muara hidup dan cinta kami

Kali ini Mojosongo, Solo (Setelah Beji, Temanggung)

MOJOSONGO bukan wilayah kelurahan yang asing bagi saya sebagai wong Solo, meski terletak sekitar delapan kilometer dari rumah saya. Beberapa kawan saya pun bermukim di sana, termasuk Mulyanto, redaktur senior Solopos yang juga mantan pemred koran terbitan Solo itu.

Bagaimana dengan Kampung Kepuhsari, yang merupakan salah satu kampung di Kalurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jateng? Saya tidak familiar dengan kampung ini tetapi pernah datang ke sana, beberapa tahun silam, ke rumah modin kelurahan saya yang tinggal di Kepuhsari RT 03/RW XI. Kala itu, saya mengurus surat-surat pernikahan.

Pekan lalu, saya kembali menemui Suratmin, modin kalurahan saya, Kalurahan Serengan, yang juga ketua RT 03/RW XI Kepuhsari, Kalurahan Mojosongo. Kali ini tak ada hubungannya dengan rencana pernikahan melainkan dengan peristiwa penembakan Noordin M Top, pria asal Malaysia yang dijuluki polisi dan pers sebagai gembong teroris paling dicari alias most wanted.

Saya tiba di kampung tersebut, Kamis (17/9/2009) sore, setelah menempuh perjalanan darat selama hampir enam jam dari  Surabaya, Jawa Timur. Turun dari Bus Eka Patas di depan Kolam Renang Tirtomoyo, Solo, sekitar pukul 16.00 WIB, saya langsung naik ojek ke Kepuhsari.

Sore itu kampung tersebut  masih ramai oleh banyak orang meski jenazah Noordin dan tiga kawannya —alm Bagus Budi Pranoto alias Urwah, Ario Sudarso alias Aji, dan Susilo alias Adib— sudah diterbangkan ke Jakarta oleh Tim Densus 88 Antiteror ke RS Polri Kramat Jati. (Demikian pula istri Susilo, Putri Munawaroh, yang hamil lima bulan, dan luka di paha kiri karena tembakan).  Sebagian di antara mereka berjubel di seberang rumah kontrakan Susilo.

mojosongo-rmh-warga1

Rumah sederhana, dengan nilai kontrak Rp 1,4 juta per tahun, ini menjadi rusak berat setelah dihujani peluru oleh Densus 88 Antiteror, Rabu (16/9) malam sampai Kamis (17/9) pagi. Meski kerumunan warga berada di bagian lebih tinggi dari rumah tersebut namun mereka tak dapat melihat bagian dalam. Pasalnya, polisi telah menutup rumah milik Sri Indarto alias Totok tersebut dengan pagar seng tinggi.

(Sehari setelah jenazah Nordin dan kawan-kawan dibawa ke Jakarta, Totok —yang  tinggal di tempat lain yang jauh dari Mojosongo— datang menengok rumahnya. Menurut seorang tetangga, Ny Yuli Utami, Totok stres dan bingung memikirkan biaya perbaikan  rumah yang rusak berat tersebut)

mojosongo-rmh

Para warga masyarakat juga tak bisa masuk ke rumah kontrakan Susilo, karena seputar rumah dipasangi police line sebagai tanda rumah ini menjadi barang bukti tindak pidana kejahatan dan dalam penguasaan polisi. Hanya para insan pers yang kala itu diizinkan mendekat oleh polisi.

mojosongo-police-line

Selain itu, sejumlah polisi pun berjaga-jaga di sana, termasuk di dua mulut gang yang menuju rumah tersebut. Menenteng senjata laras panjang, para polisi berseragam ini menghalau pergi orang-orang yang hendak mendekat jika orang-orang tersebut dianggap tidak berkepentingan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kasus Noordin dan kawan-kawan.

mojosongo-polisi

Saat datang ke Kepuhsari untuk membuat reportase, saya tak hanya melihat rumah kontrakan Susilo dari arah depan melainkan juga dari bagian belakang dan samping. Di samping kiri dan kanan rumah itu terdapat rumah-rumah tetangga, sedangkan di belakangnya merupakan kebon-kebon kosong nan luas.

