PSB Online yang (Sempat) Membuat Stress

Posted in keluarga on Juli 5th, 2008

ciilikjuga-84.JPG

psb-cilik-106.JPG

SEJAK hari Selasa (1/7/2008) siang lalu sampai Sabtu (5/7) dini hari, konsentrasi saya benar-benar kacau. Seraya bekerja di kantor, saya terus-menerus merefresh alamat http://www.ppdbonline-solo.net.

Benar. Seperti halnya ribuan orangtua murid lain dari Solo dan sekitarnya, saya stress karena harus memasukkan anak ke SMP di Solo. Kali ini, anak ragil saya, Ryan, yang mendaftar ke SMP setelah lulus dari SD Kanisus 1 Serengan, Solo. Pengalaman stress serupa saya alami dua tahun lalu, ketika kakak Ryan, Okky alias Opi, mendaftar ke SMP, dan akhirnya diterima di SMPN 3 Solo.

Melalui alamat situs tersebut -–sistem Penerimaan Siswa Baru (PSB) online— saya di Surabaya memantau hasil proses persaingan dan seleksi para calon murid SMP negeri Solo. Persaingan dan seleksi ini dilakukan atas dasar nilai Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN), yang dulu lebih populer dengan nama Nilai Ebtanas Murni (NEM).

Terus terang, saya agak kebat-kebit karena nilai USBN Ryan hanya masuk kategori lumayan, yaitu 22,70, atau rata-rata 7,56 (dibagi tiga mata pelajaran, Matematika, Bahasa Indonesia, dan IPA). Ryan jeblok pada Matematika, hanya memperoleh lima; namun bagus pada Bahasa Indonesia, mendapat nilai sembilan.

Senin (30/6/), atau sehari sebelum pendaftaran, saya menemui beberapa kenalan saya di Solo yang menjadi guru SMP negeri, dan juga bertanya kepada beberapa orang yang punya referensi tentang pendaftaran murid baru. Hasil diskusi, saya memutuskan mendaftarkan Ryan ke SMPN 10 (sebagai pilihan pertama), dan SMPN 22 (pilihan kedua).  Gedung SMPN 22 terletak di Jl Irawan Makam Bergolo, Serengan, tak begitu jauh dengan rumah saya.

Di Solo, setiap pendaftar memang diberi kesempatan mendaftar ke dua SMP negeri dan dua SMP swasta (pilihan satu sampai empat). Untuk pilihan dua SMP swasta, terus terang saya abaikan karena saya yakin Ryan bisa masuk SMP negeri, kalau tidak SMPN 10 ya SMPN 22.

Begitulah, Ryan akhirnya mendaftar ke SMPN 10 dan SMPN 3. Pendaftaran dilakukan oleh adik ipar saya, karena saya sudah harus kembali ke Surabaya untuk bekerja. Tugas saya memantau proses persaingan dan seleksi via internet, sejak Selasa (1/7) sampai berakhir Jumat (4/7) malam, atau paling lambat Sabtu (5/7) dini hari.

Hal itulah yang membuat konsentrasi saya benar-benar kacau. Maka, seraya bekerja di kantor, saya terus-menerus merefresh alamat http://www.ppdbonline-solo.net. Terus terang, saya kecil-hati karena, begitu mendaftar, Ryan sudah masuk peringkat 112. Apalagi, selang beberapa jam, saat saya refresh, peringkatnya semakin menurun, menjadi 125, 126, 152, 158, 176 ….

Pada hari Jumat (4/7) pagi, saya sudah bisa melihat bahwa Ryan pasti tidak diterima di SMPN 10, karena namanya terpental dari daftar seleksi sekolah di Jl Kartini, di sebelah Selatan Pura Mangkunegaran, itu. Di sana, nilai terendah calon siswa yang diterima adalah 23,2 (tertinggi 26,5).

