RSS Feed for This PostCurrent Article

Pesta Perpisahan yang Tak Sempat Saya Ikuti…

ror1-potong-460.jpg

DUA kali saya tak bisa ikut menikmati pesta makan enak —dengan lauk sate dan gule kambing— yang dihidangkan oleh Mas Abror. Pertama, lebih dari setahun silam, tatkala dia mengundang kami, para anak buahnya, makan-makan di rumahnya. Saya lupa apa momen acara siang hari tersebut; yang pasti, saat itu saya sedang berada di Solo, menikmati libur rutin sehari setiap pekan bersama keluarga.

Kedua, Jumat (15/8/2008) sekitar pukul 08.00 WIB lalu, sewaktu dia menggelar ‘pesta perpisahan’ dengan anak-anak buahnya, di ruang rapat kantor. Kala itu, saya sedang cuti sehari di Jakarta untuk urusan keluarga, melayat ke rumah mertua.

Pesta perpisahan? Benar. Pemilik nama lengkap Dhimam Abror Djurait, yang punya nama isinial ror, ini segera berpisah dengan anak-anak buahnya. Dia meninggalkan jabatannya sebagai pemimpin redaksi di koran saya, Harian Surya, untuk memegang jabatan serupa di Surabaya Pos. Kemungkinan besar ror akan berkantor di tempat baru itu mulai 1 September 2008 mendatang. 

Kepastian ror hendak pindah kerja ini saya dengar sekira empat jam sebelum ‘pesta perpisahan’ tersebut, Jumat (15/8) sore, saat saya dari Jakarta menelepon teman di kantor, di Surabaya. Teman lain, Jumat (15/8) menjelang tengah malam, mengabarkan suasana pesta perpisahan itu via SMS.

Sehari kemudian, Sabtu (16/8) pagi, seraya duduk di kursi Sepur Fajar Utama yang membawa saya dari Jakarta ke Yogyakarta, saya kirim SMS ke Abror. Intinya, mengabarkan bahwa saya tidak bisa ikut ‘pesta perpisahan’ di Surabaya tadi malam, karena sedang berada di Jakarta.

[Sampai saya posting tulisan ini, Selasa (19/8) siang, SMS saya tersebut tak berbalas. Seingat saya, baru kali ini ror tak membalas SMS saya sejak saya menjadi salah satu anak buahnya mulai sekitar dua setengah tahun silam….].

Menurut saya, wajar ror memilih meninggalkan Surya, untuk kemudian bergabung dengan media massa lain. Salah satu alasannya, karena meski di bagian redaksi koran saya ini dia memiliki jabatan tertinggi —tentu saja dengan gaji tertinggi pula— namun status ror di Surya  ‘hanya’ menjadi ‘tentara bayaran’. Beda dengan mayoritas anak buahnya, termasuk saya, yang berstatus karyawan.

Sebagai ‘tentara bayaran yang profesional’ —begitulah ror mengistilahkan dirinya sendiri tatkala 17 Maret 2006 lalu resmi diperkenalkan oleh manajemen kantor saya sebagai pemimpin redaksi baru koran saya— apakah dia kini telah kalah? Ataukah justru menang? Jawabannya tentu debatable.

Kalah atau menang, yang jelas, kepemimpinan Abror telah mewarnai sejarah Surya. Bahkan dia telah mencatat sejarah sebagai orang pertama dari luar Kompas yang bisa menduduki posisi pemimpin redaksi di Surya sesudah Surya berada di bawah Manajemen Kompas-Gramedia. Betul, Surya adalah salah satu anak perusahaan Kompas; dan Abror sebelum menjadi pemimpin redaksi Surya pernah menjabat pemimpin redaksi Jawa Pos, yang dikenal sebagai saingan Surya….

@ Foto oleh Wahyu Nurdiyanto

Trackback URL

  1. 7 Comment(s)

  2. By nothing on Agu 19, 2008 | Reply

    ada awal ada akhir, dan semoga akhirnya tetap akhir yang bahagia :)

  3. By esi on Agu 19, 2008 | Reply

    sama pak jun, saya juga ndak sempat ikut farewell party itu.begitu juga party-party di rumahnya. Yang saya sepat hadir, ketika sunatan putra beliau. entah karena ada felling atau karena apa, saya ingin sekali datang ke sunatan itu. hehe..Sampe2 suami mbelain2 datang ke sby nemani saya, terus besoknya balik ke yk.
    saya jadi ingat sesuatu…di sunatan itu, ada sebuah karangan bunga besar ucapan selamat, malah satu-satunya karangan yang terpajang di dekat meja tamu. pengirimnya tertulis: pt minarak lapindo jaya….

  4. By si dhita on Agu 20, 2008 | Reply

    Desas desus sudah lama Pak Jun. Apalagi di sebuah milis malah dengan amat pedas mengabarkan ‘kekalahan’ Sdr ror. Buat saya, Pak ror sudah kalah. Kalah oleh idealisme dan ucapannya sendiri. Entah apa yang menjadi pertimbangannya. Tapi itu semua kembali ke hak setiap individu. Hidup adalah pilihan. Hidup adalah perbuatan (lha kok SB bangeettttt). Monggo mampir di ‘rumah’ saya. Nuhun

  5. By uji on Agu 22, 2008 | Reply

    saya juga ndak sempat ikut farewell party 14 agustus lalu pada MALAM JUMAT KLIWON. maklumlah, awak kan di daerah, bumi ronggolawe. sehingga tak sempat memberi ucapan langsung kepada Lek Abror.
    sama dengan pak Jun, ucapan selamat wal selamit lalu saya kirim via SMS, 19 Agustus siang, selang 3 hari paska bancakan satai, gulai, dan kebulai di ruang kaca mabes.
    Dan ndilalah kersane Allah, SMS ku langsung berbalas. Beliaunya menegasken, meski pindah dapur, jalan yang ditapaki tetap sama. Dunia jurnalistik. Beliaunya juga bilang suatu saat pasti akan bertemu kembali.

  6. By aji on Agu 26, 2008 | Reply

    pak jun, pak abror pernah komen via sms gini usai baca blog saya tentang keluarnya dia dari surya.
    “seperti baca eulogy,”
    ……………………….
    entah pak ror mengartikan eulogy itu sbg apa. tapi, setau saya, eulogy paling ngetrend utk menyebut pidato kenangan yg kebanyakan berisi pujian untuk seseorang ketika disemayamkan..
    saya bales gini. “semoga bukan.karena bila eulogy, tentu kita tak bertemu lagi..,”

  7. By Daus on Agu 28, 2008 | Reply

    Pada nangis kayaknya tuh. Bos yang baik ya? ;)

  8. By de on Sep 2, 2008 | Reply

    SMS sampeyan masih pending kali Mas Jun, makanya gak dibales? Pake fleksi kan?? :d

Post a Comment