HAMPIR empat tahun saya menulis di blog ini, posting naskah dan foto satu demi satu. Kini, apa boleh bikin, saya hentikan posting di sini.
-
Arsip
-
Meta
HAMPIR empat tahun saya menulis di blog ini, posting naskah dan foto satu demi satu. Kini, apa boleh bikin, saya hentikan posting di sini.

BANYAK hal tak berubah, di kawasan Palmerah, Jakarta Selatan, khususnya di lingkungan Kantor Kompas-Gramedia. Terakhir saya berkantor di sini, September (atau Oktober?) tahun 2004, sebelum dimutasi ke Kota Surabaya, Jawa Timur. Hampir enam tahun kemudian, ketika sekarang saya harus berkantor -sementara lagi di kawasan ini, saya lihat tak banyak yang berubah.
Apa sajakah itu? Misalnya, deretan para penjual makanan kelas warung —warung Padang, warung Tegal, dan warung-warung lain— masih itu-itu juga. Termasuk pemilik warung masakan Jawa yang biasa dipanggil Pak Uuk, yang berjualan di depan Kantor Persda (Pers Daerah) Kompas, Palmerah Barat. Warung makan pria asal Sragen, Jawa tengah, ini termasuk laris; menjelang pukul 14.00 WIB dagangannya sudah ludes. Warung Sate Pak Min Solo, di sebelah kiri warung milik Pak Uuk, juga tak kalah laris meski harga makanannya lebih mahal. Lanjutkan membaca

BERITA Kota. Berkot. Koran-lama-tetapi-baru. Koran lama dengan manajemen baru. Koran terbitan Jakarta. Koran di mana saya, sejak hari Minggu 7/2/2010) lalu, bekerja-sementara sebagai salah satu editornya….

BENU BULOE namanya (paling kanan). Dia presenter dari Trans TV untuk Program bertajuk “Benu Buloe”, yang ditayangkan setiap Sabtu pukul 10.30 WIB. Program itu, dulu, merupakan bagian dari program berita “Jelang Siang”. Bersama rombongan, pria kocak usia 29 tahun yang bernama asli Ibnu Syakhdan tersebut syuting di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pada 18 Desember 2009 lalu. Benu mengenakan kostum ala Popeye Si Pelaut.

SUDAH lama saya ingin datang ke lokasi wisata di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Bukan untuk piknik bersama keluarga, atau rekreasi bareng kawan-kawan sekantor, misalnya, melainkan ingin mengunjungi sebuah villa milik seorang saudara seiman dari Kota Surabaya, yaitu Villa Rukmini.
Saya tahu dari pemilik villa tersebut, Jimmy Methuselah, bahwa Villa Rukmini di Desa Cembor, Pacet, ini berbentuk joglo limasan. Bangunan aslinya, dulu, dibeli, “dicabut”, dan dipindahkan dari sebuah desa di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
(Pak Jimmy menjelaskan, joglo Limasan berasal dari kata “limalasan“, yakni perhitungan sederhana ukuran “molo” tiga meter dan “blandar” lima meter. Tetapi bila molo 10 meter, maka blandar harus memakai ukuran 15 meter, yang berarti bahasa Jawa limalasan).
Villa di atas lahan seluas 2.500 meter persegi tersebut disewakan untuk umum. dengan harga sekitar Rp 1 juta per malam. Menurut Pak Jimmy orang-orang yang pernah menyewa selama ini datang dari berbagai kalangan —termasuk kalangan mahasiswa dan keluarga yang mengajak anak-anak mereka.
Saya tahu mengenai keberadaan Villa Rukmini sejak berkenalan dengan Pak Jimmy, hampir empat tahun silam. Namun baru hari Minggu (3/1/2010) lalu saya bisa mengunjungi villa tersebut bersama Pak Jimmy dan istri serta dua saudari seiman yang juga berasal dari Surabaya.

Rasa dingin langsung menyergap saat saya turun dari mobil Pak Jimmy, yang diparkir di halaman villa, Minggu (3/1) siang. Tak heran, karena Trawas memang berada di lokasi pegunungan. Setelah itu, sekitar 30 menit kemudian hujan mulai turun.
“Karena musim penghujan, sekarang ini memang hampir tiap hari hujan. Kalaupun tidak hujan, embusan angin di sini sangat kencang,” ujar Pak Jimmy menjelaskan.
Saya melihat-lihat seluruh bagian Villa Rukmini. Di luar, di belakang villa, terhampar persawahan luas. Semua terlihat serbahijau dan segar. Tak ketinggalan, di kejauhan samar-samar tampak Gunung Penanggungan di sebelah timur, dan Gunung Welirang di sebelah tenggara.

Bagaimana dengan dalam villa? Sentuhan lawas tapi bersih dan rapi terasa saat kita berada dalam villa. Lawas, alias kuno, karena sebagian dinding vila —seperti terlihat pada foto di atas dan di bawah— terbuat dari kayu jati, yang merupakan bagian dari sebuah rumah joglo. Bersih dan rapi, lantaran kayu-kayu jati berwana cokelat itu terawat baik, dipadu dengan dinding tembok dan lantai keramik berwarna cokelat muda. Tak heran bahwa Pak Jimmy menyebut villanya sebagai “villa yang bernuansa beda”….