Kebon-kebon itu menjadi salah satu bukti betapa sebagian kampung tersebut merupakan wilayah kering dan gersang, kendati pepohonan tumbuh pula di sana. Kebon-kebon tersebut juga memperlihatkan tipikal Kepuhsari sebagai sebuah kampung di wilayah pinggiran, yang tentunya sengaja dipilih oleh Noordin dan kawan-kawan agar gampang kabur jika diendus polisi —walaupun fakta ternyata berbicara lain, mereka tewas ditembak….

mojosongo-gersang

Selain itu, kondisi Kepuhsari yang gersang juga membuatnya berbeda dengan tempat persembunyian jaringan Noordin di Dusun Beji Jurang RT 01/RW 07, Kedu, Temanggung, yang diserbu Densus 88 Antiteror, awal Agustus 2009 lalu. Dusun tempat ngumpet Ibrohim —akhirnya tewas ditembak mati— itu terasa sejuk dan dingin, karena memang berada di pegunungan.  Suasana sejuk dan dingin ini saya rasakan ketika saya datang ke sana meliput penyerbuan oleh Tim Densus 88 Antiteror.

Sangat-Jarang-Sekali Buka Sampai Malam Hari…

warung-malam-hari

SANGAT jarang sekali, warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, buka sampai malam hari. Biasanya, warung di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah, yang buka sejak pukul 09.00 WIB, ini sudah kukut pukul 17.00 WIB.

Maka, tatkala 18 September 2009 lalu —dua hari menjelang Lebaran— ada beberapa pembeli yang menyantap makanan pada malam hari, saya buru-buru memotret mereka. Saat itu menjelang pukul 19.00 WIB. Sesudah mereka pergi, istri saya pun menutup warung makannya.

Top! Noordin M Top (Pernah) Berada di Kota Saya!

mojosongo-anak2-tpa

NOORDIN M Top, yang menurut polisi dan media massa merupakan gembong teroris paling dicari, ternyata bersembunyi di kota saya, Solo, Jawa Tengah. Hal itu dipastikan, Kamis (17/9/2009) lalu, saat polisi mengumumkan bahwa satu dari empat pria yang ditembak mati Tim Densus 88 Antiteror di Kampung Kepuhsari RT 03/RW XI, Mojosongo, Jebres, Solo, adalah Noordin.

Pria asal Malaysia itu tewas bersama tiga kawannya —termasuk Susilo alias Adib, pengontrak rumah di Kepuhsari tersebut. Susilo sehari-hari dikenal sebagai pekerja bagian perawat sapi di sebuah pondok pesantren (Ponpes) tak jauh dari rumahnya, Ponpes Al Kahfi.

Setelah keberadaan sekaligus kematian Noordin di rumah Susilo di Mojosongo terungkap, maka terkuak pula beberapa hal lain. Misalnya, Susilo ternyata sering mengajari pencak silat sebagian  anak-anak yang ikut Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang diselenggarakan istri Susilo, Putri Munawaroh. Mereka, antara lain, Andika Bayu Pamungkas, 12 (foto paling kanan), Indro Purnomo, 11, dan Kenvin Yovi Pratama, 10.

Hiasan Keong Atawa Siput

keong

ISTRI saya sering gatal tangan jika mengetahui ada barang yang dapat dipakai menghias warung makannya —tak soal barang tersebut mahal atau murah. Dia juga tahu tempat di mana barang-barang tersebut dibeli, dan tak segan memperolehnya meski harus dibeli dari luar Kota Solo, kota tempat keluarga kami tinggal.

Tetapi membeli ke luar kota bukan berarti dia yang mesti ke kota di luar Solo itu. Untuk Kota Surabaya, misalnya, dia tinggal meminta tolong saya, yang menghabiskan banyak waktu untuk bekerja (enam hari dalam sepekan).

Termasuk, ketika istri saya tahu bahwa di kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya, dijual banyak barang-barang hiasan yang berasal dari binatang laut. Misalnya keong dan kerang.

