muara hidup dan cinta kami

Setelah Yogya, Kini Kebaktian Distrik Surabaya

persiapan-distrik-sby-selat

SESUDAH di Yogyakarta, pekan lalu, kini Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) “Tetaplah Berjaga-jaga!” diselenggarakan di Surabaya, Jawa Timur. Kebaktian para pengikut Yesus Kristus ini berlangsung Jumat (3/7/2009) sampai Minggu (5/7), di Supermall Surabaya Convention Center (SSCC), Pakuwon Trade Center (PTC), Jl Lontar.

Saksi-Saksi, yang merupakan penyembah Yehuwa (nama pribadi Allah, Red),  sangat serius mempersiapkan “pesta rohani” tahunan ini. Tak heran bahwa sepanjang Kamis (2/7) banyak Saksi berada di SSCC PTC beramai-ramai mempersiapkan kebaktian yang dipastikan dihadiri sekitar 3.000 hadirin —-termasuk para hadirin non-Saksi— tersebut.

Membantu yang Kurang Sehat di Kebaktian Distrik

pppk-edi

SAAT Kebaktian Distrik Saksi-Saksi Yehuwa di Yogyakarta, setiap tahun, selalu saja ada hadirin yang merasa kurang sehat. Maklum, sebagian besar hadirin —Saksi maupun non-Saksi— datang dari luar Yogyakarta, bahkan ada yang menempuh perjalanan sejauh sekitar 100 km.

Pun demikian tatkala Kebaktian Distrik 2009 “Tetaplah Berjaga-jaga!” pada Jumat-Minggu (26/6/2009-28/6/2009) lalu.  Karena itulah, selalu diperlukan juga petugas Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) untuk membantu mereka yang kebetulan tidak sehat. Salah satunya adalah Saudara Eddy Cahyono.

Saksi dari Sidang Solo Selatan, Jawa Tengah, tersebut memang layak ditempatkan di bagian P3K. Pasalnya, bapak dua anak itu sehari-hari mengelola sebuah apotek —seraya aktif berdinas memberitakan kabar baik tentang Kerajaan Allah.  Saudara Cahyono tersenyum saat saya jepret sedang  menyerahkan obat kepada seorang saudara peserta kebaktian.

Suka-Cita Tiga Hari Mendekat Yehuwa di Yogyakarta

lempuyangan

HARI Jumat (26/6/2009) pagi, sekitar pukul 06.20 WIB, saya bersama istri dan dua anak lanang saya —Opi dan Ryan— meninggalkan rumah. Kami naik taksi, menuju Stasiun Solo Balapan.  Kemudian, pukul 06.55 WIB, mengendarai Kereta Api Prameks ke Yogyakarta, sejauh sekitar 60 km.

Lebih-kurang 60 menit kemudian kami turun di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta.  Setelah itu, kami mencari taksi, menuju Auditorium UPN Veteran, Jl Ring Road Utara.

Begitulah “ritual” pagi yang kami jalani selama tiga hari, sampai Minggu (28/6/2009). Kami datang ke Auditorium UPN untuk mengikuti Kebaktian Distrik 2009 Saksi-Saksi Yehuwa (SSY), bertema ‘Tetaplah Berjaga-jaga!”

Kebaktian berlangsung sejak pagi sampai sore, mulai pukul 09.20 WIB hingga 16.55 WIB. Adapun “ritual” sore adalah, dari Auditorium UPN naik taksi ke arah Stasiun Tugu Yogyakarta, kemudian naik Prameks menuju Stasiun Purwosari Solo, dan kembali naik taksi ke rumah sekaligus warung makan kami di Kampung Serengan Gang II/42 Solo, Jawa Tengah (Jateng).

Kebaktian Distrik merupakan rutin rohani tahunan bagi kami.  Sebuah “pesta rohani”, di mana kami beribadat sekaligus bergaul dengan ribuan warga Saksi maupun non-Saksi dari kawasan Yogyakarta dan Jateng. Jumlah hadirin ini mencapai puncaknya pada Minggu (30/6) siang, tercatat 2.736 orang.

baptis-untuk-warung-selat

Selain diisi serangkaian khotbah berdasar ayat-ayat Alkitab, kebaktian yang diselenggarakan oleh para pengikut Yesus Kristus ini juga dilengkapi dengan pembaptisan 42 anggota baru Saksi-Saksi Yehuwa.