Tetapi memang benar adanya. Keberadaan kayu jati-kayu jati berukir, yang merupakan bagian-bagian dari bangunan joglo, itu memang memunculkan nuansa berbeda, terutama bagi mereka yang sehari-hari tinggal di rumah full tembok, termasuk saya. Apalagi selama ini bangunan joglo jarang ditemui di Jatim, karena memang menjadi salah satu bangunan khas di Jateng, terutama Kota Solo.

Empat kamar tidur dalam villa juga terlihat rapi. Menurut Pak Jimmy, villanya berdaya tampung maksimal 30 orang. Bagi para penyewa, Pak Jimmy menyediakan dua single bed pada masing-masing kamar tidur (empat kamar), ditambah 10 buah free extra bed lengkap dengan kasur, bantal dan sprei.

Saya juga menengok bagian belakang villa, yang merupakan teras utama. Di sana diletakkan sebuah meja kuno besar dengan taplak kain batik. Selain itu, terdapat pula sebuah kursi panjang nan besar. Saya meminta Pak Jimmy dan istri duduk berdua di kursi tersebut untuk saya jepret.
“Kalau pas ke sini saya senang duduk atau rebahan di kursi ini. Bersantai, merasakan kesejukan cuaca dan menikmati keindahan alam sambil membaca Majalah Menara Pengawal,” ucap Pak Jimmy seraya menyebut nama majalah yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa (Yehuwa adalah nama pribadi Allah yang disembah dan dilayani para pengikut Yesus Kritus).


BENAR-BENAR konyol ! Hanya dalam waktu tiga pekan saya kehilangan dua buah ponsel —semuanya terjatuh saat dalam perjalanan, dan seluruhnya semata-mata karena kecerobohan saya.
Terakhir, ponsel yang hilang adalah Nokia tipe 9300i. Ponsel ini terjatuh, Kamis (28/1/2010) dini hari, saat saya dalam perjalanan pulang dari Kota Surabaya, Jawa Timur, ke Kota Solo, Jawa Tengah. Di mana jatuhnya? Tentu saya tak bisa memastikan. Saya perkirakan hilang dalam bus yang saya naiki dari Surabaya, yaitu Bus Eka Patas, atau saat saya naik ojek dari halte di Tirtomoyo, Jebres, Solo —setelah turun dari bus— menuju ke rumah.
Entah jatuh dan hilang di dalam bus ataukah saat saya naik ojek, penyebabnya cuma satu : karena resleting tas ransel saya tidak menutup rapat sehingga ponsel communicator itu jatuh dari ransel. Apa boleh bikin, penyebab utamanya memang hanya satu : karena kecerobohan saya.
Setelah kehilangan ponsel communicator tersebut, untuk sementara saya tak bisa mengkases internet jika sedang dalam perjalanan setiap pekan dari Surabaya ke Solo atau sebaliknya, dari Solo ke Surabaya. Selama ini, untuk mengisi kekosongan waktu jika saya bepergian Surabaya-Solo atau Solo-Surabaya saya memang sering memanfaatkan N300i untuk berinternet, khususnya membuka e-mail dan mengecek berita-berita dari beberapa situs berita seperti Kompas.com dan Detik.com.
Dua pekan sebelumnya, Kamis (14/1) malam, ponsel saya, merek Nokia juga —saya lupa tipe atau serinya, tetapi yang pasti itu ponsel kecil nan “jadul”— terlebih dulu hilang. Di mana jatuhnya? Tentu saya juga tak bisa memastikan. Saya perkirakan hilang karena jatuh saat saya naik sepeda motor dalam perjalanan pulang dari tempat beribadat menuju ke rumah.
Sampai saya posting naskah ini, saya belum membeli lagi ponsel yang bisa digunakan untuk mengakses internet. Ponsel yang sekarang saya pakai adalah ponsel Nokia “biasa”, yang “hanya” bisa digunakan bertelepon dan ber-SMS. O ya, Nokia 9300i yang raib kemarin itu merupakan communicator kedua saya yang hilang. Sebelumnya, lebih dari setahun lalu, tepatnya 25 Desember 2008, saya kehilangan communicator karena dicopet.
Foto Nokia 9300i diambil dari sini

BEBERAPA saudara dan saudari seiman mampir untuk menikmati makan siang di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, Kamis (21/1) lalu. Mereka, antara lain, Saudara Gustav Merauce, yang juga salah seorang Pengawas Wilayah (PW) Saksi-Saksi Yehuwa, dan istrinya, Saudari Peni Merauce.
Bagi Saudara Merauce —yang berasal dari Papua— menu selat-Solo tentu asing bagi lidahnya. Tetapi, dia tampak menikmati makanan khas Solo, yang merupakan hasil adaptasi sekaligus modifikasi dari menu Eropa, yaitu salad. Demikian pula istrinya, Saudari Peni, yang ketika masih lajang menghabiskan banyak waktu di Bogor dan Jakarta.
Tak semua yang hadir dalam jamuan makan siang sederhana ini menyantap selat-Solo. Ada pula saudara yang memilih menu gado-gado. Tetapi, apapun menu makanan dan minumannya, saudara-saudari para pengikut Yesus Kristus tersebut menikmati makanan dan minuman mereka dengan penuh suka-cita….

