muara hidup dan cinta kami

Satu-Paku, Dua-Kuda, Tiga-Segitiga, Empat….

APA  hubungan ’satu’ dengan ‘paku’, dan ‘dua’ dengan ‘kuda’ ? Kalau pernah mengikuti Fundamental Leadership Program dari  The Dale Carnegie Course, kita akan tahu bahwa kata-kata tersebut merupakan sebagian contoh dari ‘Metode Cantol’ untuk memudahkan mengingat berbagai hal penting.

dale3-22-22.JPG

Metode tersebut diajarkan pada sesi kedua yang saya ikuti Sabtu (29/3/2008) pagi sampai siang, di Hotel Elmi Surabaya. Sebuah sesi yang menyenangkan, funny, sebagaimana sesi pertama 15 Maret lalu. Sesi-sesi berikutnya nanti pasti tak kalah menyenangkan dibanding  dua sesi yang telah saya ikuti ini. Read the rest of this entry »

Detektif Swasta !

CUKUP lama saya tak bersua Ulin Niam Yusron. Tak bersua, dalam pengertian tidak bertemu secara langsung, maupun kontak via YM, SMS dan telepon.

Sampai kemudian, Senin (24/3/2008) lalu, kawan di kantor, yang juga kenal Ulin —karena sama-sama pernah kuliah di UNS, Solo— berteriak kepada saya. “Pak Jun, Ulin sekarang jadi detektif swasta, telik sandi partikelir!”.

Ternyata, kawan saya tadi baru saja membaca sebuah berita di Majalah Tempo edisi terbaru tentang maraknya  ‘bisnis intel’, alias bisnis informasi. Adapun anak berita tersebut berkisah tentang Ulin dan kawan-kawan sebagai salah satu pelaku ‘bisnis intel‘, setelah Ulin tak lagi bergulat di dunia jurnalistik sebagai salah satu Redaktur Kontan.

ulin7575.JPG
Read the rest of this entry »

Full Suka Cita Ikut Perjamuan Malam Tuan

SAYA benar-benar beruntung, merasa bersyukur, sekaligus yakin telah diberkati Allah Yehuwa, karena bisa mengikuti Perjamuan Malam Tuan bersama keluarga di Solo, Sabtu (22/3/2008) petang. Betapa tidak. Karena, seharusnya, setiap Sabtu saya harus berada di Surabaya untuk mengikuti pelatihan  Fundamental Leadership Program dari The Dale Carnegie Course, di Hotel Elmi.

Ternyata, untuk Sabtu (22/3/2008) itu, pihak Dale Carnegie Surabaya  meliburkan kegiatan pelatihan, dan menggantinya dengan jadwal Sabtu (29/3) depan. Alasannya, Sabtu 22 Maret 2008 merupakan hari kejepit antara libur Sabtu (libur nasional) dengan libur Minggu.

Maka, saya pun cuti Sabtu agar dapat mengikuti acara peringatan malam kematian Yesus tahun 33 Masehi silam tersebut, di Gedung Pertemuan Graha Sejahtera, Jl Kiai Mojo, Semanggi, Solo, Sabtu mulai pukul 17.30 WIB.

Sebagaimana diketahui, peringatan di seluas dunia ini dilaksanakan oleh Saksi-saksi Yehuwa (SSY). Adapun acara di Graha Sejahtera diselenggarakan oleh SSY Indonesia Sidang Solo Selatan.

Saya bersukacita dan bersyukur lantaran diberkati Yehuwa sehingga dapat mengikuti ibadat bersama istri dan anak saya. Sebab, sampai beberapa hari sebelumnya, karena tak mengira Dale Carnegie meliburkan pelatihan, saya masih berencana mengikuti peringatan kematian Yesus ke-1976 tersebut di Surabaya….

