Semula Hanya Es Lilin…
WARUNG selat kami (tepatnya : warung selat istri saya. Saya hanya ikut mengklaim sebagai pemilik, hahahaha) sudah masuk ranah internet sejak sekitar empat tahun silam. Coba tanyakan ke Oom Gugel, dengan kata kunci ‘warung selat, solo’, atau ‘warung selat, mbak lies’, maka akan muncul sejumlah tulisan tentang warung selat kami, Warung Selat Mbak Lies.
Benar. Warung Selat Mbak Lies, begitulah nama warung istri saya, yang diambil dari nama panggilannya, Lies (Lilies). Â
Dikelola dengan manajemen tradisional –-misalnya, istri saya tak punya pembukuan khusus untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan setiap hari— Warung Selat Mbak Lies kini memiliki 15 pekerja. Termasuk, dua pengatur parkir mobil dan sepeda motor di depan rumah sekaligus warung kami di Serengan Gang II/42 Solo.
Meski terletak di kampung, dalam gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil, warung selat yang didirikan istri saya sejak sekitar 20 tahun lalu itu tak pernah sepi pembeli. Sabtu dan Minggu, misalnya, jika siang hari, sering para pembeli harus rela antre.Â
(Karena itulah saya menghindari libur bekerja pada Sabtu atau Minggu, kecuali ada hal-hal penting, seperti ikut ibadat Saksi-Saksi Yehuwa. Sebab, jika Sabtu atau Minggu saya libur, yang berarti pulang dari Surabaya ke Solo, dipastikan akan keleleran lantaran istri saya demikian sibuk mengurus warung).
Jika Anda kini mampir ke warung selat kami, menyaksikan lumayan bagusnya rumah kami, dan melihat keriuhan para pembeli, besar kemungkinan Anda mengira usaha istri saya langsung gede dalam waktu cepat. Padahal, tidak.
Tak banyak orang tahu bahwa istri saya –menggunakan jiwa entrepreneurnya yang sangat tinggi–  merintis warung selat tu dengan jenis usaha  yang benar-benar remeh-temeh atau ecek-ecek : berdagang es lilin !
Itu terjadi selepas dia lulus SMA, tahun 1985-an. Kala itu, dia baru bekerja beberapa hari sebagai sales promotion girl (SPG) sebuah produk kosmetika Matahari Departement Store di Surabaya. Selesai bekerja, malam hari (calon) istri saya pulang ke rumah supervisornya, melihat pembantu rumah tangga sang supervisor ini membungkus es lilin kecil-kecil untuk dijual.
Mendadak, Wulandari Kusmasdyaningrum –-nama lengkap istri saya, yang kala itu belum menjadi istri saya— terinsiprasi untuk membuat es lilin juga. Maka, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya, pulang ke Serengan, Solo, dan mulai mbunteli es lilin….
Sesudah itu, seraya waktu berlalu, sambil berjualan berbagai jenis makanan di warungnya nan kecil di rumah, dia menemukan ispirasi baru lagi : memilih selat-Solo sebagai hidangan andalannya. Maka, hari demi hari berjalan, tahun demi tahun berlalu, kini dia memiliki sebuah warung makan yang cukup terkenal, yang jika ditanyakan ke Oom Gugel akan muncul sejumlah tulisan tentang warung selat kami, Warung Selat Mbak Lies….
kapan2 saya mampir mas
btw enek sego pecele ora mas
~salam kenal~
Komentar oleh ghatel — Maret 15, 2008 @ 8:42 am
Gratisan yaa…
Komentar oleh vrp165 — Maret 16, 2008 @ 11:07 am
waduh, selate wis kakehan pemberitaan, nangin aku dhewe malah durung sempat ngicipi….. kapan gantian jualan DhoDhoL?
Komentar oleh blonty — Maret 18, 2008 @ 7:51 am
Mbok aku dikirimi jakarta. Yen ora bulan mei atau juni aku ke solo tolong dicepakke sing paling mak nyuss….
Komentar oleh Ulin — Maret 25, 2008 @ 12:07 pm
[...] Selain bicara serius, kami juga bergurau, bahkan saling meledek. Saya ledek dia karena sekarang bekerja di bidang telek sandi swasta –-plesetan kata telik sandi— dan dia balik “menuduh†saya telah menjadi juragan warung selat…. [...]
Ping balik oleh warung selat: muara hidup dan cinta kami » Blog Archive » Detektif Swasta ! — Maret 26, 2008 @ 1:23 pm
Oke boss… suatu saat yen aku pulang kampung ke Magetan, tak mampir Solo. Yen biasane aku berburu thengkleng, karena wis tuwo arep makan panganan sing lebih sehat.
Salam..!
Komentar oleh anggoro — April 2, 2008 @ 5:47 pm
Oke boss…. suatu saat yen aku pulang kampung tak mampir Solo. Kalo biasanya aku berburu thengkleng, karena wis tuwo aku mo mulai makan panganan yang lebih sehat.
Salam….!
Komentar oleh anggoro — April 2, 2008 @ 5:51 pm
[...] untuk kembali bekerja setelah prei sehari. Saya naik dari Stasiun Balapan, Solo, karena rumah saya memang di [...]
Ping balik oleh warung selat: muara hidup dan cinta kami » Blog Archive » Batal Mencarter Sancaka — April 14, 2008 @ 11:57 pm
member dagdigdug™ dapat diskon ya, kan?
Komentar oleh Herdian — April 28, 2008 @ 9:26 pm
Wah, iki lak cedhak omahku, mas! Wong omahku nang daerah Yudhistira. Brarti awake dewe tonggo noh, haha.
Selat gaweane nyonyah sampeyan nyat enak lan manteb tenan.
Salam kenal, mas….
Komentar oleh Dony — Mei 9, 2008 @ 12:11 am
Saya cuman numpak kok, mas. Pasnya di depan wedangan pak gandhul.
Matur suwun sudah mampir ke blog saya…Kapan2 mampir lagi…
Komentar oleh Dony — Mei 11, 2008 @ 10:45 pm
[...] baik rencana kedatangan menteri dan rombongan, Selasa siang, istri saya mempersiapkan para pekerja warungnya menyambut mereka sejak Selasa pagi. Ternyata, menjelang pukul 14.00, dia ditelepon, diberi tahu [...]
Ping balik oleh Menteri Pun Menikmati Selat Istri Saya… : warung selat: — Agustus 2, 2008 @ 10:40 am
[...] ke Pangsit. Selama syuting di Warung Selat Mbak Lies, vocalis Teamlo ini terus menebar kekocakan. Berbagai ucapan maupun gerakannya mengundang tawa [...]
Ping balik oleh Pangsit-Teamlo Hebohkan Warung Selat : warung selat: — Agustus 29, 2008 @ 2:03 pm
yo tonggoku juga
Komentar oleh danang — Oktober 27, 2008 @ 4:16 pm
[...] tercinta, saya pun meluncur ke Makro, yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah sekaligus warung istri [...]
Ping balik oleh warung selat: » Blog Archive » Habis Ambil Raport Kejar Bus Patas! — Januari 6, 2009 @ 3:59 am
Wah.. kayaknya enak juga nih. Kapan-kapan klau saya main ke Mbah Saya di Solo (Kebak Kramat) saya mampir deh.
Komentar oleh Latif — Januari 28, 2009 @ 11:08 am