* Banjir Jatim Tak Kunjung Surut (2)
PERAHU dari pohon palem sepanjang tiga meter itu penuh barang kebutuhan sehari-hari. Perahu berhenti hampir di setiap rumah yang tergenang air, di Desa Jabung, K ecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Dua penumpangnya duduk di ujung depan dan belakang. Â
Dua penumpang tersebut, Mbok Julainah, 65, dan suaminya, Karsan, 68. membagi-bagi bungkusan. “Endog mak, telu. Gethuk telung bungkus, (telur tiga, mak.Gethuk tiga bungkus, Red),†terdengar suara dari ujung rumah yang tergenang air, seperti dilaporkan wartawan Surya di Lamongan, Herry Wahyu R, Selasa (18/3/2008) lalu.Â
Mbok Julainah menghampiri. Tampak lengan kanan berjemari keriput menjulur dari depan pintu rumah sambil melepas lembaran uang seribuan. Tangan kirinya menyahut sebuah tas kresek. Â
Perahu Mbok Julainah melanjutkan perjalanan. Menyusuri lorong desa, yang tak sejengkalpun terlihat daratan. Tiga-empat rumah kemudian, Karsan menghentikan dayung kayunya. Perahu dirapatkan pelan-pelan. Kali ini, Karsan menimbang minyak goreng dan minyak tanah, lantas memberikan kepada pemilik rumah yang duduk di atas dipan kayu yang mengapung di depan rumahnya. Â
Pemandangan dan suasana itu mirip pasar di atas perahu di Sungai Barito, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tetapi, kenyataannya, transaksi tersebut terjadi di Desa Jabung, Laren, yang kembali tergenang air banjir setelah hampir 10 tahun tak pernah kebanjiran.Â
Suasana seperti itu sudah satu pekan lebih terlihat. Maklum, Jabung merupakan satu dari 10 desa di Laren yang tergenang air sejak banjir melanda Lamongan sekian hari lalu.

Mbok Julainah bersama suami mempertahankan hidup dari berjualan. memanfaatkan kebutuhan para tetangga satu desa.  ”Biasanya saya jualan di depan rumah. Tetapi kalau nggak direwangi gini (tidak berjualan keliling dengan perahu, Red) kami serumah pasti tidak makan,” tutur Julainah dari atas perahu. Â
Hasil berkeliling desa, mulai pagi hingga matahari terbenam, Julainah dan Karsan bisa mendapat keuntunganRp 20 ribu. Bahkan bila situasi ramai, pasangan ini mampu meraih Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu sehari.
Untuk kulakan, Julainah harus ke Pasar Babat, sejauh 15 kilometer, dua kali perjalanan air dan satu kali perjalanan darat dengan ojek.  ”Kalau bantuan dari pemerintah datang, hasilnya cuma dua puluh ribu rupiah. Tidak ada yang belanja, karena orang-orang sudah dapat indomie dan beras,” tutur Mbok Julainah. Â
Julainah tidak sendiri. Dia bersama sekitar 5.000 kepala keluarga (KK) kehilangan pekerjaan gara-gara banjir. Warga yang tidak berjualan kebutuhan sehari-hari, kehilangan pendapatan. Sebab, sawah, ladang, atau tambak mereka terendam air hingga setinggi tiga meter, dan mereka terpaksa hidup di pengungsian punggung tanggul Sungai Bengawan Solo. Â
Kapan air akan surut, mereka tidak tahu. Padahal, ribuan hektare tanaman mereka sudah hampir masuk masa panen. “Padi warga kami sebagian besar sudah mau panen. Kalau sudah seperti ini pasti tidak bisa panen, dan ikan ditambak juga pasti hilang,” keluh Hadi Siswanto, Kepala Dusun Sepan, Jabung.Â
 ***Â
Agar dapat bertahan hidup, para warga Jabung,Centini, Duri Kulon –termasuk desa-desa terisolasi– Desa Bulu Tigo, Keduyung, Siser, Dateng, dan Gelap, memanfaatkan alam. Mereka mencari ikan dengan menebar jala, dan atau mencari keong emas.Â
Keong emas, yang biasanya menjadi hama padi, itu mereka dijual ke Pasar Babat, setelah perahu mereka melewati genangan air seluas tiga kilometer mencapai daratan kemudian menyeberang kembali melintas Sungai Bengawan Solo di Desa Duyung. Sore kembali ke desa nan gelap, tempat pengungsian.
Hasil mencari keong emas rata-rata 20 kilogram per hari. Setiap kilo biasa dibeli tengkulak Rp 2000. Kalau warga tidak sedang apes, ada pengepul keong emas di Desa Centini, sebuah desa paling timur di antara desa-desa yang tergenang. Â
Catatan Surya, Kecamatan Laren –sebelum ada sudetan Kali Bengawan Solo– merupakan daerah langganan banjir.Kemudian, pemerintah membuat sudetan, awal tahun 2000, melintasi Desa Pelangwot, Laren, sampai Desa Sedayu Lawas, Brondong.  Sejak adanya sudetan itu, Laren di sebelah barat dan timur tepian Sungai Bengawan Solo mulai memunculkan perkembangan perekonomian yang pesat, baik pada sektor pertanian maupun industri. Â
Namun, kini banjir kembali melanda setelah tanggul di Desa Tegal Rejo, Widang, Kabupaten Tuban, jebol. Air, yang seharusnya tidak meluap, pun menggenangi 12 desa di Laren dan Maduran. Sampai Selasa (18/3/2008) lalu, tanggul jebol belum bisa diperbaiki, dan air naik-turun. Â
“Jika tanggul jebol sudah tertutup, kami mesti memikirkan bagaimana mengeringkan 10 desa ini. Harapan satu-satunya adalah aliran di Plangwot, dengan catatan air Bengawan Solo tidak terus meninggi. Waktunya berapa hari, kami belum bisa memastikan,” aku Rusgianto, Camat Laren. ***
Naskah asli ada di sini.
Berbagi