Suka cita saya bertambah lagi karena adik perempuan saya, Sarawasati, dan suaminya, Agus Hariwan, ternyata mau pula datang ke Perjamuan Malam Tuan. Mereka melengkapi jumlah hadirin menjadi 182 orang, atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang 156 orang.

robi-persiapan-54-50.JPG

Benar-benar full suka cita ! Apalagi, saya –-karena sejak Rabu sudah berada di Solo, libur bekerja dari Surabaya— juga dapat ikut bersih-bersih Graha Sejahtera sebelum dipakai kebaktian, bersama para saudara dan saudari SSY, Sabtu pagi sampai siang. Ryan, anak saya, pun ikut bekerja bakti membersihkan gedung tersebut. ***

Romlah Terpaksa Hidup di Tenda…

* Banjir Jatim Tak Segera Surut (3, Habis) 

MENGENASKAN. Begitulah nasib sebagian korban banjir bandang yang melanda Kota Pasuruan, 30 Januari 2008 lalu, terutama yang rumahnya ambruk. Sampai sekarang mereka terpaksa hidup di tenda darurat karena tidak mampu membangun kembali rumah mereka. 

Seperti dialami keluarga Solikin-Romlah, warga Jl Darmoyudo, Dusun Porodeso, Kelurahan-KecamatanPurworejo, Kota Pasuruan. Mereka terpaksa hidup di tenda berukuran sekitar tiga kali empat meter.

Dalam tenda yang digunakan untuk kamar tidur sekaligus dapur tersebut keluarga Solikin –yang memiliki tiga anak– ini bertahan untuk hidup. Meski rumah tenda itu berfungsi untuk tempat berteduhdari panas teriknya matahari dan guyuran hujan, namun ternyata para penghuninya jika siang hari merasa lebih enak di luar, dan baru malam hari mereka tidur di dalam tenda. Itupun jika hujan lebat tidak turun. 

picer-banjir-tenda-vertikal-beres.JPG

“Kalau hujannya biasa, saya dan anak-anak tidak takut, meskipun tidak bisa tidur. Paling-paling hanya ketampesan air. Namun, jika hujannya lebat dan petir terus berbunyi, terpaksa kami sekeluarga mengungsi, takut kejatuhan tenda,” keluh Romlah kepada koresponden Surya di Pasuruan, Abdus Sukur, Jumat (21/3/2008) lalu.  

Di sekitar pasangan Solikin-Romlah terdapat empat keluarga lain yang hingga saat ini juga terpaksa hidup di rumah tenda. Mereka kebingungan untuk menyampaikan keluhan. Sebab, pihak yang dianggap paling berkompeten terkait penanganan korban banjir, yakni pemerintah, hingga saat ini belum mengucurkan bantuan dana untuk pembangunan kembali rumah mereka. 

“Kalau siang seperti ini, saya tidak tahan untuk terus di dalam tenda. Saya  bingung bagaimana caranya membangun rumah kembali,” keluh Mbah Karminah, wanita renta berusia 70 tahun  ini, Jumat (21/3) siang lalu.  

Menurutnya, sudah banyak orang berdatangan untuk mencatat –dan berjanji memberi bantuan–  tapi nyatanya tidak ada sama sekali yang membantu. “Untuk utang pun saya juga susah, karena tidak ada yang diutangi….,” imbuh nenek yang hidup bersama putranya, Sugimin, tersebut. 

Dia mengaku hanya dapat pasrah dengan nasibnya. Mbah Karminah kini hidup dengan kondisi sangat memprihatikan sebagaimana dapat dilihat dari barang-barang yang dimiliki, yaitu  hanya sebuah tempat tidur, beberapa lembar pakaian dan panci untuk memasak yang  sudah penyok.   

 ***

Kata Mbah Karminah, bantuan datang hanya sekitar 10 hari setelah banjir, kemudian sesudah itu mereka bertahan untuk hidup seadanya. “Tenda ini pemberian dari orang yang kasihan dan sekedar untuk berteduh,” paparnya.

Bantuan sembako hanya beberapa hari saja setelah banjir, dan tidak ada bantuan uang sama sekali. “Saat ini saya kembali bekerja di Pasar Besar berjualan sayuran,” tambah Karminah, sembari menangis  meratapi nasib. 

picer-banjir-tenda-horizontal-27-23.JPG

Pantauan Surya, akibat banjir yang melanda Pasuruan 30 Januari lalu, hampir semua korban banjir yang  rumahnya ambruk, dan tinggal puing fondasi, itu belum mendapat bantuan  dari pemerintah. Mereka berharap pemerintahsegera merealisasikan bantuan dana untuk pembangunan kembali rumah mereka seperti pernah dijanjikan.   

