Warung Selat Tayang Trans 7 dan Indosiar
By warungselatsolo on Jun 21, 2008 in ladang-hidup
HARI Jumat pagi, 13 Juni 2008. Warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, belum lagi dibuka karena belum pukul 09.00 WIB. Rumah kami gaduh. Istri saya meminta saya segera menyalakan televisi. Apa pasal? Ternyata, baru saja salah seorang pekerja part time alias pekerja pocokan warung menelepon dari rumahnya, mengabarkan bahwa Trans 7 akan menayangkan Warung Selat Mbak Lies.
Rupanya, mbak pekerja pocokan itu meneruskan kabar dari tetangganya, yang beberapa lama lalu juga pernah menjadi pekerja pocokan di warung istri saya. Mbak-bekas-pekerja-pocokan tersebut melihat pemberitahuan sang penyiar di Trans 7 bahwa setelah siaran iklan akan ditayangkan features tentang warung selat istri saya. Reporter Trans 7 beberapa hari sebelumnya memang datang ke warung sekaligus rumah kami di Serengan Gang II/42, Solo.
Benar juga. Tak lama kemudian, muncul tayangan tersebut, antara lain berupa narasi dan suasana warung. Ada pula wawancara dengan seorang ibu pelanggan warung yang sedang menyantap selat, dan wawancara dengan istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum alias Lilies.
Rumah kami gaduh lagi. Istri saya tersipu-sipu menyaksikan wajahnya sendiri dalam layar televisi; beberapa mbak pekerja warung yang ikut melihat tayangan juga tertawa saat melihat wajah mereka sendiri, atau temannya, muncul di layar televisi meski hanya sekilas.
Begitulah sihir televisi. Meski hanya tayangan pendek, namun mampu membuat heboh seisi rumah. Apalagi, sejumlah teman maupun kerabat kami, yang menyaksikan di rumah masing-masing, mengabarkan kepada istri saya bahwa mereka baru saja menyaksikan Warung Selat Mbak Lies di televisi.
Bahkan siang hari, ada beberapa pembeli di warung istri saya yang mengaku datang makan gara-gara menonton tayangan tersebut. “Saya bukan orang Solo; tadi saya lihat di televisi, kemudian jadi pengen ke sini,†kata seorang ibu berpakaian modis, yang datang mengendarai taksi bersama seorang temannya sesama perempuan berusia lebih muda.
Begitulah sihir dan magnet televisi, saudara-saudari. Saya, yang kebetulan mengambil libur hari Jumat –-biasanya saya libur Kamis, dan tiba di Solo dari Surabaya Kamis dini hari— ikut menyaksikan kegaduhan akibat sihir televisi tersebut di rumah kami.
(Beberapa hari setelah tayangan Trans 7 itu, Indosiar juga menayangkan Warung Selat Mbak Lies. Hanya, baik istri saya di Solo maupun saya di Surabaya tidak sempat menyaksikan tayangan itu. Istri saya diberi tahu beberapa temannya yang melihat tayangan di Indosiar).