“Pembaptisan adalah lambang pembaktian kepada Yehuwa (nama pribadi Allah, Red). Saksi-Saksi memandang pembaptisan sebagai langkah sangat penting untuk memperoleh perkenan Allah, dan akhirnya selamat melewati akhir dunia,” ujar Suwahyono, Bagian Pelayanan Berita Kebaktian Distrik Yogyakarta.

kd-jogja2009-lagi

Secara keseluruhan, Kebaktian Distrik 2009  diselenggarakan Saksi-Saksi Yehuwa di 27 kota se-Indonesia. Melalui kebaktian ini, Saksi-Saksi Yehuwa antara lain mengingatkan pentingnya perintah Yesus dalam Matius 24:42 dan Markus 13:37, agar murid-muridnya ’tetap berjaga-jaga’.

Usai Kerja: Larut Malam di Sebuah Sudut Surabaya

ampel-pra-oke1

BERSAMA enam kawan sekantor —seusai deadline, Senin (15/6/2009) tengah malam— saya ke Jembatan Suramadu, Jawa Timur, yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Madura. Kami bermobil, berangkat sekitar pukul 24.00 WIB.

Tak langsung menuju jembatan yang baru dibuka 10 Juni 2009 lalu tersebut, kami makan dulu di sebuah warung gule kambing di kawasan Ampel, Kota Surabaya.  [Usai makan, saya berfoto bersama kawan saya, Achmad Pramudito (kiri)].  Perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan ke Jembatan Suramadu.

Tak ada hal penting yang membuat kami tengah malam datang ke sana. Sekadar ingin menjajal jembatan —berupa jalan tol—  sepanjang sekitar lima km, yang terbentang di atas laut itu, dan berfoto-foto di ujung jembatan. Juga, sekaligus memanfaatkan kesempatan dari pihak pengelola jembatan, yang menggratiskan tarif tol Suramadu sampai Rabu (17/6/2009) pukul 00.00 WIB.

[Rincian tarif tersebut, untuk sepeda motor (kendaraan golongan VI) Rp 3.000, dan kendaraan (mobil) golongan I Rp 30.000. Adapun mobil golongan II Rp 45.000, golongan III Rp 60.000, golongan IV Rp 75.000, dan golongan V Rp 90.000.]

*

Bersama PW yang Senang Nyanyi Saat Bersantai

pw-gitaran

pw-ny-gitaran

pw-sdr-sdri-ambil-makan

pw-sdr-sdri-makan

pw-di-rumah

SAUDARA T Samosir, pengawas wilayah (PW) Jawa 09 Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia, kembali mengunjung sidang kami, Sidang Solo Selatan,  Jawa Tengah. Pekan Kunjungan PW ini berlangsung pada 9-14 Juni 2009 lalu.

Pada Kamis (11/6) pagi sampai siang saya dinas-pengabaran bersama Saudara Samosir ke Daleman, Kelurahan Jetis, Baki, Kabupaten Sukoharjo. Kami berangkat bersama Saudara Edi Cahyono dan Saudara Poniman Pronosuharjo, dua Saksi dari Sidang Solo Selatan.

Seusai berdinas memberitakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah, Saudara dan Saudari Samosir bersama beberapa saudara dan saudari dari Sidang Solo Selatan menikmati makan siang di rumah kami. Kemudian, Kamis malam, setelah Pelajaran Alkitab Sidang (PAS), saya dan keluarga ikut menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan oleh keluarga Saudara Cahyono untuk Saudara dan Saudari Samosir.

Selesai menyantap makan malam —dalam suasana santai— Saudara Samosir “menghibur” kami. Dia bermain gitar dan menyanyikan sejumlah lagu, termasuk Lagu Bengawan Solo….

Palsu Tapi Bermanfaat. Belinya Pun di Luar Kota

jagungdkk-yes1

BEGITULAH adanya : meski palsu tetapi bermanfaat. Ya, itulah jagung, wortel, dan brambang palsu —benda-benda mainan— yang Sabtu (25/4/2009) pagi lalu saya beli di ‘Café Gelas’ di Kota Surabaya, Jawa Timur.

(Seperti biasa, saya beli pernik-pernik seperti itu atas permintaan istri saya. Seperti biasa pula, barang-barang tersebut akan dipakai untuk melengkapi hiasan di warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Kota Solo, Jawa Tengah. Menjadi benda-benda yang bermanfaat).

Begitulah adanya : demi pernik-pernik warung makan istri, saya beli benda-benda palsu tetapi bermanfaat itu di Surabaya. Untuk dibawa pulang ke Solo, menempuh jarak hampir 300 km, naik bus patas selama lima jam, Selasa (28/4/2009) malam besok.