DUA bulan lebih sepekan kami pindah ke kantor baru, di Jalan Rungkut Industri III No 68-70 Kota Surabaya, Jawa Timur, setelah bertahun-tahun ngantor di Jl Raya Margorejo Indah No 108 Surabaya. Sekarang, sesudah dua bulan lebih sepekan, baru dilakukan grand opening di kantor yang terletak di area seluas 2,3 hektare ini.

INI posting dengan bahan agak lawas tetapi (mudah-mudahan) tidak basi. Tentang Ryan, anak bungsu saya, yang saat libur sekolah lalu —selama hampir dua pekan— menghabiskan waktu di rumah kakek-neneknya di Jakarta. Tatkala di sana, Ryan, antara lain, bermain dengan anjing-anjing peliharaan kakeknya.
Menjelang masuk sekolah lagi, akhir Desember 2009 lalu, Ryan saya jemput. Saya berangkat dari Surabaya, kota tempat saya bekerja, naik Kereta Api (KA) Gumarang, Selasa (29/12/2009) pukul 17.30 WIB melalui jalur utara. Tiba di Stasiun Jakarta Gambir, Rabu (30/12) pukul 08.00 WIB, saya kemudian meneruskan perjalanan ke rumah mertua saya, naik busway eh Bus Trans Jakarta.
Turun di Terminal Kali Deres, saya langsung mencari mini bus ke arah Kompleks Perumahan Citra Garden. Saya turun di depan kompleks perumahan, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit ke arah rumah mertua.
Saat saya hendak masuk rumah tersebut, dari depan pagar saya melihat Ryan bersama oom-nya (adik istri saya) dan kakeknya berada di halaman rumah —bermain-main dengan anjing-anjing. Ryan tampak senang.


BENU BULOE namanya (kiri, membelakangi lensa). Dia presenter dari Trans TV untuk Program bertajuk “Benu Buloe”, yang ditayangkan setiap Sabtu pukul 10.30 WIB. Program itu, dulu, merupakan bagian dari program berita “Jelang Siang”. Bersama rombongan, pria kocak usia 29 tahun yang bernama asli Ibnu Syakhdan tersebut syuting di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pada 18 Desember 2009 lalu.

SELALU menyenangkan bepergian ke Kota Yogyakarta. Banyak sebab dan alasan. Misalnya, ke Yogya berarti saya pergi dengan keluarga —istri dan anak-anak— untuk ikut Kebaktian Distrik dan Kebaktian Wilayah bersama para saudara-saudari Saksi-Saksi Yehuwa. Dua kegiatan rohani ini masing-masing berlangsung satu kali dalam setahun.
Selain itu, pergi ke Yogya bisa berarti jalan-jalan berdua bersama istri. Ada kesempatan meninggalkan rutinitas pekerjaan masing-masing sekaligus bermesraan : naik Kereta Api Prameks berdua, naik becak berdua, dan jalan kaki berdua seraya bergandengan tangan….
(O, ya, bagi yang belum tahu, Prameks adalah kereta api jurusan Solo-Yogya pulang pergi. Menempuh jarak sekitar 60 km selama sekitar satu jam, harga tiket sepur ini Rp 8.000 untuk satu kali perjalanan. Saya dan keluarga dari Kota Solo, Jawa Tengah, selalu memanfaatkan jasa Prameks bila ke Yogya).

Tak soal berapa lama kami berdua di Yogyakarta, saya selalu senang bila bepergian dengan istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum, ke kota tersebut. Bahkan jika hanya demi waktu kurang dari 1,5 jam —meski untuk itu pun harus menempuh perjalanan Solo-Yogya pergi-pulang selama dua jam.
Mengapa waktunya sesingkat itu, tak sampai 1,5 jam? Karena, hari Jumat (18/12/2009) itu kami baru bisa pergi sore hari lantaran istri saya harus mengurus warung makannya dulu sampai menjelang pukul 16.00 WIB. Kami naik Prameks pukul 16.15 WIB dari Stasiun Solo Balapan (tiba di Stasiun Tugu Yogya sekitar pukul 17.30 WIB), dan pulang naik sepur yang sama, pukul 18.45 WIB.
Maka kami pun memanfaatkan waktu yang cuma kurang dari 1,5 jam itu dengan maksimal dan efektif. Begitu turun dari Prameks di Stasiun Tugu, saya dan istri langsung naik becak menuju Toko Mirota Batik, di Jalan Malioboro.
Hari menjelang petang saat becak melewati jalan paling terkenal di Kota Yogya tersebut. Karena lalu-lintas padat —banyak orang menikmati tanggal merah nasional alias hari libur nasional— laju becak yang kami naiki sempat tersendat ketika menyusuri jalur lambat.
Perlu waktu sekitar 20 menit untuk sampai di Toko Mirota Batik. (Meski memakai kata batik, bukan berarti toko ini hanya menjual batik. Berbagai barang dijual di sini, termasuk benda-benda hasil kerajinan maupun pernik-pernik hiasan rumah).
Tepat sebulan lalu kami juga datang ke toko ini. Seperti biasa, istri saya membeli barang-barang yang akan dipakai melengkapi hiasan di warung makannya, Warung Selat Mbak Lies. Karena waktunya mepet, ketika dia asyik memilih barang, saya terus mengingatkan bahwa kami tidak bisa berlama-lama jika memang tidak mau ketinggalan kereta.