“Kami heran. Kebanjiran itu kan musibah, dan korbannya harus segera ditangani, tapi kami sebagai korban ternyata tak cepat dibantu dan ditangani. Kasihan anak-anak, kalau siang hari kepanasan dan di malam hari kedinginan hingga menggigil, karena tidak memiliki tempat berteduh yang layak,” tambah Solikin. 

Secara terpisah, Kabag Humas Ichwan Khairat selaku juru bicara Pemkot Pasuruan pernah mengakui bahwa bantuan untuk perbaikan rumah korban banjir belum diluncurkan. “Semuanya masih dalam proses, dan belum turun. Selain itu, nantinya juga bakal ada persyaratan teknis yang wajib dipenuhi para penerima,” kata Ichwan. *** 

Naskah asli bisa diklik di sini.

Mbok Julainah Mengais Rejeki di Desa Tergenang

* Banjir Jatim Tak Kunjung Surut (2)

PERAHU dari pohon palem sepanjang tiga meter itu penuh barang kebutuhan sehari-hari. Perahu  berhenti hampir di setiap rumah yang tergenang air, di Desa Jabung, K ecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Dua penumpangnya duduk di ujung depan dan belakang.  

Dua penumpang tersebut, Mbok Julainah, 65,  dan suaminya, Karsan, 68. membagi-bagi bungkusan. “Endog mak, telu. Gethuk telung bungkus, (telur tiga, mak.Gethuk tiga bungkus, Red),” terdengar suara dari ujung rumah yang tergenang air, seperti dilaporkan wartawan Surya di Lamongan, Herry Wahyu R, Selasa (18/3/2008) lalu. 

Mbok Julainah menghampiri. Tampak lengan kanan berjemari keriput menjulur dari depan pintu rumah sambil melepas lembaran uang seribuan. Tangan kirinya menyahut sebuah tas kresek.  

Perahu Mbok Julainah melanjutkan perjalanan. Menyusuri lorong desa,  yang tak sejengkalpun terlihat daratan. Tiga-empat rumah kemudian, Karsan menghentikan dayung kayunya. Perahu dirapatkan pelan-pelan. Kali ini, Karsan menimbang minyak goreng dan minyak tanah, lantas memberikan kepada pemilik rumah yang duduk di atas dipan kayu yang mengapung di depan rumahnya.  

Pemandangan dan suasana itu mirip pasar di atas perahu di Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tetapi, kenyataannya,  transaksi tersebut terjadi di Desa Jabung, Laren, yang kembali tergenang air banjir setelah hampir 10 tahun tak pernah kebanjiran. 

Suasana seperti itu sudah satu pekan lebih terlihat. Maklum, Jabung merupakan satu dari 10 desa di  Laren yang  tergenang air sejak banjir melanda Lamongan sekian hari lalu.

foto-picer-cukai-23-kali-20.JPG

Mbok Julainah bersama suami mempertahankan hidup dari berjualan. memanfaatkan kebutuhan para tetangga satu desa.  ”Biasanya saya jualan di depan rumah. Tetapi kalau nggak direwangi gini (tidak berjualan keliling dengan perahu, Red) kami serumah pasti tidak makan,” tutur Julainah dari atas perahu.  

Hasil berkeliling desa, mulai pagi hingga matahari terbenam, Julainah dan Karsan bisa mendapat keuntunganRp 20 ribu. Bahkan bila situasi ramai, pasangan ini mampu meraih Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu sehari.

Untuk kulakan, Julainah harus ke Pasar Babat,  sejauh 15 kilometer,  dua kali perjalanan air dan satu kali perjalanan darat dengan ojek.   ”Kalau  bantuan dari pemerintah datang,  hasilnya cuma dua puluh ribu rupiah. Tidak ada yang belanja, karena orang-orang sudah dapat indomie dan beras,” tutur Mbok Julainah.  

Julainah tidak sendiri. Dia bersama sekitar 5.000 kepala keluarga (KK) kehilangan pekerjaan gara-gara banjir. Warga yang tidak berjualan kebutuhan sehari-hari, kehilangan pendapatan. Sebab, sawah, ladang, atau tambak mereka terendam  air hingga setinggi tiga meter, dan mereka terpaksa hidup di pengungsian punggung tanggul Sungai Bengawan Solo.   

Kapan air akan surut,  mereka tidak tahu. Padahal, ribuan hektare  tanaman mereka sudah hampir masuk masa panen. “Padi warga kami sebagian besar sudah mau panen. Kalau sudah seperti ini pasti tidak bisa panen, dan ikan ditambak juga pasti hilang,” keluh Hadi Siswanto, Kepala Dusun Sepan, Jabung. 