Dua pekan lalu, sesuai permintaan istri, saya ke Kenjeran, membeli barang-barang seperti (bekas) keong dan kerang tersebut. Bentuknya bermacam-macam, harganya bervariasi —antara Rp 1.000 sampai Rp 45.000.

Setelah saya bawa pulang ke Solo, benda-benda itu dipasang di berbagai tempat. Sebagian di seputar warung makannya, Warung Selat Mbak Lies; sebagian lagi di dalam rumah, dan sebagian di antaranya di kamar mandi.

Agenda Utama : Memindahkan Gudang

mindah-gudang-vertikal-oke1

HARI Selasa (15/9/2009), mulai sekitar pukul 08.15 WIB-12.00 WIB tadi, saya habiskan waktu dengan ikut rame-rame memindahkan sebuah gudang di Kota Surabaya, Jawa Timur. Kisahnya ada di sini.

Sepur Semen. Bukan Sepur Terbuat dari Semen

sepur-semen

GERBONG sepur pengangkut semen ini saya potret di Stasiun Solo Purwosari, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2009) pagi lalu. Tak ada yang istimewa dengan gerbong tersebut. Saya potret gerbong itu hanya karena saya memang ingin memotretnya, saat saya hendak kembali ke Kota Surabaya, Jawa Timur, untuk bekerja. Sekian. Harap maklum. Terimakasih.

Sinar Matahari Terasa Lebih Panas daripada Biasa

SAMPAI Sabtu (12/9/2009) kemarin, lima kali sudah saya ikut menjadi salah seorang relawan proyek pembangunan Balai Kerajaan di Kota Surabaya, Jawa Timur. Bekerja bersama rata-rata sekitar 20 saudara-saudari seiman sesama pengikut Yesus Kristus dan penyembah Yehuwa (nama pribadi Allah).

Jadwal rutin saya datang ke lokasi proyek seluas 800 meter persegi itu adalah setiap Selasa pukul 08.00 WIB-12.00 WIB. Tetapi jika kebetulan pada hari Sabtu tak ada kegiatan, saya pun memilih menyumbangkan tenaga ke proyek pembangunan tempat ibadat Saksi-Saksi Yehuwa tersebut, termasuk Sabtu (12/9) kemarin.

proyek-sabtu

Jenis pekerjaan yang saya pilih, Sabtu itu, sama seperti waktu-waktu sebelumnya : pekerjaan kuli bangunan. Demikian pula yang dilakukan mayoritas saudara-saudari. Maklum, sebagian besar di antara para relawan memang tidak memiliki keahlian di bidang konstruksi —bukan tukang bangunan— sehingga hanya bisa bekerja bak kuli bangunan.

Read the rest of this entry »

Kisah Sepatu Kulit dan Baju Lengan Panjang Ryan

baju-ryan

SEJAK pertengahan bulan Agustus lalu keluarga kami sibuk mencarikan sepatu kulit dan baju lengan panjang untuk anak bungsu saya, Ryan. Ternyata, sulit membeli dua barang tersebut bagi anak saya yang duduk di kelas II SMP itu.

Untuk sepatu, misalnya, ukuran kaki Ryan termasuk tanggung. (Sehari-hari, jika bersekolah Ryan memakai sepatu kets berukuran 35). Suatu sore, dua pekan lalu, saya bersama Ryan mendatangi delapan toko sepatu di kota kami, Solo, Jateng, tetapi ternyata tidak ada sepatu kulit berukuran 35.

Di toko-toko tersebut, sepatu kulit yang ada berukuran paling kecil 38 (untuk dewasa); sedangkan sepatu anak-anak paling besar ukuran 32. Saya sempat ke sebuah toko yang melayani pemesanan pembuatan sepatu kulit, tetapi ternyata jika pesan perlu waktu sebulan hingga 3 Oktober. (Padahal, Ryan akan memakai sepatu itu pada Kamis petang, 10 September 2009).

Read the rest of this entry »

Calon Jalan untuk Sepur Berlokomotif Uap

perbaikan-rel1

TIDAK banyak kota seperti Solo, Jawa Tengah :  kota yang memiliki jalur kereta api di tengah kota. Benar, kalau Anda pergi ke  Solo, Anda bisa melihat ada rel sepur yang terpasang sejajar dengan  jalan protokol Solo —Jalan Slamet Riyadi— di tengah kota.