Hanya sekitar 30 menit kami berbelanja di toko yang selalu ramai pembeli tersebut. Keluar toko, kami kembali naik becak, kali ini menuju ke Stasiun Tugu. Suasana Jalan Malioboro sudah agak gelap namun tetap ramai. Selain pejalan kaki, jalur lambat juga ramai oleh becak dan andhong alias sado atau kereta berkuda.
Di Stasiun Tugu kami berada di ruang tunggu selama sekitar 15 menit sebelum akhirnya Prameks melaju ke Solo, pukul 18.45 WIB. Sepur ini penuh penumpang —sebagian di antaranya terpaksa berdiri karena tak memperoleh tempat duduk— dan kami berdua duduk seraya berpegangan tangan….

MEREKA memang bukan paman dan keponakan, meski sosok di sebelah kanan itu biasa dipanggil Paman, seorang “begawan blog”. Adapun pria di sebelah kiri bukanlah keponakan Paman. Dialah Dony Alfan S, pemilik blog Putra Daerah.
Saya bertemu mereka saat Paman dan bukan keponakan tersebut menghadiri sebuah acara para blogger di Surabaya. Bertemu setelah Paman dan Dony serta beberapa kawan lain —termasuk Blontank— kelar menghadiri acara tersebut. (Saya sendiri tidak hadir).
Kami bertemu akhir November lalu. Tetapi karena berbagai alasan, antara lain kesibukan pekerjaan di kantor —dan terganggu trouble di server dagdigdug— baru hari ini, Sabtu petang, 12 Desember 2009, saya bisa memposting foto mereka, yang bukan paman dan keponakan.
SAYA sedang bekerja di Kota Surabaya, Jawa Timur, ketika tim TRANS7 datang ke warung makan istri saya di Solo, Jawa Tengah, Selasa (20/10/2009) lalu. Karena itulah saya tak bisa bercerita banyak tentang reportase kuliner tim sebuah televisi swasta tersebut di Warung Selat Mbak Lies.
(By the way, ini adalah reportase kuliner ke sekian oleh awak televisi di warung makan kami. Sebelumnya pernah datang, antara lain, tim dari Trans Teve dan Indosiar. Juga, beberapa tim televisi lokal).
Saya tak bisa bercerita banyak; hanya dapat membagi momen tersebut lewat serangkaian foto di bawah ini. Foto-foto jepretan seorang fotografer yang dimintai jasanya oleh istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum a.k.a Lilies.

Pelanggan diwawancarai di teras yang juga menjadi bagian warung kami

Reporter dan kameraman mengincar salah satu sudut warung

Ancang-ancang membuat narasi…

Mulai membuat narasi. Yak, action!

Siap melayani pelanggan, eh, awak TRANS7

Berlagak menjadi pelanggan yang dilayani…

“Para pemirsa, ini lho yang namanya selat-Solo yang lezat. Menu khas Warung Selat Mbak Lies di Serengan Gang II No 42 Solo.”

“Menembak” para pelanggan yang sedang menikmati selat-Solo

“Menembak” salah satu sudut warung di antara para pelanggan

Berfoto bersama tim TRANS7 setelah kegiatan reportase selesai

DUA bulan sudah saya ikut menjadi relawan proyek pembangunan Balai Kerajaan —tempat ibadat Saksi-Saksi Yehuwa— di Kota Surabaya, Jawa Timur. Setiap kali datang ke lokasi proyek, saban Selasa pukul 08.00 WIB-12.00 WIB, saya senantiasa membawa kamera. Setiap pekan saya memotret kegiatan para pengikut Yesus Kristus dalam proyek tersebut, untuk dokumentasi, dan sebagian untuk diposting ke blog ini.
Setelah dua bulan ikut menjadi relawan, Selasa (27/10/2009) siang tadi saya tergoda untuk membuat dokumentasi diri saya sendiri di proyek tersebut. Saya ingin melihat foto muka saya dalam balutan handuk kecil dan kaos putih —cara berlindung agar wajah tak terbakar sengatan panas matahari selama bekerja bak kuli bangunan. Saya minta bantuan Saudara Raharjo, seorang Saksi dari Sidang Tropodo, Surabaya, untuk menjepret saya. Jika Anda jumpa saya, dapatkah Anda kenali wajah saya?!
RUANG rapat kantor saya, Harian Surya, di lantai tiga, penuh sesak, Jumat (16/10/2009) pagi sampai menjelang siang. Kali ini bukan penuh oleh para peserta rapat, atau pelatihan internal, melainkan oleh puluhan mahasiswa dan mahasiswi Univeritas Muhammadiyah Magelang (UMMGL), Jawa Tengah (Jateng).
Mereka didampingi sejumlah dosen. Menempuh perjalanan darat sekitar tujuh jam dari Magelang ke Kota Surabaya, Jawa Timur. Mengunjungi beberapa tempat, antara lain kantor saya, untuk beroleh pengetahuan tentang hal-hal terkait sebuah surat kabar.
Kantor saya, di Jalan Margorejo Indah D-108 Surabaya, memang relatif sering dikunjungi para mahasiswa maupun siswa SMA yang ingin mengetahui persuratkabaran, baik dari Jatim sendiri maupun luar Jatim. Agustus lalu, misalnya, yang berkunjung adalah para mahasiswa Universitas Satya Wacana Salatiga, Jateng.