 *** 

Agar dapat  bertahan hidup, para warga Jabung,Centini, Duri Kulon –termasuk desa-desa terisolasi– Desa Bulu Tigo, Keduyung, Siser, Dateng, dan Gelap, memanfaatkan alam.  Mereka mencari ikan dengan menebar jala, dan atau mencari keong emas. 

Keong emas, yang biasanya menjadi hama padi,  itu mereka dijual ke Pasar Babat, setelah perahu mereka melewati genangan air seluas tiga kilometer mencapai daratan kemudian menyeberang kembali melintas Sungai Bengawan Solo di Desa Duyung. Sore kembali ke desa nan gelap, tempat pengungsian.

Hasil mencari keong emas rata-rata 20 kilogram per hari. Setiap kilo biasa dibeli tengkulak Rp 2000. Kalau warga tidak sedang apes, ada pengepul keong emas di Desa Centini, sebuah desa paling timur di antara desa-desa yang tergenang.   

Catatan Surya, Kecamatan Laren –sebelum ada sudetan Kali Bengawan Solo– merupakan daerah langganan  banjir.Kemudian, pemerintah membuat sudetan, awal tahun 2000, melintasi Desa Pelangwot, Laren, sampai Desa Sedayu Lawas, Brondong.  Sejak  adanya sudetan itu, Laren di sebelah barat dan timur tepian Sungai Bengawan Solo mulai memunculkan perkembangan perekonomian yang pesat, baik pada sektor pertanian maupun industri.  

Namun, kini banjir kembali melanda setelah tanggul di Desa Tegal Rejo, Widang, Kabupaten Tuban, jebol. Air, yang seharusnya tidak meluap, pun menggenangi 12 desa di Laren dan Maduran. Sampai Selasa (18/3/2008) lalu, tanggul jebol belum bisa diperbaiki, dan air naik-turun.  

“Jika tanggul jebol sudah tertutup, kami mesti memikirkan bagaimana mengeringkan 10 desa ini. Harapan satu-satunya adalah aliran di Plangwot, dengan catatan air Bengawan Solo tidak terus meninggi. Waktunya berapa hari, kami belum bisa memastikan,” aku Rusgianto,  Camat Laren. ***

Naskah asli ada di sini.

Mbah Towo Selalu Siap Ngungsi ke Jalan Raya

* Banjir di Jatim Tak Segera  Surut (1)

KELUARGA Sutowo, yang akrab dipanggil Mbah Towo, 61, tak pernah bebas dari genangan air mana kala Kabupaten Ngawi diterjang banjir. Pasalnya, lokasi rumah yang dihuni Mbah Tomo bersama istri dan dua anaknya memang berjarak hanya sekitar semeter dari bibir Sungai Bengawan Solo, yang jika hujan deras sering meluap.

Warga Kampung Mulyorejo, Kalurahan Karangtengah, Kecamatan-Kabupaten Ngawi, ini sudah kenyang dihajar banjir, bahkan sampai setinggi tiga meter. Secara gografis, letak Kampung Mulrorejo selain berjarak demikian dekat dengan Bengawan Solo juga tak jauh dari titik pertemuan antara Bengawan Solo dengan Sungai Bengawan Madiun.

“Setiap kali hujan deras tak berhenti selama dua jam, kami pasti kebanjiran dan selalu mengungsi ke jalan raya atau ke rumah warga lain yang rumahnya di dataran yang tergolong tinggi,” keluh  Mbah Towo ketika ditemui koresponden Surya, Sudarmawan, di rumahnya, Senin (17/3/2008).

korban-banjir-picer-ngawi-27-kali-25.JPG

Tentu saja bukan hanya Mbah Towo dan keluarga yang merana setiap kali musim hujan. Ribuan warga di Kampung Mulyorejo dan kampung-kampung lain, seperti Kampung Baru, Kecamatan-Kabupaten Ngawi, pun bernasib serupa.

Sejak Desember 2007 sampai Maret 2008 ini para warga di dua kampung tersebut sudah mengalami kebanjiran sebanyak tujuh kali.  Dari jumlah itu, yang tergolong banjir besar ada dua kali, antara  26-28 Desember 2007, dan 10 Maret 2008.