Begitulah adanya : semua  demi istri tercinta….

Sarapan Nasi Goreng Kenangan

nasgor-masa-lalu

SUDAH sangat lama saya tak menikmati menu NSS, nasi goreng sangat sederhana. Itulah nasi goreng masakan sendiri —bukan membeli— yang jika dimasak pada pagi hari biasanya dengan bahan nasi sisa semalam namun bukan nasi basi.

Dulu sekali, ibu saya semasa hidup sering memasak nasi goreng seperti itu. Untuk sarapan kami, anak-anaknya, sebelum berangkat ke sekolah.

Mungkin lebih dari 10 tahun saya tak lagi pernah menyantap nasi goreng sangat sederhana tersebut. Di keluarga saya  tak ada kebiasaan menggoreng nasi; kalaupun pengen nasi goreng ya tinggal beli saja di warung makan atau restoran.

Berbeda dengan keluarga salah satu adik saya, yang  tinggal di Kampung Slembaran, Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah. Sampai sekarang adik perempuan saya itu masih sering memasak nasi goreng untuk sarapan pagi  seisi rumah, termasuk dua anak saya yang ikut tinggal bersama adik saya tersebut.

Pekan lalu, tepatnya hari Rabu (29/4/2009) pagi, saya mampir rumah adik saya. Saya sempat menikmati sarapan berupa nasi goreng sangat sederhana.  Mengingatkan saya kepada masakan almarhum ibu saya….

Dulu sekali, ibu saya semasa hidup sering memasak nasi goreng seperti itu. Untuk sarapan kami, anak-anaknya, sebelum berangkat ke sekolah….

Habis Unas Segera Terbit Tahun Ajaran Baru

BANYAK anak sekolah merasa terbebani oleh kegiatan sekolah nan berjibun —termasuk pekerjaan rumah (PR)— sehingga menjadi stres. Di pihak lain, tak sedikit orang tua juga cukup terkuras energinya karena memikirkan pendidikan anak-anak mereka, terutama jika menghadapi tahun ajaran baru seperti sekarang.

Saya termasuk salah satu orang tua yang menghadapi masalah tahun ajaran baru. Anak nomor dua saya, Okky a.k.a Opi, baru saja mengikuti Ujian Nasional (Unas) SMP, dan segera masuk ke SMA. Dalam waktu dekat saya akan mencarikan sekolah untuk Opi, dengan pilihan pertama SMA negeri di kota tempat tinggal kami, Solo, Jawa Tengah.

sedarlah-mei-oke

Meski berusaha mencarikan pendidikan yang terbaik untuk anak, saya tak mau ngoyo, sampai kemudian stres. Caranya, antara lain, dengan memegang pernyataan psikolog Amerika Serikat, Madeline Levine, penulis Buku The Prica of Privilege, “Bahwa uang, pendidikan, kekuasaan, prestise, dan barang-barang materi tidak memberikan perlindungan terhadap ketidakbahagiaan atau penyakit emosi.”   Read the rest of this entry »

Long Weekend, Tak Nyaman Bepergian

kolong-kursi-sancaka-sepi

AKHIR pekan ini, untuk sebagian orang, memang merupakan long weekend. Maka, tak heran bahwa Stasiun Solo Balapan, Jawa Tengah, misalnya, Sabtu (9/5/2009) pagi, pun dipadati banyak calon penumpang.

Saya termasuk salah satu calon penumpang tersebut. Namun saya bukan orang yang sedang menikmati long weekend; sebaliknya, saya justru harus segera kembali ke Kota Surabaya, Jawa Timur, untuk bekerja setelah libur dua hari.

Long weekend membuat saya tidak nyaman bepergian. Pasalnya, tiket Sepur Sancaka jurusan Solo-Surabaya ludes terjual; yang ada tinggal tiket tanpa tempat duduk. Apa boleh bikin, saya terpaksa membeli tiket tanpa tempat duduk Sancaka di kelas bisnis seharga Rp 65.000. Read the rest of this entry »

Patung-patung Koki Koleksi Istri

DUA pekan lalu, tak seperti biasa, saya harus membayar ongkos bagasi saat naik Bus Patas Eka dari Kota Surabaya, Jawa Timur, ke Kota Solo, Jawa Tengah. Penyebabnya, saya membawa barang berukuran besar, yang memakan tempat dalam ruang bagasi bus tersebut.