Karena tereliminasi dari SMPN 10, otomatis nama Ryan ganti masuk ke daftar seleksi SMPN 22 sebagai sekolah pilihan kedua. Di sini, nilai Ryan termasuk lumayan. Buktinya, dia langsung bertengger pada nomor urut 41 (dari 212 pendaftar).

Dengan begitu saya optimistis Ryan pasti diterima di SMPN 22. Meski demikian, sampai update data oleh pihak penyelenggara PSB saya perkirakan selesai, Jumat malam, atau Sabtu dini hari, pikiran saya belum plong.

Sampai kemudian, Sabtu sekitar pukul 09.00, saya cek di internet, Ryan berada pada nomor urut 43 (turun dari angka dari sebelumnya). Saya yakin update data sudah berhenti, karena saat Sabtu sore saya refresh lagi berulang-kali, peringkat Ryan tetap tidak berubah.

Sekarang tinggal menunggu pengumuman resmi dari pihak sekolah, Rabu (9/7). Setelah itu daftar ulang, Kamis-Jumat (10-11/7), dan kemudian Ryan akan mulai menjadi murid kelas I SMP….

Menu Andalan Warung Selat Mbak Lies

Posted in ladang-hidup on Juli 4th, 2008

trans1-menu17.JPG

Semangkuk es buah, dan seporsi selat-galantin. Segar, dan lezat….

Dua Buku Baru. Yang Satu untuk Kaum Muda

Posted in Saksi-Saksi Yehuwa on Juli 3rd, 2008

buku15.JPG

KOLEKSI buku saya bertambah dua judul, akhir Juni 2008 lalu. Dua buku ini adalah Pertanyaan Kaum Muda, Jawaban yang Praktis, Jilid 2, dan Tetaplah Berada dalam Kasih Allah.

Semuanya buku rohani, memang. Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa, dan saya peroleh saat ikut Kebaktian Distrik 2008 Saksi-Saksi Yehuwa di Auditorium UPN Yogyakarta, Jumat-Minggu (27-29/6/2008) lalu.

Buku Kaum Muda Jilid 2 bermanfaat bagi kalangan muda. Isinya, antara lain, pembahasan tentang lawan jenis, sahabat, sekolah dan teman-teman, keuangan, rekreasi, dan pertumbuhan rohani.

Adapun Tetaplah Berada dalam Kasih Allah merupakan buku yang ditujukan Saksi-Saksi Yehuwa kepada para peminat pelajaran Alkitab. Buku ini digunakan untuk bahan pelajaran setelah seorang peminat –-seperti saya—  selesai mempelajari Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan?

Tetaplah Berada dalam Kasih Allah menggantikan Buku Sembahlah Satu-satunya Allah yang Benar, yang diterbitkan pertama kali pada 2002. Selama ini, para peminat belajar Sembahlah sesudah rampung Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? Saya akan mempelajari Buku Kasih Allah mulai pekan depan, setelah Rabu (2/7/2008) saya tuntas mempelajari Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan?. Buku ini saya pelajari setiap pekan sejak sekitar 1,5 tahun lalu di Solo dan Surabaya, setelah saya mengenal kebenaran dari Saksi-Saksi Yehuwa.

Warung Selat Tayang Trans 7 dan Indosiar

Posted in ladang-hidup on Juni 21st, 2008

warung219jpg.JPG

HARI Jumat pagi, 13 Juni 2008. Warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, belum lagi dibuka karena belum pukul 09.00 WIB. Rumah kami gaduh. Istri saya meminta saya segera menyalakan televisi. Apa pasal? Ternyata, baru saja salah seorang pekerja part time alias pekerja pocokan warung menelepon dari rumahnya, mengabarkan bahwa Trans 7 akan menayangkan Warung Selat Mbak Lies.

Rupanya, mbak pekerja pocokan itu meneruskan kabar dari tetangganya, yang beberapa lama lalu juga pernah menjadi pekerja pocokan di warung istri saya. Mbak-bekas-pekerja-pocokan tersebut melihat pemberitahuan sang penyiar di Trans 7 bahwa setelah siaran iklan akan ditayangkan features tentang warung selat istri saya. Reporter Trans 7 beberapa hari sebelumnya memang datang ke warung sekaligus rumah kami di Serengan Gang II/42, Solo.