INI mungkin hal biasa bagi banyak orangtua : mengantar anak potong rambut. Tetapi, bagi saya, termasuk tak biasa. Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena faktor pekerjaan, yang mengharuskan saya lebih sering berada di luar kota daripada di rumah —tepatnya enam hari dalam sepekan.
Yup, enam hari dalam sepekan saya di Kota Surabaya, Jawa Timur, dan hanya sehari (biasanya Kamis) di kota tempat keluarga saya tinggal, di Solo, Jawa Tengah. Waktu sehari pun tak semua untuk urusan keluarga, karena ada kegiatan rutin rohani, beribadat bersama Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Solo Selatan, Kamis petang.
Karena itulah saya jarang bisa mengantarkan anak-anak saya potong rambut. Biasanya, anak lanang ragil saya, Ryan, diantar istri saya. Sedangkan kakak Ryan, Okky a.k.a Opi, bersama temannya, atau diantar salah satu oom-nya.
Hari Minggu (4/10/2009) lalu, saya punya kesempatan mengantar mereka potong rambut. Seusai mengikuti Kebaktian Istimewa Saksi-Saksi Yehuwa di Gedung Pertemuan Mutiara, Jalan Ahmad Yani, kawasan Manahan, Solo, sekitar pukul 16.15 WIB, saya antar Opi ke tukang cukur langganannya, Potong Rambut Pelajar.

SANGAT jarang sekali, warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, buka sampai malam hari. Biasanya, warung di Serengan Gang II/42, Solo, Jawa Tengah, yang buka sejak pukul 09.00 WIB, ini sudah kukut pukul 17.00 WIB.
Maka, tatkala 18 September 2009 lalu —dua hari menjelang Lebaran— ada beberapa pembeli yang menyantap makanan pada malam hari, saya buru-buru memotret mereka. Saat itu menjelang pukul 19.00 WIB. Sesudah mereka pergi, istri saya pun menutup warung makannya.

BEGITULAH adanya : meski palsu tetapi bermanfaat. Ya, itulah jagung, wortel, dan brambang palsu —benda-benda mainan— yang Sabtu (25/4/2009) pagi lalu saya beli di Kota Surabaya, Jawa Timur.
(Seperti biasa, saya beli pernik-pernik seperti itu atas permintaan istri saya. Seperti biasa pula, barang-barang tersebut akan dipakai untuk melengkapi hiasan di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Kota Solo, Jawa Tengah. Menjadi benda-benda yang bermanfaat).
Begitulah adanya : demi pernik-pernik warung makan istri, saya beli benda-benda palsu tetapi bermanfaat itu di Surabaya. Untuk dibawa pulang ke Solo, menempuh jarak hampir 300 km, naik bus patas selama lima jam, Selasa (28/4/2009) malam besok.
Begitulah adanya : semua demi istri tercinta….

SUDAH sangat lama saya tak menikmati menu NSS, nasi goreng sangat sederhana. Itulah nasi goreng masakan sendiri —bukan membeli— yang jika dimasak pada pagi hari biasanya dengan bahan nasi sisa semalam namun bukan nasi basi.
Dulu sekali, ibu saya semasa hidup sering memasak nasi goreng seperti itu. Untuk sarapan kami, anak-anaknya, sebelum berangkat ke sekolah.
Mungkin lebih dari 10 tahun saya tak lagi pernah menyantap nasi goreng sangat sederhana tersebut. Di keluarga saya tak ada kebiasaan menggoreng nasi; kalaupun pengen nasi goreng ya tinggal beli saja di warung makan atau restoran.
Berbeda dengan keluarga salah satu adik saya, yang tinggal di Kampung Slembaran, Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah. Sampai sekarang adik perempuan saya itu masih sering memasak nasi goreng untuk sarapan pagi seisi rumah, termasuk dua anak saya yang ikut tinggal bersama adik saya tersebut.
Pekan lalu, tepatnya hari Rabu (29/4/2009) pagi, saya mampir rumah adik saya. Saya sempat menikmati sarapan berupa nasi goreng sangat sederhana. Mengingatkan saya kepada masakan almarhum ibu saya….
Dulu sekali, ibu saya semasa hidup sering memasak nasi goreng seperti itu. Untuk sarapan kami, anak-anaknya, sebelum berangkat ke sekolah….