(Saya memang sering naik Eka Patas.  Setiap Rabu malam saya naik bus bertarif  Rp 52.0000 untuk tujuan Surabaya-Solo ini.  Setelah pekerjaan di kantor kelar, setiap Rabu sekitar pukul 21.00 WIB saya ke Terminal Bungurasih Surabaya, kemudian naik Eka Patas ke kota tempat keluarga saya tinggal,  Solo. Kamis adalah hari libur saya, karena itulah saya berangkat dari Surabaya Rabu malam).

koki-lagi-sip

Apa barang yang memakan tempat di ruang bagasi Eka Patas tersebut? Sebuah patung koki pesanan istri saya, yang saya belikan dari Café Gelas di Surabaya. Patung koki —yang menurut penjualnya diimpor dari China— itu menambah koleksi patung koki yang telah dimiliki istri saya. Read the rest of this entry »

Pecut Kuda. Berkhasiat, Kata Budhe Saya

pecut-kuda-asli1

SEMULA saya  heran  mendengar   ada tumbuhan  bernama  ‘pecut kuda’, karena asing bagi telinga saya.  Nama ini saya ketahui dari SMS budhe saya, seorang Saksi-Saksi Yehuwa, yang tinggal  di Kota Jakarta.

“Tolong carikan daun pecut kuda. Katanya banyak di Surabaya, dan manjur untuk penyakit radang,” demikian isi SMS budhe saya tersebut.

Ternyata, bukan hanya saya yang nggumun dengan nama tersebut. Beberapa teman sekantor saya di Surabaya —orang-orang yang mukim di Surabaya, bukan orang Solo tapi bekerja di Surabaya seperti saya— ternyata pun tak pernah mendengar nama tanaman tersebut.

Namun, berbeda dengan Paman Google. Dia tidak hanya menjelaskan tentang bentuk dan manfaat tanaman pecut kuda serta tempat-tempat memperolehnya, melainkan juga menyediakan banyak foto tanaman yang punya nama alias jarongan itu. Read the rest of this entry »

Terus Mengabar. Bahkan Saat di Stasiun…

mama-ngabar-tugu-jogya1

SALAH satu kebiasaan istri saya, bila bepergian keluar kota, adalah membawa berbagai risalah terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia. Demikian pula ketika kami berdua pergi ke Yogyakarta, Rabu (13/5/2009) malam sampai Kamis (14/5/2009) siang lalu.

Tatkala menunggu Kereta Api Prameks yang akan membawa kami dari Stasiun Yogyakarta Tugu ke Stasiun Solo Balapan, Kamis (14/5) siang, istri saya menyempatkan diri memanfaatkan jasa pijat refleksi menggunakan kursi. Peranti ini berada di peron bagian utara.

Seraya menikmati pijatan pada bagian kaki, istri saya mengajak mengobrol operator mesin pijat itu, seorang pemuda bernama Apri. Tak hanya menanyakan tentang hal-hal terkait mesin pijat, dia —sebagai umat Kristen— juga mengajak Apri bicara mengenai hal-hal rohani.

Saat itulah dia menggunakan alat bantu berupa risalah terbitan Saksi-Saksi Yehuwa Indonesia. Istri saya memilih risalah berjudul “Semua Penderitaan Segera Hilang”. Sekitar 15 menit dia berbincang-bincang dengan Apri —mengabarkan berita baik tentang Kerajaan Allah—  sampai kemudian terdengar pengumuman dari petugas Stasiun Tugu bahwa Prameks segera diberangkatkan pukul 11.15 WIB.

Istri saya pun berpamitan kepada Apri. Setelah itu, kami berdua masuk ke Prameks. Kemudian, menempuh perjalanan sekitar 60 menit ke kota kami, Kota Solo, sambil membawa beberapa barang yang diberi istri saya di Pasar Beringharjo dan Toko Mirota Batik, yang akan dipakai istri saya untuk hiasan warung makannya, Warung Selat Mbak Lies.

Masih Kurang Apa Lagi?

alkitab-ajarkan430

HARI Minggu (17/5/2009) mulai pukul 07.00 WIB sampai menjelang pukul 09.00 WIB berhimpun bersama Saksi-Saksi Yehuwa dan para peminat pelajaran Alkitab, di Sidang Wonokromo Surabaya, Jawa Timur. Sarapan nasi soto ayam setelah selesai berhimpun, bersama Saudara Suwito dari Sidang Wonokromo.

