Menteri Pun Menikmati Selat Istri Saya…
BEBERAPA nama terkenal pernah makan di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. Misalnya, artis-pelawak Dono Warkop semasa hidup, atau penyair-dramawan WS Rendra.
Hari Rabu (30/7/2008) lalu, kembali ada sosok terkenal yang menikmati makanan khas warung istri saya, yaitu selat. Dialah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans), Erman Suparno. Dia menyantap selat dan minum wedang tape ketan hangat setelah mengikuti acara dinas di Solo dan acara pribadi di Keraton Kasunanan Solo.
Erman bersama rombongan —para pejabat dan karyawan di lingkungan Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans), termasuk dari kantor Solo— datang Rabu sekira pukul 11.00 WIB. Semula, sehari sebelumnya, Selasa (29/7), salah seorang karyawati Depnakertrans Solo memberitahu istri saya bahwa menteri dan rombongan akan datang untuk makan pada hari Selasa (29/7) pukul 14.00 WIB.
Merespons baik rencana kedatangan menteri dan rombongan, Selasa siang, istri saya mempersiapkan para pekerja warungnya menyambut mereka sejak Selasa pagi. Ternyata, menjelang pukul 14.00, dia ditelepon, diberi tahu bahwa menteri dan rombongan batal datang; sebagai gantinya, pihak Depnakertrans Solo membeli puluhan bungkus selat.
Istri saya bersikap biasa saja menanggapi pembatalan tersebut. Sampai sehari kemudian, Rabu menjelang pukul 11.00 WIB, tiba-tiba karyawati Depnakertrans Solo yang juga langganan warung makan kami itu kembali menelepon, mengabarkan Erman dan rombongan akan datang.
Benar, sekira 10 menit kemudian, rombongan menteri tiba. Erman dan sebagian rombongan memilih tempat lesehan di selatan jalan, seberang warung-sekaligus-rumah-kami. Sebagian lainnya di sebelah utara jalan, di teras rumah yang jika pagi sampai sore menjadi tempat makan para pelanggan, juga secara lesehan.
Ketika rombongan sudah memesan makanan dan minuman, saya menyalami Erman, kemudian memperkenalkan diri. Ternyata, dia masih ingat saya. “Iya, saya masih ingat Anda. Sekarang tambah gemuk,” katanya setelah menerima salaman tangan saya, kemudian tertawa.
Sebelum ini saya memang beberapa kali bertemu Erman. Saat saya masih menjadi reporter Harian Surya Surabaya yang ditugaskan di Jakarta, akhir Juli 1998 sampai pertengahan November 2004, saya beberapa kali mewawancarai dia, baik secara langsung maupun lewat telepon. Namun kala itu Erman belum menjadi menteri melainkan ‘hanya’ anggota DPR RI dari PKB.
Tetapi, terus terang, sebenarnya saya tidak menyangka memori Erman masih merekam keberadaan saya. Dan saya yakin dia benar-benar memang masih ingat saya —bukan sekadar basa-basi— karena terbukti dia menyebut saya tambah gemuk, tepatnya menjadi gemuk. Benar. Dulu berat badan saya memang hanya 47 kilogram, kini 67 kilogram, alias naik 20 kilogram….



owwhh..
jadi penasaran pengen nyoba makan di warungnya juga
Komentar oleh nonadita — Agustus 1, 2008 @ 10:44 pm
@ nonadita : Silakan datang untuk makan, Nonadita. Ajak Mas Zam juga ya…. Hehehehe.
Komentar oleh juniantosetyadi — Agustus 1, 2008 @ 10:49 pm
betul, rasane cen mak nyuss..
saya pernah makan ke sana dua kali…
tapi yang terakhir [sekitar bulan februari 2008]lebih nikmat … lha makannya ga bayar alias gratis..di traktir tuan rumah, alias pak jun
[suwun pak jun, kapan kapan neh yo...]
Komentar oleh nothing — Agustus 1, 2008 @ 11:17 pm
Klo ke surabaya bawa dong brur, pingin incip …
Komentar oleh sut don — Agustus 2, 2008 @ 11:44 am
wah..selat kuwi modele piye pak jun..
tak mau kalah, semoga suatu saat susilo bambang yudhoyono minta dibuatkan kaos ke saya……hehehehe
Komentar oleh aji — Agustus 2, 2008 @ 8:17 pm
@ aji : hehehehe. sip, sip. selat iku modele bisa dilihat di sini :http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/07/04/menu-andalan-warung-selat-mbak-lies/
Komentar oleh jun — Agustus 2, 2008 @ 8:41 pm
[..@ aji : hehehehe. sip, sip. selat iku modele bisa dilihat di sini :http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/07/04/menu-andalan-warung-selat-mbak-lies/..]
Jan ga mutu tenan, mosok mung di delokne gambar tok… yo mbok diajak ke solo si aji itu, trus di kasih contoh soal yang asli… hehe
Komentar oleh nothing — Agustus 3, 2008 @ 6:26 pm
@ sut don : Pengen juga sih bawa selat dari Solo ke Surabaya, brur. Masalahnya, tiap dari Solo, saya berangkat naik sepur pukul 08.12 WIB, padahal warung istri saya buka jam 09.00. Alias belum mateng masakannya….