Benar juga. Tak lama kemudian, muncul tayangan tersebut, antara lain berupa narasi dan suasana warung. Ada pula wawancara dengan seorang ibu pelanggan warung yang sedang menyantap selat, dan wawancara dengan istri saya, Wulandari Kusmadyaningrum alias Lilies.

lilis215.JPG

Rumah kami gaduh lagi. Istri saya tersipu-sipu menyaksikan wajahnya sendiri dalam layar televisi; beberapa mbak pekerja warung yang ikut melihat tayangan juga tertawa saat melihat wajah mereka sendiri, atau temannya, muncul di layar televisi meski hanya sekilas.

Begitulah sihir televisi. Meski hanya tayangan pendek, namun mampu membuat heboh seisi rumah. Apalagi, sejumlah teman maupun kerabat kami, yang  menyaksikan di rumah masing-masing, mengabarkan kepada istri saya bahwa mereka baru saja menyaksikan Warung Selat Mbak Lies di televisi.

Bahkan siang hari, ada beberapa pembeli di warung istri saya yang mengaku datang makan gara-gara menonton tayangan tersebut. “Saya bukan orang Solo; tadi saya lihat di televisi, kemudian jadi pengen ke sini,” kata seorang ibu berpakaian modis, yang datang mengendarai taksi bersama seorang temannya sesama perempuan berusia lebih muda.

warung115jpg.JPG

Begitulah sihir dan magnet televisi, saudara-saudari. Saya, yang kebetulan mengambil libur hari Jumat –-biasanya saya libur Kamis, dan tiba di Solo dari Surabaya Kamis dini hari— ikut menyaksikan kegaduhan akibat sihir televisi tersebut di rumah kami.

(Beberapa hari setelah tayangan Trans 7 itu, Indosiar juga menayangkan Warung Selat Mbak Lies. Hanya, baik istri saya di Solo maupun saya di Surabaya tidak sempat menyaksikan tayangan itu. Istri saya diberi tahu beberapa temannya yang melihat tayangan di Indosiar).

warung15.JPG

Sesi 11 Versus Mengantar Anak Outbond

Posted in keluarga on Juni 17th, 2008

 outbond-pemandangan-kolam14.JPG

HARI Sabtu (14/6/2008) pagi lalu seharusnya saya mengikuti sesi 11 pelatihan kepemimpinan ala Dale Carnegie Course di Hotel Elmi Surabaya, Jatim. Namun, pada saat yang sama, saya juga mesti mengantar anak ragil saya, Ryan, outbound ke Agrowisata Amanah di Karangpandan, Karanganyar, Jateng.

Sesi 11 versus mengantar anak outbond, menang yang mana? Saya putuskan mengantar Ryan, yang mengikuti outbond sekaligus perpisahan dengan 29 teman sekolahnya dari kelas VI SD Kanisius 1 Serengan, Solo, pascaujian beberapa waktu lalu. Saya tak tega melepas dia tanpa pengawasan, karena istri saya tidak bisa menemani Ryan lantaran repot mengurus warung selatnya.

outbond-susu15.JPG

Semua peserta outbond diantar orangtua masing-masing; sebagian ayah, mayoritas ibu, dan sebagian kecil ayah-ibu lengkap. Ikut pula sebagian guru SD Kanisius 1 Serengan. Rombongan start dari sekolah naik bus pariwisata.

