RSS Feed for This PostCurrent Article

PSB Online yang (Sempat) Membuat Stress

ciilikjuga-84.JPG

psb-cilik-106.JPG

SEJAK hari Selasa (1/7/2008) siang lalu sampai Sabtu (5/7) dini hari, konsentrasi saya benar-benar kacau. Seraya bekerja di kantor, saya terus-menerus merefresh alamat http://www.ppdbonline-solo.net.

Benar. Seperti halnya ribuan orangtua murid lain dari Solo dan sekitarnya, saya stress karena harus memasukkan anak ke SMP di Solo. Kali ini, anak ragil saya, Ryan, yang mendaftar ke SMP setelah lulus dari SD Kanisus 1 Serengan, Solo. Pengalaman stress serupa saya alami dua tahun lalu, ketika kakak Ryan, Okky alias Opi, mendaftar ke SMP, dan akhirnya diterima di SMPN 3 Solo.

Melalui alamat situs tersebut -–sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB) online— saya di Surabaya memantau hasil proses persaingan dan seleksi para calon murid SMP negeri Solo. Persaingan dan seleksi ini dilakukan atas dasar nilai Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN), yang dulu lebih populer dengan nama Nilai Ebtanas Murni (NEM).

Terus terang, saya agak kebat-kebit karena nilai USBN Ryan hanya masuk kategori lumayan, yaitu 22,70, atau rata-rata 7,56 (dibagi tiga mata pelajaran, Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA). Ryan jeblok pada Matematika, hanya memperoleh lima; namun bagus pada Bahasa Indonesia, mendapat nilai sembilan.

Senin (30/6/), atau sehari sebelum pendaftaran, saya menemui beberapa kenalan saya di Solo yang menjadi guru SMP negeri, dan juga bertanya kepada beberapa orang yang punya referensi tentang pendaftaran murid baru. Hasil diskusi, saya memutuskan mendaftarkan Ryan ke SMPN 10 (sebagai pilihan pertama), dan SMPN 22 (pilihan kedua).  Gedung SMPN 22 terletak di Jl Irawan Makam Bergolo, Serengan, tak begitu jauh dengan rumah saya.

Di Solo, setiap pendaftar memang diberi kesempatan mendaftar ke dua SMP negeri dan dua SMP swasta (pilihan satu sampai empat). Untuk pilihan dua SMP swasta, terus terang saya abaikan karena saya yakin Ryan bisa masuk SMP negeri, kalau tidak SMPN 10 ya SMPN 22.

Begitulah, Ryan akhirnya mendaftar ke SMPN 10 dan SMPN 3. Pendaftaran dilakukan oleh adik ipar saya, karena saya sudah harus kembali ke Surabaya untuk bekerja. Tugas saya memantau proses persaingan dan seleksi via internet, sejak Selasa (1/7) sampai berakhir Jumat (4/7) malam, atau paling lambat Sabtu (5/7) dini hari.

Hal itulah yang membuat konsentrasi saya benar-benar kacau. Maka, seraya bekerja di kantor, saya terus-menerus merefresh alamat http://www.ppdbonline-solo.net. Terus terang, saya kecil-hati karena, begitu mendaftar, Ryan sudah masuk peringkat 112. Apalagi, selang beberapa jam, saat saya refresh, peringkatnya semakin menurun, menjadi 125, 126, 152, 158, 176 ….

Pada hari Jumat (4/7) pagi, saya sudah bisa melihat bahwa Ryan pasti tidak diterima di SMPN 10, karena namanya terpental dari daftar seleksi sekolah di Jl Kartini, di sebelah Selatan Pura Mangkunegaran, itu. Di sana, nilai terendah calon siswa yang diterima adalah 23,2 (tertinggi 26,5).

Karena tereliminasi dari SMPN 10, otomatis nama Ryan ganti masuk ke daftar seleksi SMPN 22 sebagai sekolah pilihan kedua. Di sini, nilai Ryan termasuk lumayan. Buktinya, dia langsung bertengger pada nomor urut 41 (dari 212 pendaftar).

Dengan begitu saya optimistis Ryan pasti diterima di SMPN 22. Meski demikian, sampai update data oleh pihak penyelenggara PSB saya perkirakan selesai, Jumat malam, atau Sabtu dini hari, pikiran saya belum plong.

Sampai kemudian, Sabtu sekitar pukul 09.00, saya cek di internet, Ryan berada pada nomor urut 43 (turun dari angka dari sebelumnya). Saya yakin update data sudah berhenti, karena saat Sabtu sore saya refresh lagi berulang-kali, peringkat Ryan tetap tidak berubah.

Sekarang tinggal menunggu pengumuman resmi dari pihak sekolah, Rabu (9/7). Setelah itu daftar ulang, Kamis-Jumat (10-11/7), dan kemudian Ryan akan mulai menjadi murid kelas I SMP….

Trackback URL

Post a Comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image