RSS Feed for This PostCurrent Article

Tak Perlu Pakai Penglaris

isu-pelaris-oke-456.jpg

MESKI terletak di dalam kampung, masuk gang kecil —hanya bisa dilewati sebuah mobil— namun warung makan istri saya relatif sangat ramai pembeli. Terutama pada waktu hari Sabtu dan Minggu, atau pada saat hari libur tanggal merah.

Suasana padat pembeli biasa terjadi siang hari. O, ya, warung istri saya itu buka pukul 10.00 WIB-17.00 WIB. Meski demikian, sering sebelum jam 10.00 ada beberapa pembeli datang mau makan, bahkan pernah ada dua orang datang pukul 06.00 pagi, karena mengira jam segitu sudah buka.

Karena kami tak punya tempat parkir luas, khususnya untuk mobil, para pembeli yang bermobil memarkir kendaraan  mereka di halaman rumah tetangga sebelah. Itupun tak bisa banyak, maksimal empat mobil. Uang jasa parkir diterima tetangga sebelah.  Pak Jasadi, demikian nama tetangga itu, dulu penarik becak, kini beralih profesi sebagai pengelola tempat parkir di halaman rumahnya.

Jika pas puncak keramaian, saking banyaknya pembeli datang, sebagian di antara mereka rela memarkir mobil di jalan beraspal di mulut gang rumah kami. Setelah itu, mereka berjalan kaki ke warung, sekira 30 meter. Hampir setiap hari terjadi demikian.

Begitulah gambaran suasana keramaian warung istri saya, Warung Selat Mbak Lies. Di dalam kampung tetapi amat-sangat ramai, bahkan kadang-kadang seperti pasar-malam. Sehingga, tak heran jika pada sebagian orang —terutama orang-orang yang berpikiran ngeres— menduga istri saya memakai penglaris untuk warungnya ! Penglaris itu berarti menggunakan jasa dukun, paranormal, dan atau rombongannya.

Orang-orang yang berpikiran jelek demikian itu karena tidak pernah tahu sejarah perwarungan istri saya. Mereka hanya tahu sekarang bahwa Warung Selat Mbak Lies, dengan sekitar 15 pekerja tetap dan part time, ini amat-sangat ramai pembeli. Sebuah warung makan besar.

Mereka tidak tahu bahwa istri saya tak mendadak —seperti sim salabim— bisa memiliki sebuah warung makan yang besar dan ramai seperti sekarang. Mereka tidak tahu bahwa istri saya berjualan sudah sejak sekitar 23 tahun, yaitu setelah lulus SMA. Bekerja keras sejak lama, bahkan sempat berdagang es lilin.

Mereka tak tahu betapa, dulu, saat mulai berjualan, istri saya tatkala kulakan ke pasar sering merasa malu bila bertemu bekas teman-teman SMA yang mampu kuliah. “Bagaimana nggak malu, wong aku ke pasar kulakan, dan naik sepeda, sedangkan mereka kuliah, rata-rata naik sepeda motor…,” kenang istri saya.

Mereka, yang berpikir ngeres demikian, adalah orang-orang yang tak menghargai kerja keras orang lain. Juga, tidak paham bahwa rezeki bukan ditentukan oleh penglaris melainkan kerja keras, nasib baik, dan —tentu saja—  berkat dari Allah Yehuwa.

Trackback URL

  1. 2 Comment(s)

  2. By si dhita on Agu 20, 2008 | Reply

    ck..ck….ck…. hebat istrinya Pak Jun. Saya ini sampai sekarang masih sebatas mimpi pengen punya warung makan (eh depot dink). Tapi sampai sekarang belum berani. Pak, lha kok masih betah di kantor. Mending pulang dan nggedein warung jadi restoran. He…he…Tapi jangan deh Pak. Konon kalau warung dijadikan besar (diperbagus) rezekinya nggak sebagus saat masih jadi warung karena orang jadi pada takut makan di situ karena dikira harganya mahal.

  3. By Imuth on Agu 28, 2008 | Reply

    wah pak warung istrinya hebad banged, saya saja sejak berhenti kerja ikut suami tugas kantor hanya bertahann 3 bulan untuk buka catering, selebihnya sampe skrg saya gak lagi masak untuk catering karna merasa gak sanggup.
    buka sate selat di malaysia dong pak …
    Sukses selalu

  1. 1 Trackback(s)

  2. Nop 19, 2008: cintalilis, selamanya… » Hujan Kepagian di Surabaya

Post a Comment