15q.JPG

Berangkat sekira pukul 07.25 WIB, kami perlu waktu 70 menit (satu jam 10 menit) untuk tiba di Agrowisata Amanah. Letak lokasi areal outbond ini di kawasan pegunungan di dekat Tawangmangu, yang terkenal sebagai daerah wisata berhawa dingin.

outbond-ikan15.JPG

Ryan dan 29 teman sekelasnya outbond dipandu oleh tiga instruktur muda, salah satunya pemuda bernama Wiranto, dengan nama panggilan Wiro. Kegiatan ini dimulai dengan praktik pembuatan roti, yang dilengkapi pula dengan kunjungan ke pabrik roti di salah satu bangunan di Agrowisata Amanah.

outbond-ryan-kali20.JPG

Setelah itu, 21 siswa dan sembilan siswi tersebut mengikuti serangkaian kegiatan lain, termasuk nyemplung sungai dan menangkapi ikan-ikan yang sengaja dilepas oleh para instruktur. Mereka juga menyusuri persawahan.

Ryan tampak sangat menimati semua rangkaian kegiatan outbond tersebut, terutama yang di luar ruangan seperti masuk sungai. “Aku sudah dipotret, yah?” tanyanya ketika saya mendekat ke sungai tempat Ryan dan kawan-kawan nyebur mencari ikan-ikan yang dilepas Wiro.

18.JPG

Menjelang penutupan kegiatan, saat 30 siswa-siswi dikumpulkan dalam sebuah ruangan untuk mengikuti upacara penutupan, turun hujan deras. Untunglah, tatkala acara berakhir, pukul 15.25 WIB, hujan telah reda. Kami pun meninggalkan Agrowisata Amanah, dan pukul 16.45 WIB tiba kembali di sekolah, kemudian berpencar pulang ke rumah masing-masing.

Biaya Transportasi Naik. Saya Tetap Bersyukur…

Posted in perjalanan on Juni 16th, 2008

karcis-bus25.JPG

KARENA saya bekerja di Surabaya, sedangkan keluarga tinggal di Solo, maka biaya yang harus saya keluarkan setiap pekan untuk pulang ke Solo semakin besar setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Jumat malam, 23 Mei 2008 lalu. Saya biasa libur Kamis; berangkat dari Surabaya Rabu malam naik bus patas, berangkat kembali ke Surabaya Jumat pagi menumpang Sepur Sancaka kelas bisnis.

Kini saya harus keluar uang Rp 131.000 setiap pekan, untuk ongkos jalan Surabaya-Solo pulang-pergi. Total uang sebesar itu untuk bayar biaya angkutan kota dua kali (dari kantor ke Terminal Bungurasih Surabaya), bus patas Surabaya-Solo, ojek dari Terminal Tirtonadi ke rumah; tiket Sepur Sancaka Solo Balapan-Surabaya Gubeng, dan angkutan kota dua kali lagi (dari Gubeng ke kantor).

Adapun sebelum harga BBM naik, saya keluar ongkos Rp 115.500 untuk pulang-pergi Surabaya-Solo setiap pekan. Berarti kenaikan harga BBM –-yang menurut pemerintah bertujuan jangka panjang untuk kesejahteraan rakyat—- ini menambah beban saya Rp 15.500 setiap pekan hanya untuk biaya transportasi menengok keluarga.

Sepekan Rp 15.500 maka sebulan berarti Rp 62.000, setahun berarti Rp 744.000, dan seterusnya, dan seterusnya. Angka ini bisa meningkat lagi jika PT Kereta Api (Persero) juga ikut-ikutan menaikkan tarif, mengikuti kenaikan yang sudah dilakukan oleh para pengusaha angkutan umum darat sehari setelah harga BBM mundhak.

karcis-sepur19.JPG

Saya yakin, kenaikan tarif tiket sepur hanya soal waktu. Karena itulah saya harus siap –-meski sebenarnya terpaksa—- merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos transportasi dari Surabaya ke Solo demi menengok anak-anak dan istri. Belum lagi biaya lain-lain seperti uang saku anak-anak dan biaya hidup sehari-hari….

Meski begitu, saya tetap bersyukur, sebagaimana terucap dalam doa saya setiap pagi dan malam kepada Allah Yehuwa. Karena, meski ada kenaikan harga BBM, sejauh ini saya toh masih tetap bisa rutin pulang ke Solo setiap pekan. Saya tidak sampai menjadwal ulang kepulangan, misalnya menjadi setiap dua pekan.

