Ada yang Tetap Urakan. Ada yang Jadi Pelontos…
By warungselatsolo on Agu 17, 2008 in sahabat
SANGAT menggembirakan bersua kembali dengan kawan-kawan lama, apalagi setelah beberapa tahun tak jumpa. Jarak membuat saya tak gampang bertemu kawan-kawan itu : sehari-hari mereka di Jakarta, saya di Surabaya.
Hingga empat tahun silam, saya masih kerap berjumpa mereka lantaran sama-sama bekerja di Jakarta. Namun setelah saya dipindah ke Surabaya oleh manajemen kantor saya, Nopember 2004, persahabatan dengan kawan-kawan di Jakarta ini diteruskan melalui telepon, telepon seluler, SMS, e-mail, dan atau YM!
Sampai kemudian, Jumat (15/8/2008) lalu, saya harus ke Jakarta untuk keperluan pribadi, bukan urusan kantor, yaitu ke rumah mertua. Tentu saja di sela-sela acara keluarga ini saya tak sia-siakan kesempatan untuk menemui mereka, kawan-kawan lama tersebut.
Maka, saya pun bertemu Ulin Niam Yusron, Muhammad Zainuri, Hery Prasetyo, dan Yus Ardiansyah. [Foto pada bagian atas posting ini menunjukkan urut-urutan nama-nama tersebut, dari kiri ke kanan. Kami berfoto di halaman belakang Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, di kawasan Tebet].
Ulin, mantan jurnalis Kontan yang kini pelaku bisnis informasi ala ‘intel partikelir‘, masih tetap ‘urakan’ sekaligus menebar suasana keriangan dengan canda-candanya. Tak beda dengan Zainuri, yang biasa disapa Zen. Produser TV One yang juga pengantin baru ini pun setali tiga uang dengan Ulin : ‘urakan’, senang berteriak. Tetapi, bila menelepon, apalagi menelepon istrinya, saya yakin Zen pasti kehilangan urakannya; dia bicara dengan berbisik-bisik….
Zen juga tambah gemuk. (Ulin menyenggol saya seraya berbisik: itu karena Zen semakin kaya dan makmur). Hery Prasetyo, tak banyak berubah. Hery sejak beberapa bulan lalu diperbantukan oleh kantornya, Soccer, ke Kompas.com sebagai editor olahraga. Wartawan dengan nama panggilan hpr —inisialnya sejak bekerja di Bernas sekira 20 tahun silam— ini juga masih rutin pulang ke Yogyakarta setiap dua pekan, menengok istri dan anak-anaknya.
Bagaimana dengan Yus, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, itu ? Yus, yang menikah Agustus 2007 lalu, ternyata kini pelontos. Yus pernah sekantor dengan saya, di Biro Jakarta Tabloid Bangkit. Hal yang tak berubah dari manajer Kantor AJI Jakarta ini adalah penampilannya yang kalem, dan klecam-klecem.
Sangat menggembirakan bersua kembali dengan kawan-kawan lama, apalagi saat bertemu lagi itu kondisi kami sehat semua. Saling meledek, bercanda, tertawa-tawa…. Bercerita tentang keluarga, mengenai pekerjaan, kegiatan rohani, dan lain-lain.
Tak ada yang berkisah tentang keluhan. Ada, memang, yang menceritakan kenakalan anak, tetapi sebenarnya itu bukan keluhan melainkan pamer. Hpr, misalnya, bercerita bahwa kebandelan anak sulungnya, Olan, tak berkurang setelah duduk di kelas II SMA di Yogyakarta. Saking bandel dan beraninya, Olan berani menantang polisi yang hendak menilangnya karena melanggar peraturan lalu lintas….
Saya juga sempat ‘pamer’ ke Hery mengenai keberanian anak saya, Okky a.k.a Opi, yang sekarang kelas III SMPN 3 Solo. Saat masih duduk di kelas II, Opi ‘berani’ tidak membayarkan uang SPP sampai delapan bulan lamanya, untuk dipakai beli jajan.
(‘Keberanian’ itu baru terbongkar tatkala dia naik kelas III, yaitu saat hendak mengambil buku raport. Kenakalan Opi, tentu saja, berbuah kemarahan besar saya. Salah satu hikmahnya, kini dia mulai belajar Alkitab kepada Saksi-Saksi Yehuwa di Solo).
Memang sangat menggembirakan bersua kembali dengan kawan-kawan lama. Maka, hari Minggu (17/8/2008) malam ini saya mengenang kisah perjumpaan yang menggembirakan tersebut seraya berharap suatu saat bertemu lagi dengan para sahabat itu, tetap dalam kondisi sehat semua….


1 Comment(s)
By nothing on Agu 18, 2008 | Reply
detektif lima sekawan
merayakan ulang tahun ajibon, pake `bon` soalnya ga boleh nerima amplok, cukup `bon` saja haha
* No offense