Akhir Desember, sebagaimana diketahui, banjir besar melanda bukan hanya Ngawi dan kota-kota lain di Jatim melainkan juga di Jateng seperti Solo dan Sragen. Khusus di Ngawi, kala itu 11 kecamatan terendam, sedangkan 10 Maret 2008 banjir menggenangi  enam kecamatan.

Salah seorang warga Kampung Baru, Hartini, mengungkapkan, akibat banjir warga dirugikan secara materiil maupun immateriil. Pasalnya, bukan hanya rumah maupun perabot rumah tangga rusak dan porak-poranda, mayoritas warga tak bisa bekerja dan melaksanakan aktifivas sehari-sehari.

Belum lagi beberapa jenis penyakit yang menyerang, seperti gatal-gatal dan herpes. Mereka juga direpotkan oleh kelangkaan air bersih untuk dipakai mandi, memasak, dan mencuci.

“Kami bukan hanya trauma tetapi sudah merasa pobhia mendengar kata banjir. Setiap turun hujan deras, warga sudah langsung berbondong-bondong ke luar rumah untuk mengungsi ke tempat lebih aman,” papar Hartini.Â

****Â

Di pihak lain, meski ribuan warga merasakan penderitaan dan ketakutan sebagaimana diungkapkan Hartini maupun Mbah Sutowo, belum terlihat upaya keras Pemkab Ngawi menanggulangi banjir tahunan itu secara permanen. Misalnya, dengan mengeruk Sungai Bengawan Madiun maupun Bengawan Solo –yang mengalami pendangkalan– atau mengeluarkan kebijakan merelokasi para warga korban banjir.

Apa yang dilakukan pemkab masih terkesan ‘tambal sulam’, yaitu bertindak jika banjir datang.  ”Selama ini kami selalu hanya diberi bantuan sembako jika banjir. Padahal yang dibutuhkan bukan hanya sembako, tapi yang terpenting bagaimana banjir ditangani permanen agar tidak merugikan warga,” ungkap Suroso, Kamituwo Desa Dinden, Kwadungan, Kabupaten Ngawi, yang juga menjadi langganan korban banjir.

Mengenai keluhan seperti itu, Kepala Satkorlak Pemkab Ngawi M Sodiq pernah menjelaskan bahwa bantuan berupa pembagian sembako, perahu karet, dan tenaga medis menjadi urusan pemkab untuk segera mengurangi penderitaan warga korban banjir.  Sedangkan upaya penanganan permanen, katanya, diserahkan langsung ke pemerintah pusat.

Mengapa demikian? Menurut Sodiq, karena perlu kerja sama beberapa pemkab dan pemkot untuk menanggulangi banjir di Ngawi. Di antaranya, Pemkab Madiun dan Pemkot Madiun, yang dilintasi Sungai Bengawan Madiun, serta Pemkab Wonogiri, Jateng, terkait pembukaan Waduk Gajah Mungkur yang diduga juga memicu banjir di Ngawi. Termasuk pula Pemkab Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban yang juga dilintasi Sungai Bengawan Solo. *** Â

 Silakan baca naskah asli di sini.

Ayo, Sekolah Lagi !

SEJAK 15 Maret 2008 lalu, sampai 7 Juni mendatang, setiap Sabtu pagi sampai siang saya harus kembali mengikuti  Fundamental Leadership Program dari The Dale Carnegie Course. Saya tulis ‘kembali’, karena memang saya pernah ikut pelatihan tersebut, beberapa bulan lalu, tetapi tidak sampai selesai, alias ‘desersi’.

Dengan kata lain, saya harus mengulang kembali ikut pelatihan. Mulai dari awal lagi, meski tatkala pelatihan dulu saya sudah ikut tiga atau empat kali –dari total 12 kali pertemuan– setiap Sabtu mulai pukul 08.00 sampai 12.00 WIB.

dale4-22-22.JPG

Kegiatan ini sebenarnya amat-sangat menarik sekaligus bermanfaat besar. (Gratis, lagi! Karena saya dibiayai kantor). Teman-teman kantor yang duluan ikut pun menyampaikan demikian kepada saya.

Tetapi ternyata, saat ikut pelatihan, tahun lalu itu, saya rontok di tengah jalan. Sesudah empat kali pertemuan, saya memilih tak lagi datang ke tempat pelatihan di Hotel Elmi, Jl  Panglima Sudirman 42-44 Surabaya.