Dibanding saya, masih banyak orang lain yang lebih menjadi korban kenaikan harga BBM. Kesejahteraan mereka –-dalam jangka pendek maupun jangka panjang—- pasti merosot. Padahal, menurut pemerintah, kenaikan harga BBM bertujuan jangka panjang untuk kesejahteraan rakyat….

Renang, Makan, Kenyang, Senang

Posted in keluarga on Juni 12th, 2008

renang-lagi141.JPG

SELALU ada kebahagiaan dan kesenangan tersendiri jika bisa mengantar dan menemani anak-anak bermain. Misalnya pergi berenang sepuasnya, kemudian makan bakso sampai kenyang.

Perasaan itu pula yang saya rasakan Jumat (6/6/2008) siang lalu. Kala itu, saya mengantar dua anak saya, Opi dan Ryan, berenang ke Gelanggang Olah Raga (GOR) Bengawan, di kawasan Pucangsawit, Jebres, Solo.

Ryan, yang beberapa hari lalu selesai ujian kelas VI SD, sudah tak masuk sekolah karena sedang llibur panjang menunggu pengumuman ujian alias kelulusan. Karena itu, sejak Jumat pagi dia sudah mengingatkan bahwa saya telah berjanji mengantarnya berenang.

Saya sengaja menunggu agak siang. Soalnya kakak Ryan, Opi –-nama lengkapnya : Okky Surya Setyapamungkas— belum pulang, masih sekolah. Opi duduk di kelas II SMPN III Solo, di sebelah selatan Pura Mangkunegaran.

Sekira pukul 11.00 WIB, saya boncengkan Ryan menjemput Opi di sekolah. Kemudian, kami langsung ke GOR Bengawan.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan dari kolam renang bertarif Rp 3.500 pada hari Jumat itu. Saya ikut nyebur ke kolam, menemani Opi dan Ryan berenang –-tepatnya : bermain air— di bagian kolam sedalam tak sampai semeter.

Tak sampai satu jam Opi ternyata sudah merasa bosan, kemudian keluar dari kolam renang. “Dingin,” kata Opi beralasan.

Adapun Ryan masih suka-cita menikmati kebebasannya bermain air dan “berenang-renangan”. Sekitar pukul 13.30 WIB –-berarti dia sudah bermain di air hampir dua jam— saya minta Ryan naik dari kolam renang untuk bilas. Setelah itu kami pulang.

opi-ryan-bakso-tomat-13.JPG

opi-ryan-bakso-tomat1-13jpg.JPG

Kami tak langsung kembali ke rumah karena Ryan mengaku lapar, dan ingin makan ‘bakso tomat’ di sebuah rumah makan di kawasan Tipes. Saya larikan sepeda motor ke sana. Setelah mereka kenyang menikmati masing-masing semangkok bakso, barulah kami pulang ke rumah.

Esuk paginya, Sabtu (7/6/2008), saya berkesempatan menunggui Opi sarapan bersama salah seorang keponakan saya, Jibran Sobron. Jibran adalah murid kelas II SDN I Kemasan, Solo.

opi-jibran-sarapan-13.JPG

Sehari kemudian, Minggu (8/6/2008) pagi, saya naik Sepur Sancaka kembali ke Surabaya untuk bekerja selama enam hari. Hari Kamis (12/6) besuk saya akan pulang lagi ke Solo untuk libur rutin sehari, dan berharap merasakan kebahagiaan tersendiri lagi dari mengantar dan menemani anak-anak bermain.

Serasa Reuni di ‘Depot Sate Bu Pri’

Posted in sahabat on Juni 9th, 2008

 sate-mbakar13.JPG

SUDAH agak lama  saya mendengar kabar bahwa Mas Suprihadi –-mantan Redpel Harian Surya— membuka rumah makan setelah dia memilih pensiun dini dari Surya. Bersama istrinya, yang juga mantan karyawati Surya, Mbak Dina, Mas Sup berjualan sate ayam dan sate kambing.

