RSS Feed for This PostCurrent Article

Biaya Transportasi Naik. Saya Tetap Bersyukur…

karcis-bus25.JPG

KARENA saya bekerja di Surabaya, sedangkan keluarga tinggal di Solo, maka biaya yang harus saya keluarkan setiap pekan untuk pulang ke Solo semakin besar setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Jumat malam, 23 Mei 2008 lalu. Saya biasa libur Kamis; berangkat dari Surabaya Rabu malam naik bus patas, berangkat kembali ke Surabaya Jumat pagi menumpang Sepur Sancaka kelas bisnis.

Kini saya harus keluar uang Rp 131.000 setiap pekan, untuk ongkos jalan Surabaya-Solo pulang-pergi. Total uang sebesar itu untuk bayar biaya angkutan kota dua kali (dari kantor ke Terminal Bungurasih Surabaya), bus patas Surabaya-Solo, ojek dari Terminal Tirtonadi ke rumah; tiket Sepur Sancaka Solo Balapan-Surabaya Gubeng, dan angkutan kota dua kali lagi (dari Gubeng ke kantor).

Adapun sebelum harga BBM naik, saya keluar ongkos Rp 115.500 untuk pulang-pergi Surabaya-Solo setiap pekan. Berarti kenaikan harga BBM —yang menurut pemerintah bertujuan jangka panjang untuk kesejahteraan rakyat— ini menambah beban saya Rp 15.500 setiap pekan hanya untuk biaya transportasi menengok keluarga.

Sepekan Rp 15.500 maka sebulan berarti Rp 62.000, setahun berarti Rp 744.000, dan seterusnya, dan seterusnya. Angka ini bisa meningkat lagi jika PT Kereta Api (Persero) juga ikut-ikutan menaikkan tarif, mengikuti kenaikan yang sudah dilakukan oleh para pengusaha angkutan umum darat sehari setelah harga BBM mundhak.

karcis-sepur19.JPG

Saya yakin, kenaikan tarif tiket sepur hanya soal waktu. Karena itulah saya harus siap —meski sebenarnya terpaksa— merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos transportasi dari Surabaya ke Solo demi menengok anak-anak dan istri. Belum lagi biaya lain-lain seperti uang saku anak-anak dan biaya hidup sehari-hari.

Meski begitu, saya tetap bersyukur, sebagaimana terucap dalam doa saya setiap pagi dan malam kepada Allah Yehuwa. Karena, meski ada kenaikan harga BBM, sejauh ini saya toh masih tetap bisa rutin pulang ke Solo setiap pekan. Saya tidak sampai menjadwal ulang kepulangan, misalnya menjadi setiap dua pekan.

Dibanding saya, masih banyak orang lain yang lebih menjadi korban kenaikan harga BBM. Kesejahteraan mereka —dalam jangka pendek maupun jangka panjang— pasti merosot. Padahal, menurut pemerintah, kenaikan harga BBM bertujuan jangka panjang untuk kesejahteraan rakyat.

Trackback URL

Post a Comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image