Saya kalah oleh rasa malas, kantuk, capai, dan lima L (lelah, letih, lungkrah, lesu, letoy).  Gara-gara biasa tidur dini hari, sekaligus bangun siang, mata saya biasanya kelet kalau harus bangun gregah sebelum jam 09.00 WIB. Padahal, pelatihan dimulai pukul 08.00 on time. Karena itulah pelatihan pada The Dale Carnegie Course dulu tak tuntas, dan saya pun menjadi desertir….

Kini, sejak 15 Maret 2008 lalu, sampai 7 Juni mendatang, setiap Sabtu pagi sampai siang saya harus kembali mengikuti Fundamental Leadership Program pada The Dale Carnegie Course. Saya bertekad tak lagi desersi.

Semula Hanya Es Lilin…

WARUNG selat kami (tepatnya : warung selat istri saya. Saya hanya ikut mengklaim sebagai pemilik, hahahaha) sudah masuk ranah internet sejak sekitar empat tahun silam. Coba tanyakan ke Oom Gugel, dengan kata kunci ‘warung selat, solo’, atau ‘warung selat, mbak lies’, maka akan muncul sejumlah tulisan tentang warung selat kami, Warung Selat Mbak Lies.

Benar. Warung Selat Mbak Lies, begitulah nama warung istri saya, yang diambil dari nama panggilannya, Lies (Lilies).  

warung251.JPG

Dikelola dengan manajemen tradisional –-misalnya, istri saya tak punya pembukuan khusus untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan setiap hari— Warung Selat Mbak Lies kini memiliki 15 pekerja. Termasuk, dua pengatur parkir mobil dan sepeda motor di depan rumah sekaligus warung kami di Serengan Gang II/42 Solo.

Meski terletak di kampung, dalam gang sempit yang hanya bisa dilalui satu mobil, warung selat yang didirikan istri saya sejak sekitar 20 tahun lalu itu tak pernah sepi pembeli. Sabtu dan Minggu, misalnya, jika siang hari, sering para pembeli harus rela antre. 

(Karena itulah saya menghindari libur bekerja pada Sabtu atau Minggu, kecuali ada hal-hal penting, seperti ikut ibadat Saksi-Saksi Yehuwa. Sebab, jika Sabtu atau Minggu saya libur, yang berarti pulang dari Surabaya ke Solo, dipastikan akan keleleran lantaran istri saya demikian sibuk mengurus warung).

warung22.JPG

Jika Anda kini mampir ke warung selat kami, menyaksikan lumayan bagusnya rumah kami, dan melihat keriuhan para pembeli, besar kemungkinan Anda mengira usaha istri saya langsung gede dalam waktu cepat. Padahal, tidak.

Tak banyak orang tahu bahwa istri saya –menggunakan jiwa entrepreneurnya yang sangat tinggi–  merintis warung selat tu dengan jenis usaha  yang benar-benar remeh-temeh atau ecek-ecek : berdagang es lilin !

Itu terjadi selepas dia lulus SMA, tahun 1985-an. Kala itu, dia baru bekerja beberapa hari sebagai sales promotion girl (SPG) sebuah produk kosmetika Matahari Departement Store di Surabaya. Selesai bekerja,  malam hari (calon) istri saya pulang ke rumah supervisornya, melihat pembantu rumah tangga sang supervisor ini membungkus es lilin kecil-kecil untuk dijual.

Mendadak, Wulandari Kusmasdyaningrum –-nama lengkap istri saya, yang kala itu belum menjadi istri saya— terinsiprasi untuk membuat es lilin juga. Maka, dia memutuskan keluar dari pekerjaannya, pulang ke Serengan, Solo, dan mulai mbunteli es lilin….

22kali18.JPG

Sesudah itu, seraya waktu berlalu, sambil berjualan berbagai jenis makanan di warungnya nan kecil di rumah, dia menemukan ispirasi baru lagi : memilih selat-Solo sebagai hidangan andalannya. Maka, hari demi hari berjalan, tahun demi tahun berlalu, kini dia memiliki sebuah warung makan yang cukup terkenal, yang jika ditanyakan ke Oom Gugel akan muncul sejumlah tulisan tentang warung selat kami, Warung Selat Mbak Lies….