Mantan pimpinan saya di Surya itu menempati Jl Bratang Wetan Nomor 2, Surabaya, sebagai lokasi rumah makannya. Saya baru tahu alamat lengkap ‘Depot Bu Pri’ tersebut saat datang ke sana, Senin (2/6/2008) siang lalu. Sebelumnya saya hanya mendengar bahwa Mas Sup dan Mbak Dina membuka rumah makan sate di kawasan Bratang.

sateporsi13.JPG

Saya tak datang sendirian kala itu, melainkan dengan beberapa teman kantor, seusai rapat rutin redaksi. Kami bersama-sama ke sana “dipandu” –-kata lain untuk ditraktir, hehehe— oleh Mas Tatang Suherman, Wakil Redpel Warta Kota yang sejak sekitar empat bulan lalu di-BKO-kan dari Jakarta ke Surya di Surabaya.

‘Depot Bu Pri’ menyajikan sate ayam dan sate kambing serta gule kambing yang khas, karena tanpa lemak dan zonder monosodium glutamate (MSG) alias moto. Mas Sup dan Mbak Dina, yang dibantu dua karyawan, juga mengandalkan minuman kopi bermerk Purwaceng.

sate-kopi-13.JPG

Senin siang itu kami makan enak bin nikmat beramai-ramai, sambil serasa bereuni dengan Mas Sup dan Bu Pri, eh, Mbak Dina. Meski tak sempat ngobrol lama dan panjang-lebar –-karena kami harus segera kembali ke kantor—- saya merasa senang karena bisa bersua dengan dua mantan senior saya yang kini berwiraswasta sebagai pengusaha restoran itu.

sate-151.JPG

Apalagi, tiga hari kemudian, Kamis (5/6), Mas Sup mengirim SMS ke saya. Karena mengira saya di Surabaya, Mas Sup menawarkan, jika saya mau pulang ke Solo —libur rutin menengok keluarga— saya boleh nebeng Mas Sup yang mau ke Salatiga (atau Semarang?) naik mobil sendirian, hari Sabtu. Sayang, ketika itu saya justru sudah di rumah, di Solo, karena jadwal libur rutin saya memang setiap Kamis. Maka, kami pun tak bisa bermobil bersama….

Foto-foto : Dodo HW, Redaktur Foto Surya. 

Yu Bibit Tak Lagi Mengasuh Anak Lanang Saya…

Posted in keluarga on Mei 30th, 2008

EMPAT BELAS tahun bukan waktu yang pendek. Selama itulah Yu Bibit menjadi pembantu keluarga besar saya, di Solo. Pekerjaannya berakhir setelah dia pulang ke rumahnya, di sebuah desa di Kabupaten Wonogiri, Minggu (25/5/2008) pagi lalu.

Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Setelah 14 tahun merawat anak lanang saya, Okky Surya Setyapamungkas a.k.a Opi –kini kelas II SMPN 3 Solo— Yu Bibit terpaksa pulang ke Wonogiri. Terpaksa, karena dia sebenarnya masih kerasan ikut keluarga saya di Solo tapi harus merawat simbok dan mbokdenya di desa, yang sakit-sakitan karena usia tua.

bibit-kabeh-23.JPG

Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itulah Yu Bibit menjadi salah satu saksi hidup sejarah keluarga besar saya, maupun sejarah keluarga saya. Sejarah yang manis, juga yang pahit. Komplet.

Empat belas tahun bukan waktu yang pendek. Meski buta huruf, Yu Bibit ingat persis selama itulah dia menjadi pembantu di keluarga besar saya. Yu Bibit punya penanda sederhana : empat hari setelah dia mulai ndherek keluarga besar saya, Opi lahir. Karena sekarang Opi sudah berusia 14 tahun, berarti selama itulah Yu Bibit menjadi pembantu kami….

Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Sepanjang waktu itu, sebagai wartawan Surya saya telah tiga kali berpindah kota –-Solo, Jakarta, dan Surabaya— sementara Yu Bibit setia menemani keluarga saya di Kampung Slembaran, Serengan, Solo. Sampai kemudian, 25 Mei lalu, dia terpaksa mudik selamanya, ke rumahnya di Suwangon RT 03 RW 01, Belik Jaten, Bakalan, Purwantoro, Wonogiri, sekitar 50 km dari Solo.

jibran-opi-bibit-23.JPG

Empat belas tahun itu bukan waktu pendek. Selama itulah Opi diopeni Yu Bibit. Sejak bayi, sampai kini menjadi ABG jangkung -–tinggi badannya melebihi tinggi badan saya— yang hobi bermain futsal sepulang sekolah. Yu Bibit setia, sabar dan telaten merawat Opi sejak bayi, kemudian menjadi Opi kecil yang baru bisa tidur jika memegangi telinga Yu Bibit, hingga Opi kini menjadi ABG yang sudah meninggalkan kebiasaan tidur sambil memegangi kuping orang lain.

Empat belas tahun itu waktu yang lama. Maka, tentu saja bukan hanya Opi yang diurusi Yu Bibit selama waktu itu, melainkan juga kakaknya, anak mbarep saya, Ariani Setyowati a.ka. Aik, yang kini semester VI di Diploma III Jurusan Periklanan Fisipol UNS Solo. Juga, keponakan saya, Jibran Sobron, yang sekarang kelas II SDN Kemasan Solo. Mereka ikut mengantar Yu Bibit saat pulang ke rumahnya, 25 Mei lalu…

aik-bibit-26.jpg

Kegilaan di Sesi Sembilan

Posted in pelatihan kepemimpinan on Mei 26th, 2008

BEBERAPA teman saya sesama peserta pelatihan kepemimpinan dasar (Fundamental Leadership Program) The Dale Carnegie Course berkomentar begini saat ikut sesi sembilan, Sabtu (24/5) pagi lalu. “Wah, kita diajari jadi orang gila.”
andar-13-12.JPG

Sebuah komentar yang wajar. Pasalnya, pada sesi ini, khususnya Sesi 9B –setelah break pukul 10.00 WIB– semua peserta memang dilatih seperti orang” gila”. Tepatnya, kami dilatih mengatasi rasa malu akan diri sendiri, dan menjadi orang yang lebih fleksibel. Istilah halus dari “berani malu”,  atau “tidak tahu malu”, hehehehe.

indah-13-12.JPG

fadil-13-12.JPG

Maka, selama sekitar dua jam, mulai pukul 10.00 WIB sampai pelatihan usai pukul 12.00-an, kami diminta oleh tim trainer maju satu-persatu maju ke depan kelas, melakukan latihan “berani malu”. Masing-masing peserta pun tampil, dipaksa semakin keluar dari comfort zone.

cewek-13-12.JPG

hery-13-12.JPG

Meski kami sudah lebih dari dua bulan berkumpul setiap Sabtu pukul 08.00-12.00 WIB, dan telah bersama-sama menjalani beberapa latihan agar keluar dari zone nyaman, namun latihan pada sesi sembilan ini benar-benar luar biasa “gila”-nya. Sayang, saya tak bisa cerita detail di sini, karena menurut saya “kegilaan” kala itu tak bisa digambarkan dengan kata-kata….

berty-13-12.JPG

vio-13-12.JPG

(Yang jelas, sepanjang latihan Sesi 9B di Hotel Elmi Surabaya ini, kami semua terpingkal-pingkal, saling teriak, dan melontarkan ledekan. Benar-benar sesuai dengan tujuan Sesi 9B yang dipatok para trainer –Esti Hidayati Josep dan kawan-kawan—- agar kami ikut serta dalam suatu aktivitas yang dirancang untuk memberikan kebebasan baru dalam mengekspresikan diri.)