Perut kenyang.  Bersama Saudara Suwito naik sepeda motor meluncur ke daerah Rungkut, Surabaya, ikut memandu pelajaran Alkitab menggunakan Buku Apa yang Sebenarnya Alkitab Ajarkan? Menjelang pukul 12.00 WIB meninggalkan Rungkut, menuju ke kantor, menyiapkan pekerjaan untuk Minggu sore hingga malam.

Jadi, apa lagi yang masih kurang? (Layak dan pantas bersyukur kepada Allah Yehuwa atas segala berkat-Nya!)

‘Manusia Sepur’ Naik Prambanan Ekspres

manusia-sepur-prameks

KADANG-KADANG saya menjuluki diri saya sendiri sebagai ‘manusia sepur’. Penyebabnya sederhana : saya relatif sering naik sepur. Setiap pekan —biasanya Jumat pagi— saya naik kereta api dari Kota Solo, Jawa Tengah, menuju kota tempat bekerja, Surabaya, Jawa Timur, menempuh jarak sekitar 272 selama kira-kira lima jam.

Selain itu, sesekali jika bepergian ke Yogyakarta  saya juga memilih naik sepur, yaitu Prambanan Ekspres (Prameks). Seperti pekan lalu, tatkala saya dan istri “piknik” ke Yogyakarta, sekitar 60 km dari Solo. Kami berangkat Rabu (13/5/2009) petang, dan kembali ke Solo Kamis (14/5) siang.

Prameks menjadi pilihan karena nyaman, dan tempatnya berhenti —Stasiun Tugu— pun sesuai tujuan kami. Turun di Stasiun Tugu, setelah perjalanan sekitar satu jam dari Stasiun Solo Balapan, saya dan istri langsung melanjutkan perjalanan dengan naik becak menuju ke kawasan Malioboro. Ongkosnya tak sampai Rp 10.000.

Tak banyak hal menarik yang bisa saya ceritakan selama di Yogyakarta. Seperti biasa, jika saya dan istri berada di kota ini, kami membeli barang-barang untuk keperluan warung makan istri saya, Warung Selat Mbak Lies. (Selain itu, setahun dua kali kami juga ke Yogyakarta untuk mengikuti kebaktian wilayah dan kebaktian distrik umat Kristen Saksi-Saksi Yehuwa). Hal pasti,  istri saya selalu suka-cita menikmati perjalanan ke Yogyakarta….

Libur Bekerja Berarti Hidup Normal…

merit

LIBUR bekerja sehari dalam sepekan, bagi saya, berarti menjalani kehidupan normal. Pulang ke rumah —ke Kota Solo, Jawa Tengah— bertemu istri dan anak-anak; tak memikirkan pekerjaan sebagai editor sebuah surat kabar di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Mengantar anak ke sekolah pada pagi hari, dan menjemput sepulang sekolah pada siang hari. Mengantar istri berbelanja. Melihat anjing milik simbah istri saya —anjing yang diberi nama Merit— wira-wiri di depan rumah.

Kehidupan nan normal, terutama karena bertemu dan berkumpul dengan keluarga, di Kota Solo. Hanya sehari dalam sepekan, biasanya Kamis. Adapun enam hari lainnya —Jumat siang sampai Rabu malam— menjalani kehidupan tak normal dengan berada di Kota Surabaya, bekerja sekaligus hidup “membujang”.

Kehidupan normal sehari dalam sepekan yang dilengkapi dengan beribadat kepada Allah Yehuwa, dengan berhimpun bersama Saksi-Saksi Yehuwa di Sidang Solo Selatan, setiap Kamis petang. Juga dengan mulai ikut berdinas melayani Allah,  memberitakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah, pada Kamis pagi.

Sebuah kehidupan normal sehari dalam sepekan yang, apa boleh bikin, harus tetap disyukuri….

Saya Kembali Bertugas Membacakan ‘Keluaran’

keluaran-37-oke

AKHIR Mei, tepatnya Kamis petang, 28 Mei 2009 besok, saya kembali memperoleh tugas dalam Sekolah Pelayanan Teokratis (SPT) di Sidang Saksi-Saksi Yehuwa Solo Selatan, di Kaliwingko, Solo Baru, Jawa Tengah. Kali ini saya akan membacakan Kitab Keluaran Pasal 37 ayat satu sampai 24.

Ini merupakan tugas pembacaan Alkitab kedua bagi saya, yang mengikuti SPT sejak 5 Februari 2009 lalu. Tugas pertama, sekitar dua bulan lalu, Kamis, 2 April 2009, saya membaca Keluaran Pasal satu ayat satu sampai 19.