Komentar oleh jun — Agustus 3, 2008 @ 9:09 pm
wah, ada selat solo di jakarta ndak ya? jadi penasaran nih. apalagi bila ada yang traktir. hehehehe
Komentar oleh bangsari — Agustus 4, 2008 @ 2:31 pm
pak jun, kalo aku ke solo, aku mampir ke sana ya!
ada rencana dalam waktu dekat ke sana, moga2 jadi
Komentar oleh esi — Agustus 5, 2008 @ 5:14 pm
@esi : Monggo, silakan mampir kalau nanti jadi ke Solo.
Komentar oleh jun — Agustus 5, 2008 @ 11:57 pm
@bangsari : Dulu, sudah lama sih, aku pernah baca Kompas tentang restoran yang jual selat-Solo di Jakarta. Moga-moga ada yang segera nraktir Anda, hehehehe.
Komentar oleh jun — Agustus 6, 2008 @ 12:02 am
ndak sekalian kampanye kan ? hehe..
Komentar oleh Jenk — Agustus 11, 2008 @ 5:58 pm
kampanye juga ndak Jeng. Lha wong kenyataannya emang uenak koq…. *penasaran mode on*
Komentar oleh khai — Agustus 11, 2008 @ 10:41 pm
@ Jenk dan khai : Kampanye? Iya, kampanye bahwa makan selat itu enak dan sehat, hahahaha.
Komentar oleh jun — Agustus 12, 2008 @ 11:31 am
[...] Dia memajang tirai-tirai itu di salah satu tembok di depan rumah sekaligus warung makannya, Warung Selat Mbak Lies. Hanya kadang-kadang saja ada pelanggan warung makan yang membeli tirai-kerang, itupun belum tentu [...]
Ping balik oleh Tirai Kerang Versi Kenjeran : warung selat: — September 9, 2008 @ 9:30 pm
[...] istri saya, warung makan miliknya, Warung Selat Mbak Lies, sungguh sangat berharga. Karena, selain menghidupi keluarga kami dengan lebih dari cukup, warung [...]
Ping balik oleh Ornamen Warung Selat : warung selat: — Oktober 27, 2008 @ 11:17 pm
[...] istri saya, warung makan miliknya, Warung Selat Mbak Lies, sungguh sangat berharga. Karena, selain menghidupi keluarga kami dengan hasil lebih dari cukup, [...]
Ping balik oleh cintalilis, selamanya… » Ornamen Warung Selat — Oktober 28, 2008 @ 11:19 am
[...] kami, di sela jagong manten itulah dokter muda tersebut diajak kerabat yang lain makan di warung makan istri saya, dan ponselnya tertinggal. “Saya nggak menyangka handphone anak saya akan bisa kembali setelah [...]
Ping balik oleh cintalilis, selamanya… » Ponsel Tertinggal di Warung Selat — Desember 27, 2008 @ 11:56 am
pak jun mbok tiyang njoyo disukani diskon njiih…rasanya memang beda kok dari yang lain, citarasa SOLO mak nyuus
Komentar oleh nugie — Januari 8, 2009 @ 3:35 pm
saya pernah makan di warung selat mbak lies,,
rasanya maknyuss dan pengen lagi dan lagi….
Komentar oleh oktarina sandra — Maret 20, 2009 @ 10:04 am
[...] gelas. Gelas untuk warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. Bukan hanya satu buah gelas melainkan puluhan. Harganya kalau tidak salah sekitar Rp 10.000 per [...]
Ping balik oleh warung selat: » Blog Archive » Gelas Jago. Awet, dan Bagus — April 20, 2009 @ 7:12 pm
ada yang tahu nggak alamt dan no.telepon warung selat mbak lies
Komentar oleh irfan — Juli 28, 2009 @ 7:26 pm
@ irfan : alamanya di sini
http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2008/05/02/tuan-tuan-dan-puan-puan-silakan-berkunjung/
Komentar oleh warungselatsolo — Juli 31, 2009 @ 4:56 pm
kemarin waktu ke jogya mau mampir pas puasa, uh getun tun pariatun
Komentar oleh nonreni — September 9, 2009 @ 8:43 am
mbok dikasih alamat atau jalur to mas aku, mulau dari rute klwer aja, atau slamet riyadi, solo baru, terserah mana ku usahakan mampir meski mas Juni nggak ada nggak papa
Komentar oleh nonreni — September 9, 2009 @ 8:45 am
@ Nonreni : Pasar Klewer ke barat tidak jauh. Sampai perempatan pertama (yang tidak ada lampu merahnya) belok ke kiri/selatan/ke arah Solo Baru (agak jauh). Sampai perempatan yang ada lampu merah (Perempatan Gemblegan) belok ke kanan/ ke barat tidak jauh. Sampai perempatan lampu merah (Perempatan Sraten) belok kiri/selatan sedikit. Gang 2 (gang kecil) masuk ke timur/kiri. Mobil bisa diparkir di pinggir jalan, atau dimasukkan gang kecil.
Alamatnya Serengan Gang II/42 Solo telp 0271- 653332. Kidulnya Perempatan Sraten. Cari dulu Perempatan Sraten, jadi lebih gampang.
Komentar oleh warungselatsolo — September 9, 2009 @ 1:47 pm