-pukul 15.20 WIB. (Saya mengetahui rencana kebaktian ini dari seorang saudari seiman yang tinggal di dekat Palmerah, dua hari menjelang keberangkatan saya ke Surabaya).

Benu Buloe Sang Popeye Palsoe…

popeye-palsu-makan-lagi

BENU BULOE namanya (paling kanan). Dia presenter dari Trans TV untuk Program bertajuk “Benu Buloe”, yang ditayangkan setiap Sabtu pukul 10.30 WIB. Program itu, dulu, merupakan bagian dari program berita “Jelang Siang”. Bersama rombongan, pria kocak usia 29 tahun yang bernama asli Ibnu Syakhdan tersebut syuting di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pada 18 Desember 2009 lalu. Benu mengenakan kostum ala Popeye Si Pelaut.

Merasakan Suasana Beda di Villa Rukmini

joglo-vertikal

SUDAH lama saya ingin datang ke lokasi wisata di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bukan untuk piknik bersama keluarga, atau rekreasi bareng kawan-kawan sekantor, misalnya, melainkan ingin mengunjungi sebuah villa milik seorang saudara seiman dari Kota Surabaya, yaitu Villa Rukmini.

Saya tahu dari pemilik villa tersebut, Jimmy Methuselah, bahwa Villa Rukmini di Desa Cembor, Pacet, ini berbentuk joglo limasan. Bangunan aslinya, dulu, dibeli, “dicabut”, dan dipindahkan dari sebuah desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

(Pak Jimmy menjelaskan, joglo Limasan berasal dari kata “limalasan“, yakni perhitungan sederhana ukuran “molo” tiga meter dan “blandar” lima meter. Tetapi bila molo 10 meter, maka blandar harus memakai ukuran 15 meter, yang berarti bahasa Jawa limalasan).

Villa di atas lahan seluas 2.500 meter persegi tersebut disewakan untuk umum. dengan harga sekitar Rp 1 juta per malam. Menurut Pak Jimmy orang-orang yang pernah menyewa selama ini datang dari berbagai kalangan —termasuk kalangan mahasiswa dan keluarga yang mengajak anak-anak mereka.

Saya tahu mengenai keberadaan Villa Rukmini sejak berkenalan dengan Pak Jimmy, hampir empat tahun silam. Namun baru hari Minggu (3/1/2010) lalu saya bisa mengunjungi villa tersebut bersama Pak Jimmy dan istri serta dua saudari seiman yang juga berasal dari Surabaya.

joglo-villa2

Rasa dingin langsung menyergap saat saya turun dari mobil Pak Jimmy, yang diparkir di halaman villa, Minggu (3/1) siang. Tak heran, karena Trawas memang berada di lokasi pegunungan. Setelah itu, sekitar 30 menit kemudian hujan mulai turun.

“Karena musim penghujan, sekarang ini memang hampir tiap hari hujan. Kalaupun tidak hujan, embusan angin di sini sangat kencang,” ujar Pak Jimmy menjelaskan.

Saya melihat-lihat seluruh bagian Villa Rukmini. Di luar, di belakang villa, terhampar persawahan luas. Semua terlihat serbahijau dan segar. Tak ketinggalan, di kejauhan samar-samar tampak Gunung Penanggungan di sebelah timur, dan Gunung Welirang di sebelah tenggara.

dalam-villa

Bagaimana dengan dalam villa? Sentuhan lawas tapi bersih dan rapi terasa saat kita berada dalam villa. Lawas, alias kuno, karena sebagian dinding vila —seperti terlihat pada foto di atas dan di bawah— terbuat dari kayu jati, yang merupakan bagian dari sebuah rumah joglo. Bersih dan rapi, lantaran kayu-kayu jati berwana cokelat itu terawat baik, dipadu dengan dinding tembok dan lantai keramik berwarna cokelat muda. Tak heran bahwa Pak Jimmy menyebut villanya sebagai “villa yang bernuansa beda”….

villa-dalam

Tetapi memang benar adanya. Keberadaan kayu jati-kayu jati berukir, yang merupakan bagian-bagian dari bangunan joglo, itu memang memunculkan nuansa berbeda, terutama bagi mereka yang sehari-hari tinggal di rumah full tembok, termasuk saya. Apalagi selama ini bangunan joglo jarang ditemui di Jatim, karena memang menjadi salah satu bangunan khas di Jateng, terutama Kota Solo.

kamar-villa

Empat kamar tidur dalam villa juga terlihat rapi. Menurut Pak Jimmy, villanya berdaya tampung maksimal 30 orang. Bagi para penyewa, Pak Jimmy menyediakan dua single bed pada masing-masing kamar tidur (empat kamar), ditambah 10 buah free extra bed lengkap dengan kasur, bantal dan sprei.

meja-villa400

Saya juga menengok bagian belakang villa, yang merupakan teras utama. Di sana diletakkan sebuah meja kuno besar dengan taplak kain batik. Selain itu, terdapat pula sebuah kursi panjang nan besar. Saya meminta Pak Jimmy dan istri duduk berdua di kursi tersebut untuk saya jepret.