Seperti biasa, jadwal seperti itu sudah disampaikan sudah cukup lama. Seperti biasa pula, saya pun cukup lama menyiapkan diri. Saya berharap —dan berusaha keras— agar cara pembacaan saya lebih baik daripada saat memperoleh tugas pertama….

Rutinitas Setiap Pagi di Warung Istri

wawan-berkebun

KEGIATAN rutin setiap hari di warung makan istri saya biasa dimulai sekitar pukul 05.00 WIB, meski warung baru buka pukul 10.00 WIB. Para wanita pekerja warung, yang menginap di rumah kami, bangun pukul 05.00, kemudian melakukan aktivitas masing-masing.

Tak terkecuali istri saya. Dia juga bangun pagi-pagi, dan ikut cawe-cawe menyiapkan keperluan warung. Biasanya, istri saya duduk lesehan di teras rumah, kemudian ngeroki buah-buah alpukat, yang akan dipakai sebagai bahan es jus. (Pada pukul 10.00-17.00 WIB, teras rumah kami digunakan untuk tempat lesehan para pelanggan warung istri saya).

Selain lima wanita pekerja warung yang setiap malam menginap di rumah, ada pula seorang pemuda pekerja warung yang juga menginap. Bedanya, pemuda bernama Wawan —berasal dari Kabupaten Boyolali, sekitar 30 km dari Solo, Jawa Tengah— ini tidur di bangunan seberang rumah kami. Bangunan tersebut, setiap pagi sampai menjelang petang, juga difungsikan menjadi salah satu bagian warung makan istri saya. Read the rest of this entry »

Ayo, Hadiri Kebaktian Distrik di Yogyakarta!

undangan-kebaktian-distrik-kecil

SETIAP tahun Saksi-Saksi Yehuwa menyelenggarakan Kebaktian Distrik, yang dipusatkan di beberapa kota. Salah satunya, di Kota Yogyakarta. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Kebaktian Distrik di Yogyakarta tahun 2009 ini akan diselenggarakan di Auditorium Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jl Ring Road Utara.

Kegiatan rohani para pengikut Yesus Kristus tersebut akan berlangsung selama tiga hari, Jumat (26/6/2009) sampai dengan Minggu (28/6/2009), pagi hingga sore. Kebaktian tanpa dipungut biaya maupun kolekte ini bertema “Tetaplah Berjaga-jaga”, sesuai instruksi Yesus yang dicatat dalam Alkitab, yaitu Injil Markus 13:37.

Sidang jemaat Saksi-Saksi Yehuwa senang mengundang Anda ke kebaktian tersebut. Ada banyak pokok bahasan yang akan diulas, antara lain, ‘Tetaplah Sadar sebagai Keluarga Kristen’, ‘Ketahuilah bahwa Akhir itu Sudah Dekat’, ‘Tirulah Teladan Yesus dalam Hal Berjaga-jaga’, dan ‘Nantikanlah Hari Yehuwa (Tuhan, Red) dan tetaplah Berjaga-jaga’.

Dibawa ke Surabaya untuk Dinas kepada Yehuwa

yt-lagi

SEPEDA motor saya, yang fotonya saya tempel di atas ini,  punya ‘riwayat hidup’ unik. Baru beberapa hari dia saya pakai di Kota Surabaya, Jawa Timur —setelah sebelumnya dia relatif lama berada di Jakarta dan di Solo, Jawa Tengah.

Saya beli Yamaha YT 115 itu dengan sistem kredit dari kantor, ketika saya ditempatkan di Jakarta, 10 tahun silam, tepatnya Februari 1999.  Karena kantor pusat saya di Surabaya, maka —kala itu— motor tersebut dikirim dari Surabaya ke Jakarta.

Sesudah sekitar dua tahun saya pakai, saya putuskan mengirim sepeda motor yang ketika itu bernilai sekitar Rp 11 juta tersebut dari Jakarta ke Kota Solo, ke kota tempat tinggal keluarga saya. Saya pinjamkan kepada kakak laki-laki, yang tidak memiliki sepeda motor.

Read the rest of this entry »

Puisi Pertama Karya Manusia…

adam1

INILAH akhirnya tulang dari tulangku
Dan daging dari dagingku
Dia akan disebut Wanita
Karena dari pria dia diambil *)

*)  Kata-kata pertama Adam —manusia pertama— seperti dicatat dalam  Alkitab, yaitu dalam Kejadian 2: 23

« Previous Entries