Tentu saja rel tersebut merupakan rel lama alias rel tua,  peninggalan era penjajahan Belanda tahun 1901. Meski rel jadoel, namun rel ini masih dipakai untuk jalan sepur, yaitu Kereta Api Bengawan Wonogiri, yang sering disebut sebagai “kereta feeder Wonogiri”.

Karena rel berada di tengah kota, kadang-kadang terjadi kecelakaan lalu lintas antara sepur yang melintas di atas rel tersebut dengan mobil. Sekian tahun silam, misalnya, mobil yang dikendarai anak Wali Kota Solo tertabrak kereta api itu saat mobil keluar dari rumah dinas wali kota.

Read the rest of this entry »

Relawan Pembangunan yang Tak Bisa Menukang…

tandon-air-saja

SYUKUR kepada Allah Yehuwa (nama pribadi Allah). Kegiatan kami —saya bersama sekitar 30 saudara-saudari seiman— di proyek pembangunan Balai Kerajaan di sebuah kawasan di Kota Surabaya, Jawa Timur, Selasa (1/9/2009) pagi sampai sore tadi, telah berlangsung lancar.

Mayoritas dari kami tak memiliki ketrampilan menukang. Maka tak heran bahwa sebagian besar di antara kami, pria maupun wanita, melakukan pekerjaan bak kuli bangunan. Misalnya, menggali lobang untuk dipakai pondasi, mencampur semen dengan pasir, dan usung-usung batu bata.

Pekerjaan kasar semacam itu sudah saya lakukan sejak mulai ikut menjadi relawan proyek membangun tempat ibadat bagi Saksi-Saksi Yehuwa itu akhir Agustus 2009 lalu, tepatnya 25 Agustus. (Karena kesibukan pekerjaan, saya hanya bisa datang setiap Selasa dan Sabtu, selama setengah hari, pukul 08.00 WIB-12.00 WIB. Saya tidak bisa mengambil penuh-waktu, pukul 08.00 WIB-17.00 WIB).

Lelah, capai, dan pegal-pegal —tentu saja. Apalagi, saya dan para saudara-saudari pengikut Yesus Kristus tersebut bekerja di bawah sinar matahari nan panas. Tetapi kami semua menikmati semua itu. Saat mulai merasa capai, kami break sejenak, minum, atau menikmati makanan kecil, setelah itu bekerja lagi.

warung-pecel-ponorogo

Pukul 12.00 WIB, semua relawan pun menghentikan pekerjaan masing-masing, kemudian menuju tempat berteduh, di depan gudang. Mereka yang membawa “ransum” makanan mulai menyantap makanan tersebut. Sebagian lagi, yang tak sangu bekal dari rumah, segera ke depan lokasi proyek, membeli makanan di sebuah warung kecil berharga murah, antara lain nasi pecel Ponorogo seharga Rp 2.500 per piring.

Alkitab Apa Isinya?

alkitab-apa-isinya-oke

PUBLIKASI ini, yang berjudul Alkitab, Apa Isinya?, dirilis oleh Saksi-Saksi Yehuwa melalui serangkaian Kebaktian Distrik 2009 “Tetaplah Berjaga-jaga!”, yang beberapa waktu lalu dilaksanakan di 27 kota. Misalnya, di Kebaktian Distrik di Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), 25 Juni-28 Juli 2009 lalu; dan di Kota Surabaya, Jawa Timur, 3-5 Juli 2009.

Dicetak dalam 32 halaman warna, brosur ini terdiri atas 26 bagian. Mulai dari bagian berjudul “Pencipta Memberi Manusia Suatu Firdaus “(dari Kitab Kejadian) hingga bagian berjudul “Firdaus Dipulihkan!” (Kitab Penyingkapan atau Wahyu).

Adapun ringkasan isi Alkitab yang dipaparkan oleh Alkitab, Apa Isinya? terbitan Saksi-Saksi Yehuwa ini terdiri atas tujuh poin penting. Poin-poin tersebut adalah:

Read the rest of this entry »