AKHIR pekan ini, untuk sebagian orang, memang merupakan long weekend. Maka, tak heran bahwa Stasiun Solo Balapan, Jawa Tengah, misalnya, Sabtu (9/5/2009) pagi, pun dipadati banyak calon penumpang.
Saya termasuk salah satu calon penumpang tersebut. Namun saya bukan orang yang sedang menikmati long weekend; sebaliknya, saya justru harus segera kembali ke Kota Surabaya, Jawa Timur, untuk bekerja setelah libur dua hari.
Long weekend membuat saya tidak nyaman bepergian. Pasalnya, tiket Sepur Sancaka jurusan Solo-Surabaya ludes terjual; yang ada tinggal tiket tanpa tempat duduk. Apa boleh bikin, saya terpaksa membeli tiket tanpa tempat duduk Sancaka di kelas bisnis seharga Rp 65.000. Lanjutkan membaca
DUA pekan lalu, tak seperti biasa, saya harus membayar ongkos bagasi saat naik Bus Patas Eka dari Kota Surabaya, Jawa Timur, ke Kota Solo, Jawa Tengah. Penyebabnya, saya membawa barang berukuran besar, yang memakan tempat dalam ruang bagasi bus tersebut.
(Saya memang sering naik Eka Patas. Setiap Rabu malam saya naik bus bertarif Rp 52.0000 untuk tujuan Surabaya-Solo ini. Setelah pekerjaan di kantor kelar, setiap Rabu sekitar pukul 21.00 WIB saya ke Terminal Bungurasih Surabaya, kemudian naik Eka Patas ke kota tempat keluarga saya tinggal, Solo. Kamis adalah hari libur saya, karena itulah saya berangkat dari Surabaya Rabu malam).

Apa barang yang memakan tempat di ruang bagasi Eka Patas tersebut? Sebuah patung koki pesanan istri saya, yang saya belikan di Surabaya. Patung koki —yang menurut penjualnya diimpor dari China— itu menambah koleksi patung koki yang telah dimiliki istri saya. Lanjutkan membaca

SEMULA saya heran mendengar ada tumbuhan bernama ‘pecut kuda’, karena asing bagi telinga saya. Nama ini saya ketahui dari SMS budhe saya, seorang Saksi-Saksi Yehuwa, yang tinggal di Kota Jakarta.
“Tolong carikan daun pecut kuda. Katanya banyak di Surabaya, dan manjur untuk penyakit radang,” demikian isi SMS budhe saya tersebut.
Ternyata, bukan hanya saya yang nggumun dengan nama tersebut. Beberapa teman sekantor saya di Surabaya —orang-orang yang mukim di Surabaya, bukan orang Solo tapi bekerja di Surabaya seperti saya— ternyata pun tak pernah mendengar nama tanaman tersebut.
Namun, berbeda dengan Paman Google. Dia tidak hanya menjelaskan tentang bentuk dan manfaat tanaman pecut kuda serta tempat-tempat memperolehnya, melainkan juga menyediakan banyak foto tanaman yang punya nama alias jarongan itu. Lanjutkan membaca

KADANG-KADANG saya menjuluki diri saya sendiri sebagai ‘manusia sepur’. Penyebabnya sederhana : saya relatif sering naik sepur. Setiap pekan —biasanya Jumat pagi— saya naik kereta api dari Kota Solo, Jawa Tengah, menuju kota tempat bekerja, Surabaya, Jawa Timur, menempuh jarak sekitar 272 selama kira-kira lima jam.
Selain itu, sesekali jika bepergian ke Yogyakarta saya juga memilih naik sepur, yaitu Prambanan Ekspres (Prameks). Seperti pekan lalu, tatkala saya dan istri “piknik” ke Yogyakarta, sekitar 60 km dari Solo. Kami berangkat Rabu (13/5/2009) petang, dan kembali ke Solo Kamis (14/5) siang.
Prameks menjadi pilihan karena nyaman, dan tempatnya berhenti —Stasiun Tugu— pun sesuai tujuan kami. Turun di Stasiun Tugu, setelah perjalanan sekitar satu jam dari Stasiun Solo Balapan, saya dan istri langsung melanjutkan perjalanan dengan naik becak menuju ke kawasan Malioboro. Ongkosnya tak sampai Rp 10.000.
Tak banyak hal menarik yang bisa saya ceritakan selama di Yogyakarta. Seperti biasa, jika saya dan istri berada di kota ini, kami membeli barang-barang untuk keperluan warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. (Selain itu, setahun dua kali kami juga ke Yogyakarta untuk mengikuti kebaktian wilayah dan kebaktian distrik umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa). Hal pasti, istri saya selalu suka-cita menikmati perjalanan ke Yogyakarta….

LIBUR bekerja sehari dalam sepekan, bagi saya, berarti menjalani kehidupan normal. Pulang ke rumah —ke Kota Solo, Jawa Tengah— bertemu istri dan anak-anak; tak memikirkan pekerjaan sebagai editor sebuah surat kabar di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Mengantar anak ke sekolah pada pagi hari, dan menjemput sepulang sekolah pada siang hari. Mengantar istri berbelanja. Melihat anjing milik simbah istri saya —anjing yang diberi nama Merit— wira-wiri di depan rumah.
Kehidupan nan normal, terutama karena bertemu dan berkumpul dengan keluarga, di Kota Solo. Hanya sehari dalam sepekan, biasanya Kamis. Adapun enam hari lainnya —Jumat siang sampai Rabu malam— menjalani kehidupan tak normal dengan berada di Kota Surabaya, bekerja sekaligus hidup “membujang”.
Kehidupan normal sehari dalam sepekan yang dilengkapi dengan beribadat kepada Allah Yehuwa, dengan berhimpun bersama Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Solo Selatan, setiap Kamis petang. Juga dengan mulai ikut berdinas melayani Allah, memberitakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah, pada Kamis pagi.
Sebuah kehidupan normal sehari dalam sepekan yang, apa boleh bikin, harus tetap disyukuri….