“Kalau pas ke sini saya senang duduk atau rebahan di kursi ini. Bersantai, merasakan kesejukan cuaca dan menikmati keindahan alam sambil membaca Majalah Menara Pengawal,” ucap Pak Jimmy seraya menyebut nama majalah yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa (Yehuwa adalah nama pribadi Allah yang disembah dan dilayani para pengikut Yesus Kritus).

kusri-villa

Lagi-lagi Ponsel Communicator Saya Hilang Lagi

nokia-9300i-g

BENAR-BENAR konyol ! Hanya dalam waktu tiga pekan saya kehilangan dua buah ponsel —semuanya terjatuh saat dalam perjalanan, dan seluruhnya semata-mata karena kecerobohan saya.

Terakhir, ponsel yang hilang adalah Nokia tipe 9300i. Ponsel ini terjatuh, Kamis (28/1/2010) dini hari, saat saya dalam perjalanan pulang dari Kota Surabaya, Jawa Timur, ke Kota Solo, Jawa Tengah. Di mana jatuhnya? Tentu saya tak bisa memastikan. Saya perkirakan hilang dalam bus yang saya naiki dari Surabaya, yaitu Bus Eka Patas, atau saat saya naik ojek dari halte di Tirtomoyo, Jebres, Solo —setelah turun dari bus— menuju ke rumah.

Entah jatuh dan hilang di dalam bus ataukah saat saya naik ojek, penyebabnya cuma satu : karena resleting tas ransel saya tidak menutup rapat sehingga ponsel communicator itu jatuh dari ransel. Apa boleh bikin, penyebab utamanya memang hanya satu : karena kecerobohan saya.

Setelah kehilangan ponsel communicator tersebut, untuk sementara saya tak bisa mengkases internet jika sedang dalam perjalanan setiap pekan dari Surabaya ke Solo atau sebaliknya, dari Solo ke Surabaya. Selama ini, untuk mengisi kekosongan waktu jika saya bepergian Surabaya-Solo atau Solo-Surabaya saya memang sering memanfaatkan N300i untuk berinternet, khususnya membuka e-mail dan mengecek berita-berita dari beberapa situs berita seperti Kompas.com dan Detik.com.

Dua pekan sebelumnya, Kamis (14/1) malam, ponsel saya, merek Nokia juga —saya lupa tipe atau serinya, tetapi yang pasti itu ponsel kecil nan “jadul”— terlebih dulu hilang. Di mana jatuhnya? Tentu saya juga tak bisa memastikan. Saya perkirakan hilang karena jatuh saat saya naik sepeda motor dalam perjalanan pulang dari tempat beribadat menuju ke rumah.

Sampai saya posting naskah ini, saya belum membeli lagi ponsel yang bisa digunakan untuk mengakses internet. Ponsel yang sekarang saya pakai adalah ponsel Nokia “biasa”, yang “hanya” bisa digunakan bertelepon dan ber-SMS. O ya, Nokia 9300i yang raib kemarin itu merupakan communicator kedua saya yang hilang. Sebelumnya, lebih dari setahun lalu, tepatnya 25 Desember 2008, saya kehilangan communicator karena dicopet.

Foto Nokia 9300i diambil dari sini

Pertama Kali Berhimpun di Balai Kerajaan Baru

berhimpun-pertama-selat

AKHIRNYA saya bersama para saudara dan saudari dari Sidang Wonokromo Surabaya beribadat bersama di Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa di Kota Surabaya, yang baru selesai dibangun sekitar dua pekan lalu. Minggu (31/1/2010) petang tadi, kami berhimpun mulai pukul 16.30 WIB.

Perhimpunan perdana di Balai Kerajaan baru ini dihadiri lebih dari 168 orang. Saya hitung ada 168 kursi di dalam Balai Kerajaan —termasuk 14 kursi dalam ruang kelas— semuanya dipakai duduk, dan sebagian hadirin terpaksa berdiri.

Benar-benar full hadirin sekaligus full suka cita! Tak heran, karena yang hadir bukan hanya para pengikut Yesus Kristus sekaligus penyembah Yehuwa (nama pribadi Allah) dari Sidang Wonokromo melainkan juga dari Sidang Baratajaya ditambah sebagian kecil dari Sidang Kendangsari, yang bergabung bersama Sidang Wonokromo menjadi Sidang Wonocolo Surabaya.

Perhimpunan dimulai saat hujan gerimis, yang perlahan-lahan reda. Hampir 2,5 jam kemudian kegiatan teokratis setiap pekan ini berakhir. (Acara berlangsung lebih lama dari biasa karena ada tambahan khotbah khusus mengenai Balai Kerajaan, antara lain mengenai perlunya merawat agar tetap bersih dan tak gampang rusak.) Pukul 19.00 WIB —setelah saling mengobrol beberapa saat— para saudara-saudari meninggalkan Balai Kerajaan sebagaimana tampak pada foto di atas.