KEGIATAN rutin setiap hari di warung makan istri saya biasa dimulai sekitar pukul 05.00 WIB, meski warung baru buka pukul 10.00 WIB. Para wanita pekerja warung, yang menginap di rumah kami, bangun pukul 05.00, kemudian melakukan aktivitas masing-masing.
Tak terkecuali istri saya. Dia juga bangun pagi-pagi, dan ikut cawe-cawe menyiapkan keperluan warung. Biasanya, istri saya duduk lesehan di teras rumah, kemudian ngeroki buah-buah alpukat, yang akan dipakai sebagai bahan es jus. (Pada pukul 10.00-17.00 WIB, teras rumah kami digunakan untuk tempat lesehan para pelanggan warung istri saya).
Selain lima wanita pekerja warung yang setiap malam menginap di rumah, ada pula seorang pemuda pekerja warung yang juga menginap. Bedanya, pemuda bernama Wawan —berasal dari Kabupaten Boyolali, sekitar 30 km dari Solo, Jawa Tengah— ini tidur di bangunan seberang rumah kami. Bangunan tersebut, setiap pagi sampai menjelang petang, juga difungsikan menjadi salah satu bagian warung makan istri saya. Lanjutkan membaca

BERSAMA enam kawan sekantor —seusai deadline, Senin (15/6/2009) tengah malam— saya ke Jembatan Suramadu, Jawa Timur, yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Madura. Kami bermobil, berangkat sekitar pukul 24.00 WIB.
Tak langsung menuju jembatan yang baru dibuka 10 Juni 2009 lalu tersebut, kami makan dulu di sebuah warung gule kambing di kawasan Ampel, Kota Surabaya. [Usai makan, saya berfoto bersama kawan saya, Achmad Pramudito (kiri)]. Perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan Suramadu.
Tak ada hal penting yang membuat kami tengah malam datang ke sana. Sekadar ingin menjajal jembatan —berupa jalan tol— sepanjang sekitar lima km, yang terbentang di atas laut itu, dan berfoto-foto di ujung jembatan. Juga, sekaligus memanfaatkan kesempatan dari pihak pengelola jembatan, yang menggratiskan tarif tol Suramadu sampai Rabu (17/6/2009) pukul 00.00 WIB.
[Rincian tarif tersebut, untuk sepeda motor (kendaraan golongan VI) Rp 3.000, dan kendaraan (mobil) golongan I Rp 30.000. Adapun mobil golongan II Rp 45.000, golongan III Rp 60.000, golongan IV Rp 75.000, dan golongan V Rp 90.000.]
*

SESEKALI saya membawakan oleh-oleh —berupa makanan— dari kota tempat saya bekerja, Surabaya, Jawa Timur, untuk istri dan anak-anak di Solo, Jawa Tengah. Terakhir kali, beberapa lama lalu, saya bawakan bandeng asap.
Teman-teman sekantor saya bilang bahwa bandeng asap dibuat oleh warga Kabupaten Sidoarjo —kabupaten yang kini terkenal dengan lumpur panas Lapindo itu. Menurut mereka, bandeng asap merupakan makanan khas yang sulit ditemui di tempat-tempat lain.
Merasa ingin menyenangkan keluarga, saya pun membeli bandeng asap di sebuah toko yang agak jauh dari kantor saya. Hanya satu ekor bandeng, karena saya belum tahu apakah istri dan anak-anak senang menyantapnya.
Hari Rabu malam, seperti biasa, saya naik Bus Eka Patas ke Solo —karena Kamis jatah libur bekerja— dan saya bawa bandeng tersebut. Tetapi, setiba di Solo, Kamis, saya baru tahu bahwa saya membeli bandeng asap pada waktu yang tidak tepat : istri saya sedang batuk hebat, bahkan beberapa hari sebelumnya terpaksa ke dokter akibat batuknya itu.
Istri saya tak mau ikut makan bandeng asap yang saya bawakan, karena khawatir batuknya menghebat, dan semakin tak segera sembuh. “Lha wong lagek watuk banget ngene kok ya mbok tukokke bandeng asap, ta… (sedang sakit batuk hebat kok dibelikan bandeng asap),” katanya.
Apa boleh bikin, keinginan saya menyenangkan istri dengan membawakan oleh-oleh —berupa bandeng asap— terpaksa tidak kesampaian. Tetapi saya yakin, next time better….
TIDAK ada yang luar biasa di Sondokoro, jika bagi orang dewasa. Hanya sebuah agrowisata di lingkungan Pabrik Gula (PG) Tasik Madu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Tetapi, tidak demikian bagi anak-anak, terutama yang senang kereta api. Sondokoro bisa menjadi luar biasa. Pasalnya, pihak manajemen Sondokoro menyediakan rangkaian kereta api mini yang ditarik lokomotif uap kuno —buatan Berlin tahun 1908— yang dijalankan dengan bahan bakar berupa kayu bakar

Kereta api mini berlokomotif kuno ini menemani sebuah rangkaian kereta api mini lain yang ditarik lokomotif bermesin diesel. Tentu saja tak hanya dua kereta api mini itu saja yang melengkapi Sondokoro sebagai sebuah agrowisata. Masih ada hal-hal lain yang bisa menyenangkan anak-anak, termasuk fasilitas kolam renang.

Tatkala saya mengantar anak lanang saya, Ryan, ke Sondokoro, pada Rabu (8/7/2009) siang lalu —saat masih liburan sekolah— tempat tersebut dipadati anak-anak, yang ditemani orangtua atau kakak masing-masing. “Kalau hari libur memang ramai seperti ini,” jelas Megantoro, manajer Sondokoro.
Pengamatan saya, kereta api mini berlokomotif uap menjadi favorit anak-anak yang datang. Tak terkecuali anak saya, Ryan. Dia pun minta saya temani naik sepur mini bertarif Rp 6.000 tersebut, yang menempuh perjalanan di dalam PG Tasik Madu selama 25 menit.


Manajemen Sondokoro mengemas perjalanan ini dengan rute bak piknik melewati bagian-bagian penting sebuah pabrik gula. Misalnya, seolah-olah melalui sebuah perkebunan tebu, melewati bangunan pabrik, perumahan karyawan PG Tasik Madu, dan terowongan.


Sepur mini ini melintasi tempat-tempat tersebut dengan berjalan lambat bin pelan —bahkan sangat pelan. “Diadu lari sama aku saja pasti masih lebih cepat lariku,” kata Ryan, kemudian tertawa.

Saking lambatnya perjalanan sepur, tak heran jika jarak yang sebenarnya relatif dekat harus ditempuh selama 25 menit. Begitu kereta api mini ini tiba kembali di ‘stasiun’-nya, dua pemuda mengisikan kayu-kayu bakar ke tungku lokomotif, dan tak lama kemudian sepur pun diberangkatkan lagi….


HARI Minggu (26/7/2009) siang tadi saya (di tempat bekerja, di Kota Surabaya, Jawa Timur) menelepon istri (di rumah kami, di Kota Solo, Jawa Tengah). Ngobrol tentang hal-hal penting maupun tak penting. Selesai menelepon, saya lihat timer di ponsel : saya telah menelepon selama hampir 20 menit.
(Sehari sebelumnya, Sabtu sore, saya menelepon selama 35 menit. Juga berbicara mengenai perkara-perkara penting dan tidak penting. Sedangkan Sabtu pagi kami berhalo-halo sekitar lima menit).
Begitulah cara dan kebiasaan kami menyiasati hubungan long distance alias hubungan jarak jauh Solo-Surabaya yang sudah kami jalani selama hampir lima tahun. Memanfaatkan operator seluler yang menerapkan tarif promosi, kami bisa berbicara relatif lama via ponsel dengan tarif relatif murah pula : Rp 1.000 untuk bicara hingga 10 menit.

TIDAK banyak kota seperti Solo, Jawa Tengah : kota yang memiliki jalur kereta api di tengah kota. Benar, kalau Anda pergi ke Solo, Anda bisa melihat ada rel sepur yang terpasang sejajar dengan jalan protokol Solo —Jalan Slamet Riyadi— di tengah kota.
Tentu saja rel tersebut merupakan rel lama alias rel tua, peninggalan era penjajahan Belanda tahun 1901. Meski rel jadoel, namun rel ini masih dipakai untuk jalan sepur, yaitu Kereta Api Bengawan Wonogiri, yang sering disebut sebagai “kereta feeder Wonogiri”.
Karena rel berada di tengah kota, kadang-kadang terjadi kecelakaan lalu lintas antara sepur yang melintas di atas rel tersebut dengan mobil. Sekian tahun silam, misalnya, mobil yang dikendarai anak Wali Kota Solo tertabrak kereta api itu saat mobil keluar dari rumah dinas wali kota.

GERBONG sepur pengangkut semen ini saya potret di Stasiun Solo Purwosari, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2009) pagi lalu. Tak ada yang istimewa dengan gerbong tersebut. Saya potret gerbong itu hanya karena saya memang ingin memotretnya, saat saya hendak kembali ke Kota Surabaya, Jawa Timur, untuk bekerja. Sekian. Harap maklum. Terimakasih.

ISTRI saya sering gatal tangan jika mengetahui ada barang yang dapat dipakai menghias warung makannya —tak soal barang tersebut mahal atau murah. Dia juga tahu tempat di mana barang-barang tersebut dibeli, dan tak segan memperolehnya meski harus dibeli dari luar Kota Solo, kota tempat keluarga kami tinggal.
Tetapi membeli ke luar kota bukan berarti dia yang mesti ke kota di luar Solo itu. Untuk Kota Surabaya, misalnya, dia tinggal meminta tolong saya, yang menghabiskan banyak waktu untuk bekerja (enam hari dalam sepekan).
Termasuk, ketika istri saya tahu bahwa di kawasan Pantai Kenjeran, Surabaya, dijual banyak barang-barang hiasan yang berasal dari binatang laut. Misalnya keong dan kerang.
Dua pekan lalu, sesuai permintaan istri, saya ke Kenjeran, membeli barang-barang seperti (bekas) keong dan kerang tersebut. Bentuknya bermacam-macam, harganya bervariasi —antara Rp 1.000 sampai Rp 45.000.
Setelah saya bawa pulang ke Solo, benda-benda itu dipasang di berbagai tempat. Sebagian di seputar warung makannya, Warung Selat Mbak Lies; sebagian lagi di dalam rumah, dan sebagian di antaranya di kamar mandi.